UNTUK INDONESIA
Cara Puskesmas Sleman Hindari Panik Corona
Nggih alkhamdulillah, Mas, sakniki pun mboten terlalu kuatir. Cerita orang-orang desa di Sleman yang kini tak panik lagi dengan virus corona.
Para pengunjung di ruang tunggu Puskesmas Gamping 1, Kabupaten Sleman, Jumat, 6 Maret 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Sleman - Belasan pasien duduk di ruang tunggu Puskesmas Gamping 2, Kabupaten Sleman, Jumat, 6 Maret 2020. Tak satu pun dari mereka terlihat mengenakan masker. Beberapa petugas di meja pendaftaran juga tidak mengenakan masker.

Siang itu, suasana puskesmas cukup lengang meski antrean pasien mencapai belasan. Hanya sesekali terdengar suara petugas puskesmas melalui pengeras suara, memanggil nama pasien yang tiba giliran diperiksa.

Sebagian pasien bercengkerama dengan pasien lain di dekatnya, namun suara mereka lirih. Sementara pasien lain lebih suka memainkan ponsel mereka, entah chat atau bermain gim.

Dari sudut kiri belakang ruangan, tempat laboratorium kesehatan puskesmas itu, sesekali terdengar suara petugas memanggil nama pasien yang akan atau sudah selesai pemeriksaan laboratorium.

Di lantai dua gedung itu, Kepala Puskesmas Muhammad Daroji sedang berbicara dengan dua rekannya. Setelah selesai, ia menyilakan Tagar masuk, lalu menjelaskan tentang upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi penularan virus corona baru atau covid-19.

Kata Daroji, pihaknya sudah melakukan beberapa upaya sebagai langkah antisipasi, sesuai dengan yang telah dijelaskan Bupati Sleman beberapa hari sebelumnya. Salah satunya adalah mengedukasi warga, khususnya pasien yang datang ke puskesmas.

Nggih alkhamdulillah, Mas (Ya alhamdulillah, Mas). Sakniki pun mboten terlalu kuatir (Sekarang sudah tidak terlalu khawatir).

Puskesmas SlemanKepala Puskesmas Gamping 1, Kabupaten Sleman, Muhammad Daroji, saat ditemui Jumat, 6 Maret 2020. Puskesmas Gamping 1 meminta warga menjadi agen penyampai informasi tentang virus corona baru. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Edukasi Agar Tak Panik Berlebihan

Kesiapsiagaan pihak puskesmas, kata Daroji, merupakan hal mutlak untuk mengantisipasi penyebaran virus. Semua pihak harus siaga, bukan hanya dokter, tapi seluruh elemen yang ada di puskesmas.

"Semua harus siap siaga, terutama harus bisa memberi edukasi kepada masyarakat untuk mencegah kepanikan, seperti di beberapa daerah kan ada aksi borong masker, borong hand sanitizer, kan sudah sampai begitu. Kalau di Sleman, itu belum sampai terjadi dan itu harus dicegah jangan sampai terjadi," tuturnya.

Untuk melaksanakan hal itu, pihaknya sudah melakukan dan mengagendakan beberapa upaya. Salah satunya adalah dengan menyosialisasikan segala sesuatu tentang covid-19 kepada pasien puskesmas, saat mereka menunggu antrean di ruang tunggu.

"Kami sudah mengagendakan untuk mengedukasi di puskesmas melalui ruang tunggu setiap hari sekali kita jelaskan tentang corona dan antisipasinya," ujar Daroji.

Selanjutnya, seluruh petugas puskesmas juga diminta menyampaikan edukasi dan sosialisasi tentang covid-19 di forum-forum. Seperti dalam forum lintas sektoral dan forum rapat koordinasi di masing-masing desa.

"Intinya kami menyampaikan informasi sejelas-jelasnya dan seluas-luasnya ke wilayah kerja puskesmas kami," ucapnya.

Kecemasan dan kepanikan yang terjadi di tengah masyarakat, menurutnya disebabkan ketidaktahuan mereka tentang covid-19. Karena itu yang harus dijelaskan kepada masyarakat adalah covid-19 merupakan virus yang dapat menyebabkan penyakit.

Seperti juga beberapa penyakit lain yang disebabkan virus dan kuman, daya tahan tubuh seseorang memiliki peran penting terhadap penularan virus. Saat daya tubuh seseorang cukup bagus atau kuat, virus tidak akan menyerang dan jika tertular bisa sembuh sendiri.

"Kami jelaskan bahwa corona itu penyakit yang disebabkan virus, kemudian itu juga bisa sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh yang bagus, dan bisa dicegah dengan perilaku hidup bersih dan sehat, intinya begitu," ujarnya.

Dengan pengetahuan yang cukup, isu covid-19 tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan, meski mungkin di luar negeri perlakuan terhadap virus dan penderitanya sudah sedemikian rupa.

Agen Penyampai Informasi

Sosialisasi dan edukasi yang dilakukan pihak Puskesmas Gamping 2, kata dia cukup berhasil. Respons masyarakat cukup bagus. Bahkan beberapa dari mereka diminta menjadi agen penyebar informasi tentang covid-19.

"Kalau sudah begini, kita jadi tidak perlu khawatir. Bahkan banyak dari mereka yang kita minta menjadi agen penyampai informasi kepada warganya," tutur Daroji.

Salah satu hal prinsip yang harus disampaikan kepada masyarakat adalah perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk mencuci tangan dengan sabun. Itu adalah kunci utama.

Hal lain yang disampaikan dalam sosialisasi adalah mengenai etika saat batuk dan bersin. Saat seseorang mengalami gejala batuk pilek, mereka harus menutup mulutnya dengan tisu atau sapu tangan.

"Pertama, kita tidak mengumbar batuk secara terbuka. Karena penyakit seperti itu penyebarannya lewat droplet atau percikan. Jadi, bisa ditutup dengan sapu tangan atau menutup dengan bagian atas dalam lengan. Itu sudah kita simulasikan," tuturnya.

Selanjutnya, warga diminta memperhatikan dan mengonsumsi makanan dengan asupan gizi seimbang. Sebab, asupan gizi yang seimbang akan meningkatkan daya tahan tubuh dan mencegah tertular virus.

"Sehingga namanya kuman apa pun kalau kita terpapar tapi daya tahan tubuh kita bagus, itu tidak akan berefek atau tidak ada manifest sakit pada kita. Itu kuncinya kita mencegah penyakit karena kuman atau virus, dan itu sudah bisa dipahami peserta pertemuan," kata Daroji.

Mengenai penggunaan masker, Daroji menjelaskan, bahwa orang yang tidak menunjukkan gejala sakit, tidak perlu mengenakan masker. Apalagi saat ini banyak orang panik dan memborong masker sehingga agak sulit didapatkan.

Sebelum isu covid-19 merebak, pihak puskesmas menyediakan masker gratis di ruang tunggu pasien. Siapa pun yang membutuhkan, boleh mengambilnya. Tetapi sejak adanya isu covid-19, masker hanya diberikan kepada pasien yang sakit.

"Selama ini masker kami sediakan di ruang tunggu pasien, yang butuh silakan ambil. Tapi dalam kondisi sekarang ini, kami hanya berikan masker kepada pasien atau pengunjung yang terindikasi sakit batuk pilek. Itu dikendalikan di ruang pelayanan, bukan lagi di ruang tunggu," tuturnya.

Saat ini stok masker di puskesmas masih cukup, namun memang ada pembatasan. Hal itu berkaitan dengan antisipasi letusan Gunung Merapi yang sempat mengeluarkan abu vulkanik.

"Kemarin sudah disampaikan bupati. Kami harus antisipasi fenomena Gunung Merapi juga, jadi pengendaliannya lebih ke situ. Kalau cadangan untuk pengadaan itu sebenarnya siap. Cuma sekarang kan kalau kami order saat ini memang sedang sulit, jadi kami mengoptimalkan dengan yang ada di kabupaten dan sekalian untuk mengantisipasi fenomena Gunung Merapi," tuturnya.

Saat ditanya tentang peningkatan jumlah pasien yang memeriksakan diri karena gejala flu dan batuk, Daroji mengatakan hingga hari itu tidak ada laporan peningkatan pasien pilek dan batuk secara signifikan.

Hal itu diketahui berdasarkan laporan dari staf puskesmas pada setiap apel pagi, belum ada tren peningkatan kasus.

"Selama ini belum ada laporan tren peningkatan kasus flu dan batuk. Kami setiap apel pagi selalu menyampaikan isu aktual seperti itu, tapi sampai sekarang tidak ada peningkatan secara signifikan dari gejala itu," ucapnya.

Meskipun demikian, jika ke depannya ada peningkatan pasien dengan gejala pilek dan batuk, menurutnya ada kemungkinan itu merupakan faktor psikis mereka yang khawatir tertular covid-19.

Hal semacam itu, kata Daroji, memiliki sisi positif, yakni meningkatnya kesadaran warga terhadap kesehatan dan memeriksakan diri kepada petugas medis.

"Ada bagusnya juga kalau warga terbawa faktor psikis, jadi saat batuk atau pilek mereka periksa. Berarti kan kesadaran masyarakat untuk segera kontak dengan petugas kesehatan kan bagus. Tapi saat kini masih kondusiflah di kita," tuturnya.

Waspada Tapi Tidak Panik

Seorang pasien Puskesmas Gamping 2, Parjiyem, 47 tahun, mengaku sudah mengetahui isu penyebaran covid-19. Selain melalui pemberitaan di televisi, ia juga mendapat pemahaman dari puskesmas.

Awalnya Parjiyem merasa khawatir dengan isu penularan virus tersebut. Terlebih ribuan warga di Tiongkok dikabarkan meninggal akibat covid-19. Ditambah lagi kabar tentang masker yang langka di pasaran.

"Terus wonten penjelasan wau niku, nek mboten kedah ngagem masker (Terus ada penjelasan tadi, bahwa tidak harus mengenakan masker). Sing penting sregep le cuci tangan (Yang penting rajin mencuci tangan)," kata dia.

Penjelasan tentang covid-19 yang diterimanya tersebut, kata Parjiyem membuatnya sedikit lega, meski tetap akan waspada agar tak terjangkit. Tapi setidaknya ia tidak lagi panik dan ketakutan.

"Nggih alkhamdulillah, Mas (Ya alhamdulillah, Mas). Sakniki pun mboten terlalu kuatir (Sekarang sudah tidak terlalu khawatir). Tetep teng sabin kados biasane (tetap akan ke sawah seperti biasanya)." []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Kasus Virus Corona Pertama di Bulgaria dan Moldova
Bulgaria dan Moldova melaporkan kasus perdana virus corona di negaranya, Minggu, 8 Maret 2020.
Ridwan Kamil Ajak Ulama Memerangi Hoaks Corona
Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengajak kiai dan ulama memerangi hoaks Corona agar tidak meresahkan masyarakat.
Cara Mencegah Virus Corona
Berikut adalah cara mencegah dan proses bagaimana virus corona menular.
0
Jenis Olahraga yang Aman Selama Puasa
Namun, saat menjalani puasa Ramadan banyak orang yang malas berolahraga karena takut kelelahan, dan batal puasanya.