Demi Kemenangan, Ada Caleg Meminta Bantuan ke Paranormal

Bahkan di masa Pemilu 2019.
Praktisi supranatural Semarang, Mbah Bedjo dengan sejumlah benda pusaka dan sesajennya. Pelaku supranatural itu mengaku punya langganan caleg yang minta bantuan linuwihnya. (Foto: Tagar/Agus Joko Mulyono)

Semarang, (Tagar 14/2/2019) - Segala cara dilakukan calon legislatif (caleg) agar bisa lolos dan duduk di kursi lembaga wakil rakyat. Tidak ketinggalan di masa Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 kali ini.

Beragam ihtiar, meski itu harus menanggalkan akal sehat tetap dilakoni. Salah satunya dengan mendatangi kalangan supranatural untuk minta jasa dan bantuan gaibnya.

Di Jawa, khususnya Jawa Tengah, orang linuwih atau punya kemampuan lebih ini biasa disebut dukun. Jika dialihbasahasakan ke Bahasa Indonesia dapat dianonimkan dengan paranormal.

Dan pergi ke dukun bagi masyarakat Jawa Tengah adalah hal jamak. Tidak hanya di momen pemilu saja, hampir seluruh kegiatan masyarakat tidak lepas dari aroma spiritual.

Mulai dari pernikahan, pindah dan jual rumah, melancarkan usaha, mendapatkan proyek maupun menggaet rekanan bisnis, cari kerja atau jodoh, bahkan ingin lulus ujian sekolah, kerap menggunakan jasa paranormal.

Tidak heran jika di even kegiatan yang sangat bergengsi semacam pemilu, banyak caleg melakukan kebiasaan tersebut. Dalihnya pun beragam. Namun yang pasti mereka ingin mendapat suara banyak dan bisa lolos menjadi legislator.

Suwito, satu caleg di Jawa Tengah tidak menampik nuansa perdukunan kental di kalangan caleg di masa Pemilu 2019. Apalagi di masa kampanye sekarang. "Bukan hal yang mengagetkan," ujar dia kepada Tagar News, Rabu (13/2).

Ilustrasi caleg dukunIlustrasi caleg ke dukun atau paranormal. (Foto: Tagar/Rully Yaqin)

Caleg yang biasa disapa Totok ini punya pengalaman mengantar koleganya datang ke orang pintar. Tidak lebih minta restu atau doa dari orang yang diyakini punya kedekatan lebih ke Maha Kuasa itu.

"Saya pernah diminta tolong teman caleg, dari partai lain, mengantar ke orang pintar di Gunungpati. Di sana tidak melakukan ritual tapi hanya berdoa saja," kata caleg DPRD Jateng daerah pemilihan (Dapil) Jateng 2 ini.

Bagi caleg berlatarbelakang parpol keagamaan ini, pilihan minta bantuan ke paranormal diserahkan ke pribadi masing-masing. Totok sendiri lebih yakin untuk usaha dan doa sendiri sembari menyerahkan hasil akhir pada keputusan Tuhan.  

"Saya tidak pernah ke dukun, paranormal atau sebutan lainnya maupun melakukan ritual-ritual tertentu. Tapi kalau ditanya ada atau tidak caleg ke dukun, saya jawab ada. Karena memang saya pernah mengantar teman caleg," tegas dia.

Munculnya fenomena caleg ke paranormal diyakinkan praktisi supranatural Semarang, Mbah Bedjo (56). Tidak hanya caleg, banyak pejabat setingkat kepala desa, camat hingga gubernur dan presiden tak lepas dari bantuan gaib metafisika paranormal.

Pria bernama asli Nuryanto ini paham hal tersebut lantaran dirinya adalah pelaku. Ia sudah menggarap dan mengawal secara gaib sejumlah pejabat penting daerah maupun pusat sejak era 1980-an.

"Banyak yang melakukan itu, presiden pernah, menteri sudah lebih dari tiga," aku dia.

Di Pemilu 2019, khususnya ajang pemilihan legislatif (Pileg), Mbah Bedjo mengaku tidak kurang 50 caleg minta bantuan atas daya linuwih yang dimilikinya. "Ada yang datang ke sini (rumah) atau saya datang ke tempatnya atau ketemu di hotel," ujar pria yang membuka praktik jasa supranatural di rumahnya di kawasan Pedurungan itu.

Para caleg tersebut mayoritas dari Jawa Tengah, beragam tingkatan mulai DPRD Kabupaten/Kota, tingkat Provinsi sampai DPR RI. "Kalau yang dari Jawa Tengah, sudah paham saya. Mereka lintas bendera," kata dia. 

Sejumlah caleg dari luar provinsi, pun luar pulau, juga banyak yang minta diisi. "Lintas provinsi juga ada, malah ada yang dari luar pulau seperti dari Makassar dan Palembang. Kalau yang Makassar itu caleg DPRD Provinsi," sambung dia.

Mereka juga minta ditemani saat mendatangi (makam) leluhur, ke makam-makam orang besar negeri ini. "Kalau tidak berharap mendapat wahyu raja mau ngapain? Kalau ada pejabat atau caleg yang tidak mengakui, itu munafik," cetus dia.

Soal kemunafikan tersebut, Mbah Bedjo tidak mau ambil pusing. "Ke sana kemari ke paranormal, bilangnya tidak. Padahal kemarin (ritual) mandi bareng," tutur dia tersenyum. Ia juga tak menyoal jika mendapat perlakuan habis manis sepah dibuang dari caleg kliennya yang telah sukses.

"Setelah pada jalan, saya ditinggal, rata-rata seperti itu. Ya biasa saja seperti orang Jawa, ya matur nuwun (terima kasih). Piye, wis dadi enak?  Ya, matur nuwun," urainya.

Bagi Mbah Bedjo apa yang dilakukannya bukan untuk dirinya. Segala konsekuensi atas perilaku caleg akan kembali ke pribadi caleg tersebut. "Bukan saya kemudian kecewa karena itu bukan untuk saya. Ibarat mendorong gerobak mogok, saya sebatas membantu, kalau sudah bisa jalan ya monggo, matur nuwun," tukas dia.

Berita terkait
0
Permintaan Risma Kepada ASN Kemensos di Hari Lahir Pancasila
Mensos minta semua teman-teman di lingkungan Kemensos menegakkan integritas. Bayangkan bila kita salah mengetik angka bisa merugikan negara.