UNTUK INDONESIA
Covid-19 Indonesia Beda Tipis dengan Korea Selatan
Pandemi Covid-19 yang semula diperkirakan banyak kalangan terjadi di Korea Selatan ternyata keliru, bahkan jumlah beda tipis dengan Indonesia
Perbandingan tes Covid-19 di Korea Selatan dan Indonesia. (Foto: Tagar/Syaiful W. Harahap)

Jakarta – Dari hari ke hari jumlah kasus konfirmasi positif virus corona baru (Covid-19) di Indonesia terus bertambah dengan angka yang meyakinkan setiap hari. Kasus pertama dilaporkan tanggal 2 Maret 2020 sebanyak dua yang tertular dari WN asing terhadap WNI. Sampai 30 April 2020 pukul 09.55 GMT atau 16.55 WIB, Jumlah kasus Covid-19 di Indonesia dilaporkan 10.118, sedangkan di Korea Selatan (Korsel) sebanyak 10.765. Posisi Indonesia dalam jumlah kasus persis di belakang Korsel dengan selisih jumlah kasus sebanyak 647.

Kasus awal Covid-19 muncul di Wuhan, China, yang dilaporkan otoritas China tanggal 31 Desember 2019. Sedangkan kasus pertama di Korsel terdeteksi tanggal 20 Januari 2020. Dengan rentang waktu yang berbeda jauh dengan Indonesia terkait temuan kasus pertama 2 Maret 2020, tapi mengapa kasus Covid-19 di Indonesia melejit yang dalam satu atau dua hari kedepan akan menyalip Korsel.

Pertama, Korsel menjalankan tes spesimen swab dengan PCR mulai tanggal 2 Januari 2020 secara massal, sedangkan Indonesia baru menjalankan tes swab pertengahan April 2020.

Kedua, biarpun jumlah warga yang jalani tes swab di Korsel (619.881) lebih banyak daripada di Indonesia (86.985) ternyata proporsi hasil tes lebih besar di Indonesia yaitu 11,63% banding 1,74% (Korsel).

Ketiga, proporsi tes per 1 juta populasi jauh lebih tinggi di Korsel (12.091) dibandingkan dengan Indonesia (318).

Jumlah kematian terkait dengan Covid-19 di Indonesia (792) juga lebih tinggi daripada Korsel (247). Ini al. terjadi karena di Korsel tes swab dilakukan secara massal sebelum pandemi berkecamuk sehingga infeksi masih tahap awal. Sedangkan di Indonesia banyak pasien Covid-19 dibawa ke rumah sakit sudah infeksi lanjut dan banyak pula dengan penyakit penyerta, seperti darah tinggi, diabetes, dll.

Tanpa dukungan aktif masyarakat pemerintah tidak akan bisa menurunkan insiden infeksi Covid-19 karena pasien PDP yang kabur dari rumah sakit saja bisa kabur dari rumah sakit dan kembali ke rumahnya.

Kalau saja warga, terutama aparat kampung, desa atau kelurahan lebih peka tentulah mereka melaporkan pasien PDP yang kembali ke rumahnya. Tanpa disadari oleh warga pasien PDP berpotensi menularkan virus (Covid-19) ke keluarga dan warga yang kontak langsung dengan pasien tsb. []

Berita terkait
Indonesia Potensial Jadi Episentrum Covid-19 ASEAN
Covid-19 di Indonesia terus bertambah seiring dengan tes Covid-19, pertambahan kasus yang pesat Indonesia bisa jadi episentrum Covid-19 di ASEAN
Apakah Indonesia Akan Jadi Episentrum Covid-19 ASEAN
Jika berkaca ke AS yang sejak 27 Maret 2020 jadi episentrum baru penyebaran Covid-19 bisa jadi Indonesia terancam jadi episentrum di ASEAN
0
Covid-19 Indonesia Beda Tipis dengan Korea Selatan
Pandemi Covid-19 yang semula diperkirakan banyak kalangan terjadi di Korea Selatan ternyata keliru, bahkan jumlah beda tipis dengan Indonesia