UNTUK INDONESIA
Cita dan Cerita Pak Tua Penjual Piscok di Aceh
Seorang pedagang pisang cokelat di Aceh Tamiang bercita-cita untuk membeli sepeda motor, agar dia tidak lagi bersepeda saat menjual.
Seorang pembeli sedang memilih dan memasukkan sendiri pisang coklat (piscok) ke dalam kantong plastik yang sudah disiapkan Sunyoto, Sabtu, 15 Agustus 2020. (Foto:Tagar/Zulfitra).

Aceh Tamiang - Tumpukan pisang yang telah digoreng dan dilumuri lelehan cokelat tertata rapi dalam etalase kaca, di sadel belakang sepeda milik Sunyoto, 65 tahun, seorang kakek yang berprofesi sebagai penjual pisang cokelat.

Sepeda itu terparkir di tepi jalan lintas provinsi di wilayah Desa Perkebunan Tanah Terban, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. Sementara sang pemilik, Sunyoto terlihat duduk di bangku panjang yang terbuat dari kayu, tidak terlalu jauh dari sepeda dan setumpuk pisang cokelatnya.

Kakinya sigap berdiri dan melangkah menuju sepedanya, saat seorang pemuda berkacamata memanggilnya untuk membeli pisang cokelat.

Jari keriput Sunyoto dengan cekatan mengambil beberapa pisang cokelat (piscok) dari tumpukan menggunakan penjepit, tanpa merusak tatanan piscok-piscok yang lain. Kemudian dimasukannya ke dalam kantong plastik putih.

Suara bising knalpot kendaraan yang lalu lalang di jalan raya memadati indera pendengaran. Menjadi alunan irama tersendiri seolah sebagai penghibur para pembeli di pagi menjelang siang pada Sabtu, 15 Agustus 2020 di sana.

Jam pada ponsel baru menunjukkan pukul 09:45 WIB, namun sinar matahari cukup mampu menghangati kulit.

Usai melayani pelanggan, pria tua berkulit legam yang tinggal di Dusun IV Desa Tanjung Rambut, Kecamatan Kota Kualasimpang pun terlihat kembali lagi melanjutkan istirahat di tempat semula.

Sunyoto menjawab ramah pertanyaan Tagar tentang rezeki dari penjualan piscok pagi itu. Kata dia, sudah ada beberapa pembeli piscok dagangannya.

"Alhamdulillah nak, sudah ada beberapa yang beli. Namanya juga masih jam segini," jawab Sunyoto.

Cerita Penjual Piscok di Aceh 2Sunyoto sedang istirahat di bangku depan kedai kelontong sembari menunggu pembeli, Sabtu, 15 Agustus 2020. (Foto:Tagar/Zulfitra).

Suami dari Sumiati, itu mengaku sudah hampir dua tahun berjualan piscok. Dia mengayuh sepedanya hingga puluhan kilometer untuk menjajakan piscok dagangannya.

Setiap hari dia bersepeda melintasi tiga kecamatan, yakni Kota Kualasimpang, Karang Baru, dan Rantau. Total jarak tempuh kurang lebih sejauh 27,8 kilometer.

Pagi, jam 07:00 WIB saya sudah mulai berangkat dari rumah. Keliling dari kota Kualasimpang hingga ke Kecamatan Rantau.

Saat ini Sunyoto memiliki rencana untuk membeli sepeda motor sebagai pengganti sepedanya, mengingat tubuhnya yang mulai renta. Dia menabung sebesar Rp10 ribu per hari untuk mewujudkan impiannya itu.

Pernah Tertipu

Meski saat ini piscok jualannya cukup laris, tetapi bukan berarti segalanya berjalan lancer sejak awal berjualan. Sunyoto pernah berhenti berjualan akibat mahalnya harga gula. Sebab jika dipaksakan menjual, dia tidak akan mendapatkan laba.

Saat itu dia berinisiatif untuk menjual roti. Roti yang dijualnya bukan hasil produksinya sendiri. Sunyoto hanya menjualkan roti buatan orang lain, dan mengambil keuntungan dari situ.

"Gak termakan jualan roti, sering nombok. Dalam satu buah roti upahnya Rp 1.000. Di situ minyak, disitu gaji. Karena jualannya kemarin pakai becak saya. Dan sering banyak gak lakunya," tuturnya.

Saat harga gula kembali normal, Sunyoto pun kembali melanjutkan usahanya kembali berjualan piscok.

Sunyoto juga pernah ditipu oleh seorang pemuda yang pura pura meminjam uang sebesar Rp 50 ribu. Saat itu si pemuda beralasan meminjam uang untuk biaya jasa mengganti ban dalam sepeda motornya yang bocor.

Awalnya, kata Sunyoto, pemuda tersebut menghampirinya yang sedang istirahat di depan sebuah tempat pencucian motor, dan meminjam uang sebesar Rp10 ribu dengan wajah memelas.

"Uang saya cuma Rp 50 ribu, ini pun uang jualan 1 harian tadi," kata Sunyoto ke pemuda yang di ceritakan nya.

Meski Sunyoto telah menjelaskan, pemuda itu tetap ngotot meminta kepadanya, berdalih akan di pecahkan ke warung depan. Merasa tidak tega, Sunyoto pun memberikan uang tersebut ke pemuda itu,dan berharap pemuda itu akan mengembalikan lagi sisa uang itu kepadanya.

Namun, setelah berjam jam di tunggu, pemuda itu tidak kunjungan kembali, sementara Sunyoto sendiri sudah tidak memegang uang lagi.

"Tapi saya ikhlas kok. Berarti uang yang di ambil anak itu bukan rezeki saya”.

Cerita Penjual Piscok di Aceh 3Sunyoto sedang melayani seorang pembeli piscok dagangannya, Sabtu, 15 Agustus 2020. (Foto:Tagar/Zulfitra).

Resep dari Keponakan

Sunyoto menceritakan, dulunya dia bekerja sebagai sopir pribadi luar Aceh, tepatnya di Kota Siantar. Tugasnya mengantar dan menjemput anak majikannya. Profesi itu digeluti Sunyoto selama puluhan tahun.

Namun Sunyoto berhenti dari pekerjaannya dan pulang ke kampung halaman di Aceh Tamiang. Sekembalinya di kampung, Sunyoto harus memulai segalanya dari nol.

Setelah kurang lebih satu tahun mencoba beradaptasi, Sunyoto merasa dirinya kesulitan, sehingga dia kembali merantau ke Lhokseumawe.

"Sekitar tahun 2007-an saya pigi (pergi) merantau lagi. Tapi gak lagi ke Sumatera, tapi kakek merantau ke Lhokseumawe," katanya.

Di Lhokseumawe, Sunyoto bekerja sesuai dengan hobinya, yakni sebagai penyemai tanaman hias untuk taman. Terkadang dia mendapatkan tambahn penghasilan dari jasa menanam bunga di taman kota, median jalan, hingga rumah rumah pribadi.

Namun, seiring bertambahnya usia, tubuh Sunyoto mulai sering sakit-sakitan. Dia merasa tidak sanggup lagi meklanjutkan pekerjaan kasarnya, dan kembali pulang kampong.

"Udah gak sanggup lagi kerja kasar nak. Makanya saya pulang dan memutuskan gak mau merantau lagi. Karena kakek punya sakit Asma," tuturnya.

Setelah beberapa bulan berada di kampung halaman, Sunyoto pun berniat membuka usaha sendiri. Tetapi saat itu dia masih bingung tentang bidang usaha yag harus digelutinya. Terlebih dia memiliki keterbatasan modal.

Hingga, suatu hari, Sunyoto bersama istrinya berkunjung ke rumah kakaknya, yang hanya berjarak beberapa puluh meter dari rumah. Di sana dia melihat dua keponakannya sedang membuat piscok.

Tiba-tiba muncul idenya untuk berjualan piscok seperti yang dibuat oleh kedua keponakannya yang masih duduk di kelas dua SMP. Sunyoto pun meminta resep cara membuat piscok.

"Kedua keponakan kakek, Endi dan Indah yang kasih resep. Dan setiap sore setelah pulang sekolah, mereka ke rumah untuk bantu nenek buat piscok itu," katanya.

Dalam sehari Sunyoto bisa menjual 400 piscok, dengan penghasilan kotor antara Rp350 ribu hingga Rp400 ribu. Jumlah itulah yang kemudian menjadi standar pembuatannya. Dia tidak mau tamak dengan menambah jumlah produksi meski jualannya cukup laris.

“Kalau habis, bisa dapet untung Rp 80 ribu hingga Rp 100 ribu. Tapi kalau gak habis, cukup cukup untuk modal lagi," katanya.

"Banyak juga orang kantoran yang beli. Kadang-kadang sampe ada yang pesen banyak untuk dibawa sebagai oleh-oleh," Sunyoto melanjutkan.

Bahkan pandemi Covid-19 yang berdampak menurunnya penghasilan sebagian pelaku usaha, disebutnya tidak berpengaruh pada penjualan piscoknya. Hanya saja, dia jadi harus pulang lebih lambat, sebab sekolah-sekolah masih ditutup.

"Kalau ngaruh gak ada. Tapi pulangnya yang kadang kadang sampe hampir malam. Sebelum itu, jam 16:00 WIB udah di rumah," katanya.

Seorang pelanggan piscok buatan Sunyoto, Yudi, yang berprofesi sebagai guru di salah satu sekolah menengah kejuruan (SMK) negeri di Kabupaten Aceh Tamiang, mengaku suka membeli piscok itu karena rasanya yang khas.

"Rasa enak, renyah, gurih, dan rasa manisnya terasa nendang di mulut. Pas kali buat cemilan saat di rumah dan ketika istirahat di kantor," katanya.

Menurutnya, piscok milik Sunyoto membuat ketagihan siapa saja yang menyantapnya, termasuk dirinya. Rekan kerjanya pun tak jarang menitip uang untuk membeli piscok buatan Sunyoto.

"Kalau ketemu, saya selalu beli. Karena rasanya saya sangat suka, walaupun terkadang uang di kantong cuma Rp 10 ribu. Ya harus di beli”. []

Berita terkait
Nuansa Mistis Sampah Purbakala di Aceh Tamiang
Tokoh masyarakat setempat yang ditemui, membenarkan bahwa warga masih memercayai bahwa lokasi Bukit Kerang merupakan tempat yang angker
Din Minimi, Pemberontak di Aceh Kembali Cinta NKRI
Predikat Minimi resmi Nurdin sandang sejak tahun 2002, ketika dirinya mulai aktif bertempur untuk Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Ular Penghuni Pulau Karang di Pantai Pai Bima
Di kawasan Pantai Pai, Kabupaten Bima, NTB, terdapat pulau karang berukuran luas sekitar 800 meter, yang dihuni oleh ratusan ekor ular.
0
Cita dan Cerita Pak Tua Penjual Piscok di Aceh
Seorang pedagang pisang cokelat di Aceh Tamiang bercita-cita untuk membeli sepeda motor, agar dia tidak lagi bersepeda saat menjual.