UNTUK INDONESIA
Cara Asyik Menulis Bareng GMKI dan Tagar.id
Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Bandung menggandeng Tagar dalam menyelenggarakan pelatihan dasar menulis di Gedung GMKI Bandung.
Pemimpin Redaksi Tagar.id Fetra Tumanggor bersama mahasiswa-mahasiswi GMKI Bandung pada Sabtu, 5 Oktober 2019. (Foto: Tagar/Fitri Rachmawati)

Bandung - Menulis itu sungguh mengasyikkan, terlebih jika tulisan yang sudah terpublikasi dibaca banyak orang, karena terindeks di mesin pencarian Google. Hal tersebut tentu menjadi kebanggan tersendiri bagi seorang penulis. Untuk itu Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Bandung menggandeng Tagar menyelenggarakan pelatihan dasar menulis.

Acara ini bertujuan agar mahasiswa dan mahasiswi GMKI Bandung, mampu menerapkan cara menulis berita yang baik dan benar. Utamanya agar berita di-klik banyak orang yang berselancar menggunakan Google.

Pemimpin Redaksi Tagar Fetra Tumanggor yang hadir sebagai pembicara menyampaikan hal-hal paling mendasar dalam menulis. Di antaranya agar ide, gagasan, sudut pandangan, atau kegiatan yang akan terpublikasi atau dimuat di media.

Pertama, menurut Fetra, seorang penulis harus mampu membuat tulisan semenarik mungkin, baik dan penting, serta bermanfaat bagi pembaca.

Memang, saya akui membuat paragraf pertama itu paling susah dan ini dialami semua orang. Bahkan penulis senior sekalipun di Indonesia.

“Tidak usah bertele-tele, menggunakan kalimat panjang atau pendahuluan yang tidak jelas. Langsung saja to the point,” tuturnya dalam acara bertajuk Pelatihan Menulis Gen #2, di Gedung GMKI Cabang Bandung, Jawa Barat, Sabtu, 5 Oktober 2019.

Putra kelahiran Pematangsiantar ini menjelaskan, penulis harus menghindari bahasa yang tidak enak dibaca pada paragraf pertama, kemudian harus menghindari gagasan menulis yang melompat-lompat. Hal tersebut berlaku dalam konteks membuat berita. 

Dia menjelaskan, pada paragraf pertama atau sering disebut lead, harus mengandung gambaran umum suatu berita. Menurutnya, teras berita menjadi sangat penting, karena akan menggambarkan berita secara keseluruhan dan menjadi daya tarik orang untuk mengetahui informasi yang ditulis.

“Memang, saya akui membuat paragraf pertama itu paling susah dan ini dialami semua orang. Bahkan penulis senior sekalipun di Indonesia, paragraf pertama menjadi hal paling susah dalam mengawali sebuah tulisan atau berita,” tuturnya.

Fetra menerangkan, lead yang baik harus mengandung tiga atau empat kalimat yang di dalamnya sudah mencakup unsur 5W+1H sebagai prinsip dasar penulisan berita. Yang dimaksud 5W+1H yaitu, what (apa), who (siapa), where (dimana), when (kapan), why (mengapa) dan how (bagaimana).

“Dan yang perlu diingat, biasakanlah membuat out line, isi tulisan dahulu baru membuat judul yang tepat dan sesuai dengan tulisan. Jangan terbalik membuat judul dulu, karena nanti kita akan terpaku pada judul dalam membuat tulisan,” ujarnya.

Pria berdarah Batak ini memandang, pemilihan judul berita sangat penting, terlebih di era jurnalistik online seperti saat ini. Hal di mana akan membuat orang lain tertarik atau penasaran membaca tulisan yang sudah terpublikasi

"Buatlah judul harus eye catching. Kenapa? Karena selain lead atau paragraf pertama, judul tulisan menjadi kunci tulisan yang dibuat," kata dia.

Dia mengimbuhkan, layaknya jalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan. Di sana banyak barang menarik yang berjejeran di toko. Menurut dia, pembeli akan memilih barang yang menarik atau eye cathing.

"Sama seperti membuat berita harus seperti itu. Perkara persoalan barang itu berkualitas atau tidak, itu persoalan kedua, yang jelas buatlah judul yang menarik. Kalau tak menarik, saya yakin pasti ditinggal (tidak dimuat media),” ujarnya.

Kemudian, hal terpenting lainnya dalam menulis adalah soal penempatan kutipan narasumber. Fetra menilai, kutipan atau statement sebaiknya terdapat di alinea kedua atau ketiga. 

Sehingga, kata dia, keseluruhan isi berita akan memiliki alur cerita yang mengalir enak dibaca, hal itu akan membuat pembaca memperoleh kenikmatan saat menemukan informasi yang dibutuhkannya.

Kesalahan Menulis yang Sering Dilakukan

Pemimpin Redaksi Tagar.id Fetra TumanggorPemimpin Redaksi Tagar.id Fetra Tumanggor. (foto: Tagar/Fitri Rachmawati)

Fetra memandang, dari berbagai kesalahan yang sering muncul di dalam penulisan adalah penggunaan huruf kecil dan besar, kata sambung, kata depan, buka dan tutup kurung, lalu kutipan. Kemudian, cara penulisan kata asing dan daerah yang terkadang lupa untuk dimiringkan penulis. Hal tersebut ia nilai akan membuat pembaca tidak nyaman.

“Hal yang selalu salah dalam penulisan (yang sering ditemui) kata 'di' untuk nama tempat harus dipisah. Di luar itu, harus disambung. Hindari juga penyebutan gelar, ini hanya untuk penulisan di media, karena media mainstream seperti Detik, Kompas dan Tagar biasanya menulis orang tanpa gelar. Biasanya itu yang dilakukan media kredibel,” ujar dia.

Dia menegaskan, seorang penulis harus menghindari repetisi atau pengulangan kata, kesalahan penempatan tanda baca dan ejaan, alur, atau struktur penulisan yang melompat-lompat. 

Kemudian, yang harus diperhatikan adalah pemilihan kalimat efektif dan tidak efektif. Upayakan, kata dia, jangan menggunakan kata mubazir yang sebenarnya tak memiliki makna. Semisal, penggunaan kata seperti, untuk, oleh, dari, namun demikian, dalam rangka, sehingga, dan seterusnya.

“Saat menulis, anda harus fokus pada satu ide, gagasan, atau angle. Sebagai penulis, kita harus menyadari sebuah tulisan tidak mungkin mencakup seluruh sudut padang sebuah topik. Kita harus rela memilih salah satu angle yang hendak ditulis. Ingat, tanpa angle yang tajam, tulisan menjadi tidak fokus,” ujar Fetra.

Supaya Terus Dibidik Google

Pemred Tagar.idPemimpin Redaksi Tagar.id Fetra Tumanggor bersama mahasiswa GMKI Bandung. (foto: Tagar/Fitri Rachmawati).

Pada kesempatan ini Fetra juga membagikan tips agar tulisan masuk indeks di mesin pencarian Google. Menurut dia hal yang pertama harus dilakukan adalah menggunakan judul yang menggunakan keyword atau kata kunci yang selalu dicari orang di Google. 

Mengingat judul menjadi wajah dari seluruh isi berita. Maka, kata dia, judul tak perlu panjang, sebaiknya ringkas, harus sesuai dengan acuan Google yaitu maksimal 54 karakter dengan spasi.

“Di media online, judul yang baik harus ada keyword atau kata kunci. Karena itu, yang dibutuhkan cepat diindeks oleh Google,” ujarnya.

Dia memandang, apabila berita telah terindeks Google, seperti tujuan awal. Utamanya untuk menjaring pembaca meng-klik berita tersebut.

“Dan sebuah tulisan akan semakin banyak pembaca jika ada di halaman satu Google,” tuturnya.

Dia mengatakan, selain kata kunci harus masuk di judul, keyword pun harus masuk di lead atau paragraf pertama tulisan, karena algoritma Google lebih suka merangkum hal tersebut di awal. 

Pria berkacamata ini memandang, Google adalah mesin pencarian nomor wahid di dunia, yang digunakan warganet untuk mencari apapun informasi.

“Kalau mau dibidik Google ikutilah apa yang dia mau. Dia yang menentukan hidup dan mati kita, karena tak ada pesaing Google sampai saat ini. Lihat saja, saat ini apa pun itu pasti menggunakan Google,“ kata dia. []


Berita terkait
GMKI: Revisi UU KPK dan RKUHP Harus Libatkan Publik
PP GMKI meminta pemerintah dan DPR melibatkan publik dalam penyusunan revisi UU KPK dan RUU KUHP. KPK harus semakin diperkuat.
GMKI Endus Aktor Intelektual dalam Insiden di Wamena
Ketua Umum PNPS GMKI Febry Calvin Tetelepta meminta aparat kemananan untuk menindak tegas aktor intelektual dalam insiden di Wamena, Papua.
9 Poin Pernyataan GMKI Terkait Insiden Wamena-Jayapura
PP GMKI berduka saat mengetahui insiden kericuhan kembali terjadi di Tanah Papua, yakni Wamena dan Jayapura menelan korban jiwa.
0
Sekjen NasDem: Soal Kabinet, Itu Kewenangan Presiden
Pertemuan Prabowo Subianto dengan Surya Paloh tidak membicarakan soal koalisi, opsisi dan jatah menteri karena merupakan kewenangan presiden