UNTUK INDONESIA
Dani dan Empat Suku di Papua
Sampai saat ini masih banyak suku pedalaman yang hidup di Papua maupun seluruh Indonesia yang tersebar dari ujung Sabang sampai Merauke.
Buah merah (Pandanus conoideus). (Foto: wikimedia)

Jakarta - Lebih dari seribu suku bangsa ada di Indonesia dan tersebar dari ujung Sabang sampai Merauke. Selain suku-suku besar yang sudah dikenal, Indonesia masih memiliki banyak suku asli yang tinggal di pedalaman Indonesia.

Misalnya di Papua, wilayah Indonesia Timur ini nyatanya memiliki beragam suku. Berikut Tagar merangkumkan dari berbagai sumber:

1. Suku Asmat

Suku AsmatSuku Asmat salah satu suku di Papua.(foto:istimewa)

Suku Asmat adalah suku terbesar dan yang paling terkenal di antara sekian banyaknya suku di Papua.  Suku yang terkenal dengan hasil ukiran kayu tradisional yang khas dan unik ini terbagi dua, ada yang tinggal di pesisir pantai dan yang tinggal di pedalaman.

Kedua populasi suku ini berbeda satu sama lain dalam hal logat, yaitu suku Bisman yang berada di antara sungai Sinesty dan sungai Nin, serta suku Simai.

Biasanya suku Asmat ini memakai beberapa motif bertema nenek moyang mereka, yang seringkali digunakan menjadi ornamen daripada ukiran kayu atau patung. Mereka menyebutnya dengan mbis.

Selain itu, simbol perahu arwah pun dibentuk menyerupai perahu atau wuramon yang dipercayai membawa nenek moyang mereka di alam kematian. Seni ukir kayu merupakan sebuah wujud dari cara suku tersebut, melakukan ritual untuk mengenang arwah para leluhurnya.

2. Suku Amungme

Suku AmungmeSalah satu suku yang ada di Papua.

Suku Amungme merupakan salah satu suku Papua yang unik. Suku yang tinggal di dataran tinggi Papua ini melakukan aktivitas pertaniannya dengan cara berpindah-pindah. Selain bertani, mereka juga berburu dan meramu.

Amungme sangat terikat dengan tanah leluhurnya, sehingga menjadikan pegunungan sekitarnya adalah tempat yang disucikan.

Gunung penambangan emas dan tembaga oleh PT. Freeport merupakan gunung suci yang di agung-agungkan oleh masyarakat Amungme, dengan nama puncak Nemangkawi di Puncak Jaya.

Nemang artinya panah dan kawi artinya suci. Nemang Kawi artinya panah yang suci (bebas perang) perdamaian. Wilayah Amungme pun sebut dengan Amungsa.

3. Suku Dani

Suku DaniSuku Dani hidup di Papua.(foto:istimewa)

Suku ini merupakan salah satu suku yang mendiami wilayah Pegunungan Tengah, Papua, Indonesia dan keseluruhan Kabupaten Jayawijaya, serta sebagian kabupaten Puncak Jaya.

Suku ini tinggal di rumah honai dan menggantungkan hidup dengan cara bercocok tanam sayur mayur. Hasilnya, mereka jual ke pasar.

Di zaman modern sekarang ini, diantara mereka masih banyak yang menggunakan koteka sebagai penutup kemaluan pria. Sementara, untuk wanita menggunakan pakaian wah yang terbuat dari rerumputan atau serat.

4. Suku Korowai

Suku korowaiSuku Korowai salah satu suku yang ada di Papua.(foto:istimewa)

Suku Korowai ini baru ditemukan keberadaannya sekitar 30 tahun yang lalu di pedalaman Papua. Populasnya mencapai 3.000 orang. Suku terasing ini hidup di rumah yang dibangun di atas pohon yang disebut Rumah Tinggi. Ketinggian rumah itu hingga 50 meter dari permukaan tanah.

Suku tersebut sampai saat ini masih menggunakan koteka untuk menutupi alat kelamin pria. Hingga tahun 1970, suku Korowai tidak mengenal orang lain, selain kelompok mereka sendiri. 

5. Suku Muyu

Suku MuyuSuku Muyu yang hidup di Papua.(foto:istimewa)

Suku Muyu adalah salah satu suku asli papua yang hidup dan berkembang di Kabupaten Boven Digoel. Mereka dianggap sebagai suku pedalaman yang pintar. Sehingga, sukun ini menduduki posisi penting dalam struktur birokrasi Boven Digoel, Karena sekitar 45 persen Suku Muyu menjadi PNS.

Nenek moyang Suku Muyu, dulunya tinggal di daerah sekitar sungai Muyu yang terletak di sebelah timur laut Merauke.

Selain dikenal hemat, suku ini juga terkenal pekerja keras dan menghargai pendidikan. Uniknya lagi, suku ini mengaku bahwa mereka adalah manusia sesungguhnya dengan istilah Kati.[]

Berita terkait
Kondisi Terkini Manokwari Setelah Kerusuhan Papua
Manokwari mencekam pada Senin 19 Agustus 2019. Massa memblokir jalan dan membakar Gedung DPRD. Bagaimana kondisinya saat ini?
Warga Papua di Manokwari Masih Trauma
Wakil Gubernur Papua Barat Mohamad Lakotan mengatakan kondisi warga masih trauma, setelah peristiwa kericuhan yang terjadi di Manokwari.
Senjata Rakitan dan 34 Pelaku Kerusuhan Timika Ditahan
Pasca-kericuhan pecah di Timika, polisi mengamankan senjata rakitan dan menahan 34 orang diduga pelaku kerusuhan.
0
Relawan Sebut Menteri Jokowi Belum Cerminkan Nawacita
Bagi kelompok relawan nama-nama menteri yang sudah dipanggil belum memenuhi kriteria khususnya visi Nawacita.