UNTUK INDONESIA
Bisnis Ular dan Reptil di Yogyakarta, Bukan Cuma Menjual
Bisnis ular dan reptil di pasar satwa Yogyakarta bukan sekadar menjual, tetapi juga mengedukasi dan melestarikan melalui penangkaran.
Seekor iguana mencengkeram besi yang menjadi kandangnya, di kawasan pasar satwa dan tanaman hias Yogyakarta, Senin, 2 November 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Yogyakarta – Kuku reptil berwarna hijau kekuningan itu terlihat runcing dan tajam, mencengkeram pada lubang-lubang di sela kandang besi yang mengurungnya. Sisiknya yang tampak kasar serasi dengan tampilannya yang sangar dan barisan duri pada bagian punggungnya.

Sejumlah binatang yang bentuknya hampir sama tetapi berbeda warna, juga terdapat di tempat itu. Seluruh iguana, nama binatang itu, berada dalam kandang yang terbuat dari besi beraneka ukuran. Sebagian terlihat bermalas-malasan dan diam di dalam kandang, lainnya berjalan bolak-balik di kandangnya.

Hanya beberapa meter dari tempat iguana-iguana itu, sejumlah reptil lain dikurung dalam kandang yang terbuat dari kotak kaca atau mika. Mulai dari ular piton beraneka warna, kura-kura, biawak, dan beberapa jenis reptil lain.

Cerita Reptil Yogyakarta (2)Seekor ular berwarna orange merayap dalam kotak kaca yang menjadi kandangnya, Senin, 2 November 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Seekor ular kecil berwarna orange merayap pelan di dalam kurungannya. Lidahnya tak henti dijulur-julurkan. Sementara belasan biawak kecil bergerak lincah di kotak plastik yang terletak tidak terlalu jauh dari tempat ular.

Suara burung-burung berkicau dari sisi lain lokasi itu, Pasar Satwa dan Tanamah Hias Yogyakarta (PASTY), terdengar hingga ke lapak penjualan reptil milik Andri tersebut. Obrolan beberapa pengunjung yang datang serombongan sesekali terdengar. Mereka memotret beberapa reptil yang menurut mereka unik.

Ladang Rezeki

Denny Tri Anggoro, 22 tahun, seorang rekan Andri di lapak penjualan reptil tersebut, mengatakan, menjadi penjual reptil adalah pilihan dan kesengajaan, dengan berbagai pertimbangan.

Misalnya menjual burung berkicau, mamalia kayak kelinci dan sebagainya itu kayaknya udah mainstream banget, biasa aja. Sedangkan kalau untuk reptil kan nggak pasaran, nggak mainstream gitu lho.

Peminat dan pehobi reptil pun cukup banyak, sehingga reptil jualannya cukup laris di pasaran, khususnya pembeli melalui sitem daring (dalam jaringan) atau online.

Dia mengakui, bagi sebagian orang, reptil dinilai sebagai binatang yang menakutkan, atau setidaknya menjijikkan. Mereka bisa jadi takut digigit dan sebagainya. Tapi bagi Denny dan para penjual reptil, binatang melata itu merupakan ladang rezeki.

“Tapi bagi kami itu adalah ladang rezeki. Bahkan untuk mas Andri yang punya kios ini, beliau juga melakukan kirim-kirim ke luar negeri,” kata Denny, Senin, 2 November 2020.

Denny menegaskan, beberapa jenis reptil lokal dari Indonesia, yang seluruhnya merupakan hasil penangkaran atau budidaya itu dikirim hingga ke beberapa negara.

Cerita Reptil Yogyakarta (3)Seekor iguana berwarna orange dengan garis-garis hitam diam bermalas-malasan di dalam kandangnya, Senin, 2 November 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Peminat reptil yang cukup banyak, membuat beberapa kalangan tak jarang mengadakan kontes reptil. Kata Denny, hampir semua jenis reptil ada kontestasinya, mulai dari ular, iguana, bahkan biawak yang sebagian orang dianggap sebagai binatang pengganggu karena sering memakan ayam peliharaan.

Kontes untuk biawak biasanya melombakan motif dan corak warnanya. Biawak dari daerah yang berbeda memang memiliki corak dan motif yang berbeda, meskipun jika tidak ada pembanding, akan sulit untuk membedakan coraknya.

“Biawak itu ada dari lokal Pulau Jawa, Sumbawa, Sumatera, terus dari Papua juga ada,” kata Denny menambahkan.

Penilaian warna dan corak biawak dipatok dengan grading. Mulai dari Grade A yang merupakan grade tertinggi, kemudian B, C, dan D. Grade D merupakan yang terendah dari keempat grade.

“D itu yang biasa-biasa aja. Untuk biawak sendiri kalau udah menilai motif sama warna nggak bisa ada patokan harganya, karena reptil itu sendiri banyak kontes. Segala reptil ada kontesnya. Besok tanggal 8 November 2020 di Jogja ada, di Hotel Hyatt.”

Jenis biawak yang banyak diminati sebagai biawak kontes adalah biawak asal Sumbawa. Biawak jenis itu, lanjut Denny, motif normalnya pun sudah terlihat bagus dan berbeda dengan biawak lain.

“Dari Sumbawa, karena warnanya motif normal pun sudah bagus. Kalau biawak Jawa nggak kayak gini.”

Edukasi dan Melestarikan

Dari sejumlah reptil yang dijual, ular dan iguana menjadi jenis yang paling banyak dicari, selain biawak. Bendrat Reptile, nama lapak tempat Denny bekerja, menyediakan beberapa jenis ular lokal Indonesia dan ular impor, baik yang berbisa maupun yang tidak berbisa.

Cerita Reptil Yogyakarta (4)Suasana di lapak Bendrat Reptile milik Andri di pasar satwa dan tanaman hias Yogyakarta, Senin, 2 November 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Ular yang banyak diminati oleh pelanggan adalah piton yang sudah mengalami permainan gen, misalnya warnanya menjadi berbeda dengan piton kebanyakan. Ada yang albino, coraknya berbeda, dan beberapa hasil permainan gen lainnya.

“Yang paling laris itu iguana sama ular. Ular yang diminati malah ular impor. Ular lokalnya udah habis, sisa beberapa jenis piton,” kata Denny melanjutkan.

Khusus ular-ular berbisa yang bisa membahayakan, pihaknya tidak memajangnya di bagian luar lapak. Ular-ular itu disimpan di bagian dalam lapak, dan hanya dikeluarkan jika ada pengunjung yang mencari. Hal itu dilakukan demi keamanan pengunjung.

“Yang berbisa juga ada tapi tidak didisplay di depan, untuk mengantisipasi kalau ada pengunjung yang agak riweh, nyoba-nyoba nangkap dll. Jadi yang berbisa ditaruh di dalam, kalau ada yang tanya baru diambilkan.”

“Untuk albino ini kan dari Amerika dibawa ke sini dan dijual di sini. Ular impor juga ada,” dia mengulang.

Denny menambahkan, pandemi Covid-19 cukup memengaruhi penjualan reptil secara offline atau luar jaringan (luring), meski secara daring tidak banyak perubahan.

Salah satu alasan berkurangnya pembeli reptil melalui luring ini adalah kekhawatiran calon pembeli terkait penularan virus Corona melalui reptil.

“Kalau untuk di pasar cukup ngaruh karena orang yang bepergian kan jadi sedikit, apalagi untuk reptil kan orang awam takut, mereka khawatir reptil bisa menyebarkan virus Corona, misalnya ular dll,” kata pemuda berkumis tipis ini.

Cerita Reptil Yogyakarta (5)Denny Tri Anggoro, 22 tahun, sedang menggendong seekor Red Tegu atau kadal Argentina di depan lapak Bendrat Reptile, kawasan pasar satwa dan tanaman hias Yogyakarta. (Foto: Tagar/ Dok Pribadi Denny)

Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengatasi hal itu adalah dengan memberikan edukasi pada masyarakat. Menurut Denny, penjual dan pehobi reptil biasanya bergabung dalam komunitas. Melalui komunitas itulah edukasi diberikan pada masyarakat.

Edukasi yang diberikan bukan hanya bahwa reptil yang tidak menularkan virus Corona, tetapi juga tentang jenis reptil yang tidak boleh dipelihara, penanganan gigitan ular berbisa dan lain-lain. Itu dilakukan bahkan sebelum pandemi.

“Kemudian edukasi reptil yang berbahaya untuk manusia dan tidak bisa dipelihara, penanganan gigitan hewan berbisa. Edukasi itu disampaikan melalui komunitas-komunitas yang ada”.

Di Daerah Istimewa Yogyakarta, hampir semua kabupaten memiliki komunitas pecinta reptil. Komunitas-komunitas itu kemudian bergabung di satu komunitas besar yang ada di Kota Yogyakarta.

Pemahaman dan pengetahuan yang diketahui oleh para anggota komunitas membuat mereka bukan sekadar menjual dan mengedukasi, tetapi juga berupaya melestarikan reptil-reptil yang ada.

“Selain menjual juga mengedukasi dan melestarikan. Yang kita jual bukan hasil tangkapan alam tapi penangkaran. Sebab kalau dari tangkapan alam karakter atau sikapnya beda. Misalnya ular, kita ternak, dan hasil kawin silangnya muncul gen dengan corak bagus.”

Mengenai harga reptil, khususnya ular, kata Denny, bisa mencapai ratusan juta rupiah, khususnya untuk ular impor. Tapi ular seharga di atas Rp 10 juta tidak tersedia di lapaknya, ular-ular itu hanya dijual secara daring.

“Tapi yang di sini harganya sekitar sejutaan ke atas. Kalau ada pesan online bisa. Harga di atas Rp 10 juta itu udah online semua,” kata dia.

Perawatan untuk reptil-reptil yang ada tidak terlalu sulit, khususnya dalam hal pakan. Beberapa reptil tidak perlu diberi makan setiap hari, seperti ular dan biawak. Bahkan untuk ular piton, kata Denny, bisa tidak makan selama satu tahun.

“Ular piton itu bisa bertahan hidup tanpa makan selama setahun, tapi harus minum. Untuk biawak, kasih makannya dua atau tiga hari sekali, kalau masih anakan dikasih jangkrik, atau anakan tikus, atau cecak. Untuk yang makan setiap hari itu iguana dan kura-kura.” []

Baca juga:

Nestapa Pemulung Aceh Diusir Camat Hingga Tak Terima Bantuan

Kebun Bunga Amarilis di Yogyakarta yang Rutin Viral

Berita terkait
Ramainya PASTY di Yogyakarta, Jual Burung Hantu hingga Ulat
Beberapa jenis hewan yang sekilas tidak lazim dipelihara dan diperdagangkan terlihat dijual di pasar hewan dan tanaman hias Yogyakarta (PASTY).
Motif Batik Tradisional di Stadion Modern Manahan Solo
Pascarenovasi besar-besaran di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, terjadi perubahan menyolok, termasuk adanya motif batik Kawung.
Hobi dan Tidak Sengaja Bisnis Tanaman Anggrek di Yogyakarta
Sepasang suami istri di Yogyakarta menekuni bisnis tanaman anggrek berawal dari hobi, ketidaksengajaan dan dampak pandemi Covid-19.
0
Tak Bisa Jalan Akibat Kanker, Petani di Solok Butuh Bantuan
Seorang petani penderita kanker di Kabupaten Solok butuh uluran tangan para dermawan.