UNTUK INDONESIA
Dampak Corona Bagi Pelaku UMKM di Bantaeng
Wabah virus Corona berdampak besar bagi para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Bantaeng. Ini alasannya.
Saparuddin, Kepala Unit Pelayanan Teknis Daerah Pusat Layanan Usaha Terpadu (UPTD PLUT) KUMKM Dinas Koperasi UMKM dan Perdagangan Bantaeng saat dijumpai di kantornya, Rabu, 22 Juli 2020. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Bantaeng - Wabah virus Corona berdampak besar bagi para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Bantaeng, Sulawesi Selatan. Pasalnya, berbagai batasan membuat para pelaku UMKM ini kehilangan pasar. Seperti jumlah produksi UMKM yang terpaksa ditekan lantaran harga jual bahan baku yang ikut meroket.

"Memang banyak UKM kita yang terpukul akibat Corona. Seperti dari aspek pasar dan suplai bahan baku," kata Saparuddin, Kepala Unit Pelayanan Teknis Daerah Pusat Layanan Usaha Terpadu (UPTD PLUT) KUMKM Dinas Koperasi UMKM dan Perdagangan Bantaeng saat dijumpai di kantornya, Rabu, 22 Juli 2020.

Dia menjelaskan, biasanya para pelaku UMKM yang didampinginya, yakni minuman jahe, biasanya membeli bahan baku hanya berkisar Rp 25.000 hingga Rp 40 ribu per kilogram, namun saat ini bahan baku minuman seduh itu bisa mencapai kisaran Rp 100 ribu.

Memang banyak UKM kita yang terpukul akibat Corona. Seperti dari aspek pasar dan suplai bahan baku.

"Olehnya itu semua sektor pelaku usaha kecil terkena dampak Corona. Meski demikian tetap ada produksi, tapi dengan jumlah yang tidak seberapa banyak," kata Sapar, sapaan akrabnya.

Baca juga:

Beruntung beberapa UKM melakukan promosi lewat daring. Sudah ada yang bekerja sama dengan penyedia jasa kurir lokal yang sudah punya jaringan pemasaran. Meski begitu, perilaku konsumtif masyarakat tak seperti sebelum wabah Covid-19 menyerang.

Sapar juga menyebut, sejauh ini ada 100 UKM yang didampingi UPTD PLUT UMKM Bantaeng. 100 unit usaha ini sudah terseleksi, hanya mereka yang ingin kembangkan usahanya.

"Jangka waktu pendampingan, tiap setahun kita evaluasi, kalau sudah bisa mandiri kita tidak mendampingi lagi dengan intens, paling kami dampingi sekali dua kali dalam sebulan," jelas Sapar.

Disebutkan pula bahwa pada tahun 2019 kemarin, setidaknya ada 120 UKM yang dilakukan verifikasi oleh UPTD PLUT ini, hanya saja terseleksi sampai 60-an pelaku usaha.

"Karena dilihat dari minat, produk yang dihasilkan dan perkembangan UKM. Karena ada UKM yang sudah puas dengan kondisinya sekarang, tapi ada juga yang mau mengembangkan usahanya lagi," kata dia.

Seperti pada standarisasi produksi, kata Sapar, tak bisa dipungkiri bahwa terkadang masih ada perubahan rasa.

"Kita terus coba arahkan penggunaan bahan, komposisi, resep dan lain-lainnya, supaya ada standar rasa yang bisa dipatenkan," kata dia.

Sejauh ini, pelaku usaha yang bisa naik kelas maksimal hanya lima UKM saja. Mereka ini sudah bisa menembus pasar hingga ke mini market.

Sebab mini market sendiri punya standar mulai dari sertifikasi, kemasan, hingga pasaran. Makanya tak semua UKM bisa lolos dipasarkan di mini market.

"Ada beberapa naik kelas yang penjualannya sudah masuk di Alfa Mart meski baru seputaran Bantaeng kota, seperti produk kopi, olahan minuman jahe, kripik pisang," katanya. []

Berita terkait
Ops Patuh Polres Bantaeng Sasar Pengendara Tak Bermasker
Operasi (Ops) Patuh 2020 satuan lalu lintas Polres Bantaeng bakal digelar mulai besok, Kamis, 23 Juli 2020. Ini tujuannya.
Solusi Pemerintah Bantaeng Soal Pupuk Langka
Akibat pupuk langka, petani di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan ikut berdemo di depan kantor Bupati Bantaeng.
Pupuk Langka, Warga Demo di Kantor Bupati Bantaeng
Akibat pupuk langka, sejumlah warga berunjuk rasa di depan kantor Bupati Bantaeng di Kelurahan Lembang, Kecamatan Bantaeng.
0
Kemenparekraf Dukung Pelaksanaan Pameran Furniture 2020
Kemenparekraf mendukung pelaksanaan pameran sebagai ajang untuk membangkitkan semangat pengusaha mebel dan kerajinan tangan terdampak covid-19.