UNTUK INDONESIA
Untuk Indonesia
Covid dan Tiga Wabah Ganas di Muka Bumi
Wabah Corona, dari sisi jumlah yang tewas, tak seberapa dibanding sejumlah wabah lainnya yang pernah terjadi. Kecerdasan buatan akan mengatasinya.
Perawat di Ruang Isolasi RSUP Sanglah Bali memberikan kejutan kepada pasien Covid-19 di hari ulang tahunnya. (Foto: RSUP Sanglah/Tagar)

Oleh: Steve Sudjatmiko – pengamat AI

Abad ke-20 adalah abad di mana perang memakan korban terbanyak. Menurut penulis sejarah Matthew White, 125 juta orang tewas dalam berbagai perang selama seabad itu. Itu kira-kira setengah penduduk Indonesia. Jumlah yang sangat besar.

Namun, jumlah itu hanya setengah dari korban berbagai wabah penyakit selama 100 tahun itu, yaitu 300 juta orang. Yang jauh lebih menakutkan adalah tiga wabah terbesar yang bila digabung memakan 300 juta korban dalam waktu hanya 8 tahun. Ini jumlah yang luarbiasa. Yang pertama terjadi 1.500 tahun yang lalu.

Wabah Tercepat: Justinan

Pada tahun 541, Konstantinopel yang hari ini bernama Istanbul, adalah ibukota kekaisaran Bizantin dan merupakan kota termegah di dunia. Raja Justinianus yang telah berkuasa 14 tahun telah berhasil memenangkan perang dengan Persia, merebut Afrika Utara dan Itali dari bangsa barbar dan memberlakukan hukum Romawi yang menyatukan seluruh negara dan membangun bangunan maha megah bernama Hagia Sophia yang bertahan sampai hari ini.

Konstantinopel saat itu banjir dengan emas, gading dan jagung dari Afrika; kayu, besi, bir dan anggur dari Eropa, bulu, kain, dan rempah-rempah dari Asia. Sepertinya kekaisaran Bizantin akan mencapai cita-citanya menggantikan kekaisaran Romawi yang sudah runtuh.

Namun, pada Mei tahun itu, sebuah kapal dari Mesir yang membawa jagung mendarat di Konstantinopel. Beberapa penumpangnya muntah darah ketika tiba di darat. Esoknya, sebagian awak kapal jatuh sakit. Beberapa hari kemudian semuanya meninggal.

Ciri-cirinya sama: bisul di leher, ketiak, dan kemaluan yang lalu pecah, mengeluarkan nanah yang berbau dan sangat menular. Inilah penyakit pes yang diakibatkan bakteri Yersinia pestis yang hidup di kutu tikus. Dan tikus inilah yang ikut menyeberang ke Konstanstinopel lewat tumpukan jagung.

Pertama-tama yang jatuh sakit adalah mereka yang tinggal dan bekerja di sekitar Pelabuhan. Kemudian orang-orang yang hidup di pasar mulai bergelimpangan. Akhirnya orang jatuh sakit dan meninggal di seluruh kota.

Suasana panik menyerbu seluruh Konstantinopel. Orang sakit mengerumuni Rumah sakit yang disediakan gratis oleh Kaisar tetapi tidak keburu menampung mereka.

Bahkan para dokter dan asistennya juga tertular sakit dan meninggal. Pengemis, pedagang, bangsawan dan bahkan militer pun sakit dan meninggal. Matinya banyak prajurit inilah yang kelak menjadikan militer Bizantin lemah.

Bahkan Kaisar Justinianus pun jatuh sakit membuat suasana istana menjadi sangat tegang. Istrinya, ratu Theodora awalnya adalah aktris dan mantan gundik Gubernur kota Pentapolis. Kemudian Justinianus yang saat itu masih muda melihat, jatuh cinta, dan menikahinya sebagai permaisuri.

Tidak banyak rakyat yang bangga bahwa dia adalah ratu Bizantin yang megah. Matinya kaisar akan membuat posisinya sangat rawan. Namun dengan menakjubkan sekali, Kaisar sembuh. Suasana tegang menjadi tenang kembali.

Pada puncaknya, tiap hari 5.000 orang meninggal di kota. Sebagai kota Pelabuhan, banyak pedagang berhenti sebentar di Konstantinople dan kemudian melanjutkan perjalanan ke tempat lain. Mereka inilah pembawa penyakit ini sehingga menjalar dari Konstantinopel ke Roma, Irlandia, Inggris, Perancis, Yunani, Spanyol, Afrika, Alexandria.

Ketika wabah ini berakhir, antara 25-30 juta orang meninggal diseluruh Bizantin dan Eropa. Di Konstantinopel saja setengah penduduk kota meninggal. Dibandingkan dengan Black Death, memang Black Death makan korban lebih banyak: 200 juta dalam 6 tahun. Tetapi wabah Justinianus makan korban jauh lebih cepat: 30 juta dalam waktu hanya 4 bulan.

Wabah ini pergi dengan sendirinya ketika korban menipis. Namun karena bakterinya tidak diberantas, wabah ini datang lagi berkali-kali. Terakhir mereka datang lagi tahun 750. Dan kemudian mereka menghilang.

Wabah Terbesar Sepanjang Sejarah: Black Death

900 tahun setelah wabah Justinian, bakteri Yersinia pestis menyerang lagi, walau bukan jenis bakteri yang persis sama. Dan sama seperti jaman Justinianus, Eropa sama sekali tidak siap. Saat wabah ini tiba di Itali tahun 1347-1353, keadaan negara ini memang sangat tepat untuk wabah yang mengerikan ini.

20 tahun sebelumnya, tahun 1327, Itali mengalami paceklik yang luarbiasa. Selama 7 tahun jutaan orang mati kelaparan dan kemiskinan merambah kemana-mana. Kemudian menyusul wabah ternak sapi di seluruh Eropa sehingga harga daging dan susu meningkat luarbiasa. Kemiskinan memburuk.

Pada 1346, tentara Mongol menyerbu kota Caffa di Crimea. Saat itu mendadak wabah pes berjangkit di antara mereka membuat mereka membatalkan penyerangan. Namun sebelum pergi, mereka melontarkan mayat yang tertular penyakit itu ke kota Caffa dengan katapul. Dalam sekejap wabah pes menyelimuti kota Caffa.

Pedagang-pedagang yang ada di kota itu, terutama dari Genoa, melarikan diri dengan kapal ke Sisilia. Dari kota inilah wabah pes menyerbu masuk ke Itali dan seluruh Eropa.

Pada tahun 1347, bangkai tikus bertebaran di seluruh Itali. Albert Camus menulis dalam novelnya “The Plaque” tentang situasi itu: “8.000 bangkai tikus telah terkumpul. Pelahan-lahan panik mulai melanda seluruh kota.” Inilah awal dari wabah paling mematikan dalam sejarah manusia.

Kutu tikus sebenarnya lebih menyukai tikus daripada manusia. Hanya ketika tikus sudah habis, barulah kutu itu melompat ke manusia, menggigit dan memindahkan jutaan ke manusia itu. Namun manusia yang digigit belum tahu bahwa dirinya sudah kemasukan bakteri. Mereka pulang ke rumah dan menyebarkan bakteri itu ke keluarga dan tetangganya. Ketika akhirnya wabah itu meledak, penularan bukan terjadi dari satu individu ke individu lain tetapi dari satu kelompok ke kelompok lain.

Dalam situasi miskin tadi itu, baju korban yang mati seringkali diambil orang, dicuci lalu dijual dipasar. Begitu pula barang2 lain milik korban: diambil dan dijual lagi. Kutu tikus dan bakterinya menyebar lewat pasar. Darisana Black Death menyebar ke seluruh Eropa dan membunuh sepertiga populasinya.

Saat ini 80 perusahaan di dunia sedang berjuang membuat obat untuk Covid.

Di masa Black Death, kecepatan matinya orang membuat banyak sekali mayat bertebaran karena tidak keburu dikubur. Yang mengubur keesokan harinya ganti dikubur. Para pengkotbah bermunculan meneriakkan umat untuk bertobat karena hari pengadilan sudah tiba. Dan esoknya mereka sudah diam selamanya.

Enam tahun kemudian, seperti kasus Justinian, dengan agak mendadak wabah Black Death berakhir. Penyebabnya adalah banyaknya penduduk melarikan diri keluar dari kota yang kumuh dan hidup mengasingkan diri seadanya. Sebab kedua adalah mayat dibakar sekalian dengan baju dan barang mereka. Namun 200 juta orang telah meninggal.

Wabah Terganas dalam Sejarah: Spanish Flu

Kalau Black Death adalah wabah penyakit terbesar dalam sejarah, maka Spanish Flu atau Flu Spanyol adalah yang terganas di masa modern, persis pada akhir PD 1. Nama Spanish Flu ini berasal dari sakitnya raja Spanyol Alfonso XIII karena flu ini. Koran Spanyol sebaliknya memanggil Flu ini French Flu karena flu ini dianggap datang dari Perancis.

Penyelidikan menunjukkan bahwa tentara Amerika yang dikirim ke Perancis untuk membantu dalam PD 1 lah yang membawa flu ini. Mereka berangkat dari Amerika dalam keadaan segar, namun tiba di perancis dalam keadaan sakit parah.

Bukannya langsung berperang, ratusan tentara ini malah harus berbaring di Rumah Sakit Perancis yang sudah sangat kewalahan dengan tentara yang cedera karena perang. Sementara tentara Amerika jatuh sakit di Perancis, di Amerika sendiri wabah itu bahkan lebih ganas lagi. Di Boston, kematian mencapai 100 orang setiap hari membuat kota itu sangat panik. Tapi karena tidak ada peraturan tentang karantina maka orang di sana tetap bebas bepergian dan menyebarkan penyakit ini ke seluruh Amerika.

Di seluruh dunia gejala awal Flu ini sama dengan flu biasa: sakit kepala, batuk, lelah. Akibatnya, sebagian besar pasien tidak menganggap ini hal serius dan bekerja lagi seperti biasa. Namun pada hari ketiga mereka sudah mengidap pneumonia. Dan beberapa jam setelah itu, mereka meninggal.

Seorang dokter di Afrika Selatan bercerita bahwa pada saat dia naik trem mengunjung pasiennya, mendadak sopir trem jatuh dan tewas saat itu juga. Penumpang yang duduk disampingnya mendadak juga jatuh dan mati. Ketika trem itu berhenti, 4 penumpang di dalamnya sudah tewas. Dari 4 orang ibu-ibu yang main kartu pada suatu malam, 3 di antaranya meninggal esoknya dengan tubuh masih duduk di kursi.

Pada flu biasa, korban terbesar adalah bayi, anak kecil dan orang tua. Pada Spanish Flu, yang terbesar adalah anak muda dan sehat berusia antara 15 sampai 30. Setelah berjalan setahun lebih, flu ini berakhir karena sebagian mengkarantina diri mereka, sebagian lagi sudah sembuh dan kebal, dan sebagian lagi sudah tewas.

Dari sekitar 500 juta orang yang terjangkit penyakit ini, antara 50 - 100 juta meninggal, terutama mereka yang menganggap enteng flu ini.

Corona

Sejak Flu Spanyol, terjadi dua pandemik lagi di abad 20. Yang pertama Asian Flu, yang virusnya berasal dari burung. Kasus pertama muncul bulan Februari 1957 di Yunnan. Vaksin dicoba pada Bulan Mei dan bulan Oktober sudah tersedia. Dari 1.3 miliar orang yang sempat terkena flu, diperkirakan 1.1 juta orang yang meninggal.

Virus ini berevolusi dan kelak memicu munculnya Hong Kong flu tahun 1968. Penyebaran yang cepat membuat flu ini dianggap pandemik. Tetapi vaksin serta kekebalan dari Asian Flu 10 tahun sebelumnya menekan jumlah korban dari flu ini. Total 1 juta orang meninggal ketika pandemik ini berakhir tahun 1969.

Tahun 2009, satu lagi pandemik terjadi yaitu Flu Babi yang asalnya juga dari burung walau kelak gennya menyatu dengan gen babi dari Eropa. Virus ini sangat baru sehingga vaksin yang ada sebelumnya tidak mampu menyembuhkannya. Dibutuhkan waktu sekitar 7 bulan untuk menyelesaikan vaksin sejak pandemik ini meletus. Antara 700 juta sampai 1.4 milyar orang sempat sakit tetapi total yang meninggal cukup minim yaitu sekitar 300.000. Jumlah ini sama dengan flu biasa.

Bagaimana dengan Covid-19? Covid-19 sangat lunak sehingga yang meninggal termasuk minim. Dalam 7 bulan sejak menyerang Wuhan, pasien yang positif berjumlah 3.5 juta dan yang meninggal “hanya” 250 ribu. Bandingkan dengan flu Spanyol yang membunuh satu juta orang setiap minggu. Artinya Flu Spanyol sekitar 110 kali lebih mematikan daripada Corona.

Tapi Covid sangat heboh. Dari 230 negara yang terkena covid, puluhan melakukan lockdown atau melarang pengunjung datang ke negara mereka. Ekonomi dunia mundur 3% gara-gara covid. Indonesia masih lumayan, masih tumbuh 3%. Untuk puluhan negara lain, ekonomi mereka mundur ke tahun 2017-2018.

Tapi ini heboh yang baik. Saat ini 80 perusahaan di dunia sedang berjuang membuat obat untuk Covid. Puluhan lainnya sedang membuat vaksin Covid. September seharusnya sudah selesai.

Lebih dari itu, puluhan perusahaan AI (kecerdasan buatan) di seluruh dunia juga sedang berjuang membuat segala sisi hospital lebih manusiawi seperti CareSkore, Deepcare, DeepMindAI, DoctorAI, DeepR Analytics DNN. Belum termasuk dari China, Jepang dll.

Semua perbaikan Ini sangat kita butuhkan terutama untuk pelayanan hospital yang jarang siap menghadapi serbuan wabah.

Industri Kesehatan butuh bebenah secepatnya, sehingga ketika pandemik mematikan berikutnya tiba, kita sudah belajar. Dan mereka pasti akan datang. Dan kemungkinan besar tidak akan selunak Covid.[]

Steve Sudjatmiko, pengamat AI

Berita terkait
Kereta Api Luar Biasa Beroperasi Saat Pandemi Corona
Daop 6 Yogyakarta mengoperasikan perjalanan Kereta KLB saat pandemi Corona.
Klaster Corona Indogrosir ke Bantul dan Kulon Progo
Pasien positif Covid-19 dari Bantul dan Kulon Progo terpapar dari Klaster Covid-19 Indogrosir Sleman
Inggris Luncurkan Alat Pelacak Virus Covid-19
Inggris meluncurkan sistem peringatan untuk melacak penyebaran virus Covid-19, yang akan diumumkan Perdana Menteri Boris Johnson, minggu ini.
0
Covid dan Tiga Wabah Ganas di Muka Bumi
Wabah Corona, dari sisi jumlah yang tewas, tak seberapa dibanding sejumlah wabah lainnya yang pernah terjadi. Kecerdasan buatan akan mengatasinya.