UNTUK INDONESIA
Cuaca Ekstrem dan Muram di Kampung Nelayan Tegal
Musim angin baratan dan sedimentasi sungai jadi musuh para nelayan tradisional di Tegal, Jawa Tengah.
Kapal-kapal nelayan berukuran di atas 30 GT bersandar di Pelabuhan Tegalsari, Kota Tegal karena cuaca buruk. (Foto: Tagar/Farid Firdaus)

Tegal - Cuaca ekstrem di perairan adalah kendala utama para nelayan tradisional melaut. Nelayan di Tegal, Jawa Tengah misalnya, hanya bisa berharap musim angin baratan segera berlalu. Mereka mengandalkan utang untuk bisa hidup dan menghidupi keluarganya selama menunggu membaiknya cuaca

Langit di atas Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal, Jawa Tengah, Sabtu, 4 Januari 2020 muram. Awan mendung menggelayut, menghalangi sinar matahari menghangatkan pagi di kawasan kampung nelayan itu.

‎Permukiman yang berada di Gang Enthong tersebut padat oleh rumah-rumah dengan tembok saling berimpitan. Bagian depan tiap rumah langsung berhadapan dengan sungai Bacin dan jalan yang hanya cukup dilalui satu sepeda motor.

Di beberapa titik, kondisi jalan berlubang dan becek oleh genangan air sisa hujan. Beberapa perkakas dan tempat pengasapan ikan yang diletakkan di depan rumah membuat jalan dari paving block itu semakin sempit.‎

‎Pagi itu, sejumlah warga sedang mengasapi ikan menggunakan kipas terbuat dari anyaman bambu. Warga lainnya tampak beraktivitas di atas perahu yang sedang disandarkan di tepi sungai. Salah satunya adalah Warto. Pria 60 tahun itu ‎terlihat sibuk memperbaiki jaring ikan yang rusak.

"Biasanya sudah berangkat melaut, tapi karena sekarang sedang cuaca buruk, terpaksa tidak melaut dulu,"‎ ujar Warto kepada Tagar. ‎

Warto merupakan nelayan tradisional yang melaut menggunakan perahu ‎sopek. Perahu berukuran di bawah 10 gross ton (GT) itu tak akan kuat menahan terjangan gelombang tinggi saat cuaca di laut sedang buruk. Cuaca ganas ini biasa disebut nelayan sebagai musim angin baratan.

"Kalau sedang musim angin baratan seperti sekarang, ombak tingginya bisa 2,5 meter sampai 3 meter. Tidak berani melaut. Kalau nekat perahu bisa hancur. Ya akhirnya terpaksa menganggur," ungkapnya.

Cuaca buruk di Laut Jawa sudah berlangsung sekitar satu bulan. Praktis, selama itu pula ‎Warto dan tetangga-tetangganya sesama nelayan sudah mengganggur.

"Cuaca buruk seperti sekarang bisa sampai tiga bulan," ujar Makmuri, nelayan lain tetangga Warto yang sedang duduk-duduk di atas pembatas antara sungai dan jalan.

Kalau tidak punya uang sama sekali akhirnya berutang.

Nelayan Tegal2Sejumlah nelayan di Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal, sudah sebulan lebih menganggur karena cuaca buruk. (Foto: Tagar/Farid Firdaus)

Makmuri berusia 60 tahun lebih. Beberapa helai rambutnya sudah memutih. Keriput-keriput di wajahnya keras menonjol, seperti memperihatkan pahit getir kehidupan nelayan yang dijalaninya sejak usia 18 tahun.

Seperti Warto, Makmuri sudah sebulan lebih tidak melaut karena cuaca buruk. ‎Jika cuaca sedang normal, Makmuri biasanya berangkat melaut pukul 04.00 WIB. Berbekal alat tangkap jaring teratas dan pancing, hasil tangkapannya hanya ikan-ikan kecil.

Saat matahari mulai terbenam, Makmuri baru membawa perahunya pulang. Dari melaut selama seharian itu, penghasilannya dari ikan-ikan yang diperoleh dan dijualnya tak menentu.

"Kalau pas ikannya banyak ya bisa dapat Rp 300 ribu. Kalau lagi sedikit paling dapat Rp 200 ribu. Kadang juga tidak dapat ikan sama sekali," ungkapnya dengan nafas berat.

‎Meski minim, penghasilan itu harus dicukup-cukupkan Makmuri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya operasional untuk berangkat melaut lagi. Untungnya, tiga anaknya sudah bisa mencari uang sendiri.

"Tiga anak saya juga jadi nelayan semua sama seperti saya. Perahunya juga perahu kecil," ungkapnya.

‎Setiap cuaca buruk melanda, tak ada lagi penghasilan dari ikan-ikan yang ditangkap Makmuri. Untuk beralih pekerjaan sementara, ia juga tak memiliki keahlian atau keterampilan lain selain menjadi nelayan.

Makmuri ‎akhirnya terpaksa menumpuk utang ke warung jika sudah terdesak kebutuhan sementara cuaca tak kunjung kembali membaik. Utang itu baru bisa dilunasi ketika ‎ia sudah kembali melaut.

"Kalau tidak punya uang sama sekali akhirnya berutang. Tapi tidak berani banyak-banyak. Tidak sampai Rp 500 ribu. ‎Takut tidak bisa melunasi," tuturnya.

Sebagai nelayan tradisional yang kehidupannya salah satunya bergantung pada cuaca di laut, hanya pasrah pada keadaan yang bisa dilakukan Makmuri di hari tuanya. “Tidak bisa kerja lain. Dari kecil hanya bisa jadi nelayan,” ucapnya.

Sedimentasi yang Menyusahkan

'Musuh' Warto dan Makmuri tak hanya cuaca buruk. Tetapi juga lumpur yang menumpuk di muara sungai Bacin. Muara sungai itu menjadi jalur untuk keluar dan masuk perahu saat berangkat maupun pulang melaut.

Akibat sedimentasi, lebar muara sungai yang semula tujuh meter menyusut menjadi satu meter. Sedangkan kedalaman hanya tinggal dua meter dari semula tiga meter. Saat air laut sedang surut, muara sungai bisa bertambah dangkal.

"Sudah bertahun-tahun muara sungai dangkal. Kalau tidak sedang cuaca buruk, kendalanya muara dangkal. Perahu tidak bisa keluar. Akhirnya tetap tidak bisa melaut," ujar Makmuri.

Sudah bertahun-tahun muara sungai dangkal. Kalau tidak sedang cuaca buruk, kendalanya muara dangkal.

Nelayan Tegal3Muara Sungai Bacin di Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal yang dangkal karena sedimentasi. (Foto: Tagar/Farid Firdaus)

Jika pun bisa berangkat melaut saat air laut sedang pasang, perahu Makmuri dan nelayan-nelayan lainnya ‎seringkali tak bisa langsung bersandar saat pulang. Mereka harus menunggu air pasang. Butuh kesabaran dan usaha ekstra agar perahu bisa melewati muara.

"Keluarnya bisa tapi masuknya tidak bisa. Pernah perahu baru bisa sandar jam sembilan malam karena harus menunggu air pasang dulu," cerita Makmuri.

Menurut Makmuri, muara sungai Bacin terakhir kali dikeruk pada 2018 lalu. Pengerukan itu tak lantas membuat sedimentasi berkurang. "Menggeruknya waktu itu tidak benar. Jadi tetap dangkal," ucapnya.

‎400 Nelayan Menganggur

‎Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Tegal Riswanto mengatakan dampak cuaca buruk sangat dirasakan nelayan tradisional dengan kapal berukuran di bawah 10 GT. Selain mengancam keselamatan nelayan, cuaca buruk juga mempengaruhi hasil tangkapan ikan.

"Mereka memilih tidak melaut. Pertimbangannya keamanan karena sedang gelombang tinggi. Berbahaya jika memaksakan melaut," ujar Riswanto di hari yang sama. 

Riswanto menyebut, terdapat sekitar 400 nelayan tradisional di Kota Tegal yang tidak bisa melaut karena cuaca buruk. Tak hanya mereka, nelayan dengan kapal berukuran besar juga tak sedikit yang memilih tidak melaut.

"Kapal yang berukuran di atas 30 GT sebagian ada yang sudah di laut. Tapi mereka juga tidak bisa operasional mencari ikan karena cuaca buruk. Mereka menepi ke pulau terdekat, menunggu cuaca membaik," ujarnya.

‎Menurut Riswanto, para nelayan tradisional dan anak buah kapal kapal-kapal berukuran besar hanya bisa memunggu sampai cuaca buruk mereda. Sebab, tidak ada keahlian atau keterampilan khusus lain yang dimiliki.

"Mereka tidak ada pilihan lain selain mengganggur dan menunggu cuaca kembali membaik. Tentu hal ini akan berdampak pada perekonomian keluarga nelayan," ujar dia.

Memang belum pernah ada pelatihan untuk nelayan. Selama ini baru untuk istri nelayan pelatihannya.

Nelayan Tegal4Warto, salah satu nelayan di Kelurahan Tegalsari tengah memperbaiki jaring di perahu miliknya, Sabtu 4 Januari 2020. (Foto: Tagar/Farid Firdaus)

Riswanto mengungkapkan selama ini belum pernah ada pelatihan keterampilan agar nelayan bisa memiliki alternatif pekerjaan lain sehingga tetap memiliki penghasilan saat sedang cuaca buruk.

"Pelatihan yang pernah ada hanya untuk para istri nelayan, yaitu pelatihan pengolahan ikan. Kalau untuk nelayannya belum pernah ada," tuturnya. 

Selain cuaca buruk, Riswanto tidak memungkiri sedimentasi juga jadi kendala tersendiri bagi nelayan. Sedimentasi tidak hanya terjadi di muara sungai Bacin, tapi juga di muara sungai Kemiri dan Sibelis di Kelurahan Muarareja, Kecamatan Tegal Barat. ‎Muara kedua sungai itu menjadi akses nelayan berperahu kecil di wilayah setempat.

"Seperti cuaca buruk, sedimentasi juga membuat kapal-kapal nelayan tidak bisa berangkat melaut karena kandas," ujarnya.

Kabid Perikanan dan Kelautan Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian dan Pangan Kota Tegal Sirat Mardanus mengakui pemerintah belum pernah menggelar pelatihan keterampilan untuk nelayan agar mereka bisa memiliki alternatif pekerjaan lain saat sedang cuaca buruk‎.

"Memang belum pernah ada pelatihan untuk nelayan. Selama ini baru untuk istri nelayan pelatihannya. Tahun ini akan coba kami kaji dulu," kata Sirat, Minggu, 5 Januari 2020.

‎Sedangkan terkait pengerukan sungai-sungai yang mengalami sedimentasi, hal itu menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Pelaksanaannya juga mesti menunggu proses pengalokasian anggaran. []

Baca cerita lainnya: 

Berita terkait
Kapal Nelayan di Rembang Rusak Dihantam Ombak
Ombak besar menghantam pesisir Kabupaten Rembang yang menyebabkan sejumlah kapal nelayan di Pantai Nyamplung mengalami kerusakan.
Nelayan di Tegal Hilang, Perahunya Mengapung di Laut
Seorang nelayan di Tegal hilang di laut sejak Kamis, 9 Januari 2020. Hanya ditemukan perahu mengapung dalam kondisi mesin menyala.
Ombak Tinggi, Nelayan di Jeneponto Takut Melaut
Akibat cuaca buruk, nelayan di pesisir pantai Kelurahan Biringkassi dan Pabiringa, Kecamatan Binamu, Jeneponto tidak melaut.
0
Pupuk Langka, Petani Bantaeng Tanam Kangkung
Akibat mahal dan langkanya pupuk di Kabupaten Bantaeng, kini petani banting stir dari petani Padi dan Jagung beralih ke petani Kangkung.