UNTUK INDONESIA
Cara Memperbaiki Hubungan Akibat Perbedaan Politik
Ada sejumlah cara untuk memperbaiki hubungan yang sempat renggang karena perbedaan di Pilpres 2019.
Ilustrasi. (Foto: Pixabay)

Jakarta - Beragam perselisihan kecil tidak dapat dipungkiri hadir di antara sejumlah orang yang berbeda pilihan terkait Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Ada sejumlah cara untuk memperbaiki hubungan yang sempat renggang karena perbedaan politik.

Psikolog Universitas Indonesia, Bunda Rosmini mengatakan silih pendapat baik dengan keluarga, kerabat, dan teman ketika pesta demokrasi sedang berjalan merupakan hal yang wajar.

Namun, secara psikologis kerenggangan di antara perbedaan wajib diakhiri karena pada hakikatnya sesama manusia saling membutuhkan  

"Harus rekonsiliasi lagi, baik itu keluarga, teman dan sebagainya," kata Psikolog Universitas Indonesia, Bunda Rosmini, kepada Tagar News, Jumat 19 April 2019.

Bunda Rosmini mengungkapkan sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk mempererat tali silaturahmi. Salah satu trik yang dapat dilakukan dengan melakukan pendekatan terkait ketertarikan yang serupa. Misal, kebiasaan yang sering dilakukan bersama.

"Harus diawali dengan hal-hal yang biasa dilakukan, ngobrol lagi tentang hobi. Jangan diungkit lagi yang udah-udah, supaya ngga terjadi lagi perdebatan," tuturnya.

Bunda Rosmini menegaskan Pilpres hanya salah satu rangkaian kehidupan, masih terdapat ruang dalam aktivitas selain pesta demokrasi yang mengharuskan manusia bersinggungan dengan sesamanya.

"Kalo pada waktu sekarang ini, pada hal-hal tertentu masih saling membutuhkan. Jadi kita ngga boleh begitu," tambahnya.

Memang tak bisa dipungkiri, kata Bunda Rosmini, jika penyebab perdebatan itu karena seseorang yang fanatik terhadap seseorang pilihannya. Untuk itu dia menghimbau agar tidak terlalu fanatik terhadap seseorang.

"Fanatik itu tidak baik, apalagi sampai mengidolakan sifat seseorang," tandasnya.

Baca juga:

Berita terkait
0
Jelang Pilkades, BLT Corona Pamekasan Rawan Politis
Direktur LKRM menilai BLT Corona rawan diselewengkan untuk kampanye kepala desa jelang Pilkades serentak 2020.