UNTUK INDONESIA
Darurat Corona, Apa yang Terjadi Setelah Rapid Test
Rapid test untuk memutus rantai penyebaran virus corona SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. Apa yang terjadi setelah seseorang menjalani rapid test?
Petugas medis mengecek kesehatannya dengan mengambil sampel darah dengan metode rapid test (pemeriksaan cepat) di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, Jawa Barat, Rabu, 25 Maret 2020. Pemeriksaan yang dilakukan khusus tenaga medis di Bekasi guna memutus mata rantai penyebaran virus COVID-19. (Foto: Antara/Fakhri Hermansyah)

Jakarta - Rapid test atau tes cepat bukan untuk memeriksa virus corona SARS-CoV-2 penyebab penyakit Covid-19. Rapid test untuk memeriksa keadaan antibodi dalam tubuh seseorang. Alat ini akan mengindikasikan keadaan antibodi yang berfluktuasi apabila ada virus atau kuman masuk ke dalam tubuh.

Tentang SARS-CoV-2 baca selengkapnya dalam artikel berjudul Cara Virus Corona SARS-CoV-2 Merusak Tubuh Manusia.

Berikut kemungkinan yang akan terjadi setelah menjalani rapid test.

Kelompok Orang Tanpa Gejala (OTG)

  • Apabila hasil negatif, perlu karantina mandiri, periksa ulang hari ke-10.
  • Apabila hasil positif, karantina mandiri, periksa RT PCR dua kali dalam dua hari berturut-turut.

Kelompok Orang Dalam Pemantauan (ODP)

  • Apabila hasil negatif, perlu karantina mandiri, periksa ulang hari ke-10.
  • Apabila hasil positif, karantina mandiri, periksa RT PCR dua kali dalam dua hari berturut-turut.

Kelompok Pasien Dalam Pengawasan (PDP)

  • Apabila hasil negatif, perlu karantina mandiri, periksa ulang hari ke-10.
  • Apabila hasil positif, karantina mandiri, periksa RT PCR dua kali dalam dua hari berturut-turut.

Perbedaan Penanganan 

  • Apabila disertai gejala ringan, isolasi mandiri
  • Disertai gejala sedang, isolasi di rumah sakit darurat Covid-19
  • Disertai gejala berat, isolasi di rumah sakit rujukan Covid-19

Rapid TestRapid Test

Presiden Jokowi menekankan rapid test diprioritaskan bagi para dokter dan paramedis beserta keluarga. Karena mereka rentan terpapar virus corona SARS-CoV-2. Yang juga harus diprioritaskan adalah kelompok orang dalam pemantauan dan pasien dalam pengawasan beserta keluarga.

"Juga para ODP (orang dalam pemantauan) dan PDP (pasien dalam pengawasan) serta keluarganya. Ini yang harus didahulukan," ujar Jokowi dalam telekonferensi di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa, 24 Maret 2020.

Jokowi memerintahkan rapid test dilakukan dengan cakupan wilayah lebih luas untuk mendeteksi secara dini apakah seseorang terpapar virus corona SARS-CoV-2 penyebab penyakit Covid-19.

Saat ini hampir di seluruh negara di dunia telah ditemukan kasus pandemi virus corona SARS-CoV-2 penyebab penyakit Covid-19. Sebanyak 186 negara melaporkan warganya terinfeksi virus berbahaya dari China itu.

Indonesia menempuh kebijakan social distancing, menjaga jarak sosial. Anak-anak sekolah belajar di rumah. Pegawai negeri dan swasta bekerja di rumah. Acara-acara kelompok di ruang publik ditiadakan. Pemerintah membeli alat kesehatan dan obat-obatan di China. Termasuk melakukan rapid test. Semua dalam rangka memutus rantai penyebaran virus corona SARS-CoV-2 penyebab penyakit Covid-19. []  

Baca juga:

Berita terkait
Rapid Test Covid-19 Jabar Prioritas di Zona Merah
Pempov Jabar lakukan rapid test Covid-19 massal hari pertama mulai di RSHS Bandung yang merupakan zona merah atau berada di ring 1
Rapid Test, Khofifah Utamakan Dokter dan Perawat
Rapid Test untuk dokter, perawat, PDP, dan keluarganya akan dilakukan setelah Pemprov mendapat bantuan dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.
Dinkes Banten Distribusikan 5 Ribu Unit Rapid Test
Dinkes Banten telah mendistribusikan 5.000 unit APD berupa baju cover all ke seluruh dinas kesehatan kabupaten/kota serta rumah sakit umum.
0
Darurat Corona, Apa yang Terjadi Setelah Rapid Test
Rapid test untuk memutus rantai penyebaran virus corona SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. Apa yang terjadi setelah seseorang menjalani rapid test?