Indonesia
Bom Bunuh Diri, Psikolog: Pelaku Dicuci Otak
Psikolog Sebut pelaku-pelaku bom bunuh diri sudah dicuci otaknya.
Kejahatan Terorisme

Jakarta - Psikolog dari Universitas Indonesia Rosmini mengakui orang yang mencuci otak pelaku bom bunuh diri, seperti di Kartasura, Sukoharjo, orang yang canggih. Ia menyikapi pelaku-pelaku yang melakukan bom bunuh diri disebabkan brainwashing atau cuci otak dari paham-paham radikal.  

"Memang orang yang memberikan informasi (paham-paham radikal) ini mungkin canggih sekali. Sehingga bisa seperti brainwashing atau mencuci kepala seseorang, supaya dia tidak bisa berpikir dengan logika yang benar" ucapnya kepada Tagar, Selasa, 4 Juni 2019.

Dia mengatakan ada paham tertentu yang bisa berdampak pada perilaku seseorang sehingga melakukan perbuatan di luar dari keagamaan.

Baca juga: Polisi Sebut Pelaku Bom Bunuh Diri Terpapar ISIS

"Sebetulnya paham-paham tertentu itu kemudian mengajarkan sesuatu yang kadang-kadang memang tidak bisa diterima sama akal, misalnya membunuh orang atau apa gitu," ucap dia.

Jika seseorang itu sudah dicuci otaknya dengan paham-paham yang salah (radikal), kata dia, tak menutup kemungkinan orang tersebut akan menganggap ajaran itu benar. 

"Boleh dikatakan terdoktrin dengan itu. Tapi juga yang pasti dengan paparannya (aliran radikal) yang bagus sehingga dia bisa terima dengan akalnya dia. Sehingga dia berpikir bahwa memang itu yang terbaik dan bahwa itu memang bisa diterima oleh Allah pahalanya. Pengen masuk surga makanya saya harus melakukan ini. Sebenarnya tidak ada di agama atau agama apapun untuk kemudian melakukan jika masuk surga dengan cara membunuh orang lain. Itu, kan, gak ada," ujarnya. 

Sementara melihat semakin maraknya pelaku bom bunuh,  pengamat media Ignatius Hariyanto mengajak masyarakat bijak menggunakan media sosial. 

"Ya jangan sharing foto-foto korban bom, walau itu adalah pelaku sendiri. Foto-foto semacam itu bisa menimbulkan kepanikan dalam masyarakat," kata Ignatius Hariyanto kepada Tagar, Selasa 4 Juni 2019. 

Baca juga: Terduga Pelaku Bom Bunuh Diri Bernama Rofik Asharudin

Dia menilai media sosial bisa menjadi sarana untuk teroris mengancam keamanan dan kenyamanan masyarakat. Sehingga berakibat pada kepanikan dan ketakutan. 

"Medsos dalam situasi seperti ini bisa jadi penyebar yang sangat cepat dan tak mudah dikontrol. Dengan kecepatan yang tak terkontrol tadi maka publik harus punya ketrampilan literasi media untuk bisa menyaring mana konten yang perlu untuk dishare dengan kelompok lain," ujarnya. []



Berita terkait
0
Transportasi Lumpuh dan Bakar Ban di Manokwari
Massa memblokade sejumlah jalan utama di Manokwari, Papua Barat dengan membakar ban.