Hobi dan Tidak Sengaja Bisnis Tanaman Anggrek di Yogyakarta

Sepasang suami istri di Yogyakarta menekuni bisnis tanaman anggrek berawal dari hobi, ketidaksengajaan dan dampak pandemi Covid-19.
Knope atau pohon-pohon anggrek yang baru memiliki mata tunas baru, yang dijual oleh pasangan Agus Wawan Setiawan dan istrinya Wahyuti WUlandari di Yogyakarta, Minggu, 1 November 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana.

Yogyakarta – Puluhan kuntum bunga berwarna-warni menghiasi halaman rumah yang disulap menjadi kebun mini. Di bagian atas kebun itu terpasang jaring halus berwarna senada dengan mendung yang menggelapkan langit.

Sebuah kipas angin dinding yang dipasang pada tiang penyangga jaring berputar ke kiri dan ke kanan, menggoyangkan beberapa kuntum bunga anggrek yang terletak tidak jauh dari situ.

Seorang perempuan berhijab terlihat menata beberapa pot berisi bunga anggrek. Dia mengambil satu pot berisi anggrek bulan berwarna ungu, kemudian memindahkannya ke salah satu rak lain. Sesekali dia membetulkan letak masker yang menutupi wajahnya.

Cerita Anggrek Yogyakarta (2)

Wahyuti Wulandari, 43 tahun, pemilik kebun anggrek mini yang berbisnis tanaman anggrek dari hobi dan ketidaksengajaan. Foto diambil Minggu, 1 November 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)


Hanya beberapa menit berselang, seorang pria berjenggot tipis keluar dari pintu rumah, kemudian mendekati dan membantu perempuan berhijab itu menata anggrek-anggrek milik mereka.

Sepasang suami istri itu, Agus Wawan Setiawan, 46 tahun dan Wahyuti Wulandari, 43 tahun, baru dua bulan menekuni bisnis baru mereka sebagai pembudidaya dan penjual anggrek.

Hobi yang Menghasilkan Uang

Bisnis anggrek yang digeluti oleh sepasang wirausahawan ini berawal dari hobi, ketidaksengajaan, dan pandemi Covid-19.

Agus menceritakan, awalnya sang istri yang sebelumnya menggeluti usaha penjualan oleh-oleh haji dan umrah serta membuka cabang biro perjalanan umrah ini diajak oleh rekannya untuk membeli anggrek.

“Istri yang diajak oleh teman yang merupakan pengusaha besar di Jogja. Beliau mengajak untuk belanja anggrek. Saat diajak, istri kaget karena ternyata di kalangan menengah ke atas, mereka bisa belanja tanaman seperti ini sampai ratusan ribu hingga jutaan rupiah,” ucap Agus, Minggu, 1 November 2020.

Cerita Anggrek Yogyakarta (3)

Kebun anggrek mini milik pasangan Agus Wawan Setiawan dan Wahyuti, di Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Foto diambil Minggu, 1 November 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Dari situ, insting bisnis suami istri ini bergerak, karena ternyata bagi sebagian kalangan, khususnya menengah ke atas, pandemi Covid-19 bukan merupakani masalah. Mereka tetap melakukan hobinya, termasuk bercocok tanam bunga anggrek.

Akhirnya Agus dan Uti, sapaan akrab sang istri, mulai berburu anggrek. Mereka juga membagi tugas, Agus yang memiliki dasar pertanian dan memang hobi bercocok tanam bertugas membudidaya dan merawat, sementara Uti memasarkan.

Kita coba hunting anggrek. Akhirnya saya menanam, istri jualan. Dari anggrek yang besar-besar akhirnya nyari yang masih knope, masih spike, kemudian nyari yang masih kecil, kita coba kembangkan.

Knope adalah istilah untuk pohon yang sudah muncul batang dan kuncup bunganya, tetapi belum mekar. Sementara spike adalah pohon anggrek yang baru memiliki calon batang bunga. 

Selama dua bulan menjalani hobi yang menjadi bisnis ini, ternyata respons pasar cukup bagus. Setiap hari selalu ada pembeli yang datang.

“Artinya, bagi kami yang skala mini garden yang hanya memanfaatkan lahan pekarangan rumah ini ya tiap hari pasti adalah omzet masuk.”

Mereka pun keterusan, apalagi didukung dengan kebiasaan mereka yang suka travelling. Setiap mengunjungi suatu darah, mereka menyempatkan untuk berburu anggrek.

Hobi Agus pun mengalami pergeseran, atau lebih tepatnya penambahan, dari hobi memelihara anggrek hybrid yang laku di pasaran, bertambah menjadi hobi anggrek spesies atau anggrek liar yang hanya tumbuh di hutan, untuk koleksi.

“Ternyata anggrek tidak hanya bisa dinikmati bunganya. Bagi penghobi bisa dinikmati karakter daun dan akar, jadi bagi kita tidak peduli misalnya bunganya sudah rontok, yang penting akar dan daun masih sehat, maka akan tumbuh menjadi bunga baru,” ucapnya.

Musim Hujan Jadi Tantangan

Mengenai perawatan bunga anggrek, Agus mengatakan tidak terlalu sulit. Secara umum, tanaman anggrek membutuhkan 50 persen sinar matahari, tetapi bukan sinar matahari langsung. Itulah fungsi jaring yang disebut paranet terpasang di atas kebun mini mereka.

“30-60 persen sinar matahari. Sehingga kita harus ada paranet. Kemudian jenis-jenis anggrek bulan tidak boleh langsung kena air. Kalau jenis dendrobium, yang penting ada paranet tidak apa-apa kena air langsung,” kata pemilik Rara Orchid ini, sambil menambahkan bahwa  kebun anggrek mini mereka sudah ada di google maps dan Instagram dengan nama yang sama.

Tanaman anggrek menyukai tempat yang lembab, tetapi jangan sampai kelebihan air. Sebab jika kelebihan air, akibatnya akar atau daun bisa membusuk, terutama anggrek bulan. Sedangkan anggrek jenis dendrobium sedikit lebih tahan.

Yang paling rumit dalam memelihara anggrek adalah cuaca. Saat musim hujan seperti sekarang ini anggrek rawan kena jamur.

“Terutama anggrek bulan, jadi perlu tiap hari jeli melihat. Yang saya lakukan setiap seminggu sekali saya semprot vitamin B1. Kemudian anggrek yang baru masuk biasanya saya sterilkan dulu medianya pakai fungisida,” ujarnya lagi.

Saat ini ada beberapa jenis anggrek yang dimiliki oleh Agus dan Uti. Kebanyakan adalah anggrek bulan, mulai dari anggrek bulan mini, medium, jumbo, sampai premium. Jenis lain adalah dendrobium, mulai dari jenis biasa sampai anggrek keriting. Kemudian anggrek vanda, oncidium, yang seluruhnya merupakan anggrek hybrid.

Cerita Anggrek Yogyakarta (4)Dua kuntum anggrek spesies gramatophyllum scriptum yang dikenal dengan anggrek macan, di kebun anggrek mini milik Agus Wawan Setiawan, di Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu, 1 November 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

“Kemudian ada anggrek spesies, untuk koleksi pribadi, tapi saya nggak hapal namanya. Susah-susah.”

Dia menambahkan, dirinya juga menyiapkan salep khusus untuk anggrek, fungsinya mempercepat pertumbuhan mata tunas dan bunga anggrek, khususnya anggrek bulan. “Untuk percepatan penumbuhan tunas baru dan bunga baru, kita pakai salep untuk merangsangnya. Anggrek berbunga tahan bisa sampai 3 bulan, bahkan saya dapat informasi ada yang bertahan sampai 11 bulan.”

Sementara, Uti, menambahkan, sebelum gemar menanam anggrek, dia dan suami hobi menanam tanaman buah dalam pot.

“Tadinya aku kan lebih ke tabulampot (tanam buah dalam pot), tapi kebetulan toko libur, haji dan umrah juga leren (berhenti), aku kan di rumah. Nah karena di rumah aku seneng antar teman-teman belanja bunga, salah satunya anggrek. Mereka belanja sampai jutaan,” kata Uti.

“Akhirnya dari situ aku kepikiran, karena aku kan punya banyak teman dan channel, jadi aku coba ke teman yang udah besar punya, ke Wonosobo dan tempat anggrek lain, aku coba belanja Rp 3 juta, Rp 5 juta, kok satu bulan itu omzetnya sampai Rp 15 juta, padahal iseng, cuma gini-gini doang, nggak nawarin ke mana-mana, cuma lewat online.”

Kata Uti, rekan dan relasinya cukup sering berbelanja pohon anggrek. Dalam sebulan ada yang bisa berbelanja dua hingga tiga kali. Bahkan tidak jarang jika sudah tiba di rumahnya, di kawasan Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, mereka yang tadinya hanya ingin membeli satu tanaman anggrek akhirnya membeli banyak karena Uti menyediakan banyak jenis anggrek.

“Kalau udah sampai sini mereka nggak mungkin cuma beli satu. Akhirnya mereka bilang, ‘WA (whatsapp) aja deh, Ti, daripada kena racun lo’” ucapnya menirukan kata-kata sang teman.

Cerita ANggrek Yogyakarta (5)Seorang keluarga Agus Wawan Setiawan memegang pot berisi tanaman anggrek, di Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu, 1 November 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Dari beragam jenis anggrek yang dijualnya, yang paling banyak diminati adalah anggrek jenis premium, harganya berkisar Rp 185 ribu hingga Rp 200 ribu.

Selain anggrek premium, Uti juga menyediakan anggrek mini dengan harga di kisaran Rp 125 ribu, anggrek midi atau standar paling mahal Rp 135 ribu, dan anggrek jumbo seharga Rp 150 per pohon.

“Aku kirim juga ke luar kota, tapi aku cuma ambil di area Jawa aja, paling jauh Jakarta, karena aku juga nggak mau ngoyo. Kalau ke luar Jawa harus ngurus ke balai karantina dll.”

Mengenai bisnis biro perjalanan umroh yang sempat mandek, Uti mengatakan saat ini sudah bisa kembali memberangkatkan jemaah, tapi dengan syarat jemaah berusia maksimal 50 tahun. Selain itu, harga paket umrah pun meningkat cukup drastis, sebab ada biaya tambahan untuk karandina dan lain-lain.

“Arab Saudi mengeluarkan regulasi baru maksimal 50 tahun. Kedua, ada biaya tambahan untuk karantina dll. Jadi yang biasanya Rp 22 juta udah berangkat, sekarang di kisaran Rp 35 juta.”

Meski bisnis perjalanan umrah sudah kembali dibuka dan biro perjalanan sudah boleh memberangkatkan jemaah, Uti mengaku tetap akan menjalankan hobi dan bisnisnya di bidang penjualan tanaman anggrek.

“Pelayanan ibadah tetap nomor satu, ini anggreknya kan hobi. Jadi nanti kita lebih ke show room bunga anggrek.”[]

Berita terkait
Kebun Bunga Amarilis di Yogyakarta yang Rutin Viral
Bunga Amarilis yang dulunya dianggap sebagai gulma oleh petani di sekitarKecamatan Patuk, Gunungkidul, kiini dibudidayakan untuk wisata.
Remaja Makassar Tanam Sayuran Hidroponik di Balkon Rumah
Seorang remaja di Kota Makassar mengisi waktu luangnya seusai belajar daring dari rumah dengan menanam sayuran hidroponik di balkon rumahnya.
Cerita Jam Malam dan Penutupan Ratusan Taman Surabaya
Sebanyak 571 taman di Kota SUrabaya masih ditutup untuk umum untuk mencegah penyebarab Covid-19. Di Taman Bungkul bahkan diberlakukan jam malam.
0
China Tuduh Amerika Politisasi Asal Muasal Virus Corona
China mengecam langkah Amerika Serikat melacak asal muasal virus corona yang disebut China sebagai “mempolitisasi” pelacakan