Bilik Disinfektan Tidak Direkomendasikan WHO

World Health Organization (WHO) tidak merekomendasikan bilik penyemprotan cairan disinfektan. Sebab, berbahaya apabila terkena mata dan mulut.
Ilustrasi - bilik disinfeksi. (Foto: Antara/Shutterstock)

Jakarta - Sejumlah kalangan menyemprotkan cairan disinfektan ke segala arah, termasuk ke jalanan dan tubuh manusia, dalam menghadapi pandemik coronavirus Covid-19 agar tidak tertular.

Bukan hanya itu, bilik untuk menyemprotkan cairan disinfeksi ini juga sudah banyak ditemui seperti di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Namun badan kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO) justru tidak merekomendasikan. Nah loh.

WHO menyebut penggunaan disinfeksi belum diketahui efektivitasnya dalam mengendalikan penyebaran virus corona. Begitu juga dengan penyemprotan disinfektan ke jalan. Kandungan alkohol atau klorin yang ada di dalamnya disebut berbahaya jika terkena mata dan mulut.

Bilik Disinfektan di JakartaWarga berada di dalam bilik disinfektan di kawasan Blok M, Jakarta, Selasa, 24 Maret 2020. (Foto: Antara/M Risyal Hidayat)

Menurut keterangan resmi yang dikeluarkan Kalbe, Rabu, 1 April 2020, dikutip dari Antara, bahan aktif dan produk rumah tangga yang digunakan untuk disinfeksi benda (misalnya sodium hipoklorit, hidrogen peroksida, dan turunan alkohol) juga tidak boleh mengenai mata dan kulit.

Sebagai contoh, mata akan perih jika terkena alkohol 60 persen dan pencampuran berbagai bahan aktif berpotensi menimbulkan efek karsinogenik bagi tubuh. Dapat dikatakan bahwa maraknya pemasangan bilik disinfeksi hanya fenomena psikologis semata.

Kalbe juga menyebut beberapa alasan mengapa bilik disinfeksi tidak direkomendasikan. Yang pertama penggunaan disinfektan seharusnya hanya untuk permukaan benda mati saja, bukan pada manusia langsung.

Kedua, dampak paparan uap atau mist dari disinfektan akan semakin besar pada orang yang lebih rentan seperti memiliki kulit sensitif, mata sensitif (mudah berair), atau menderita asma. Orang dengan kondisi tersebut dilarang dan berhak menolak untuk menggunakan bilik disinfeksi.

Bilik Disinfektan di JakartaWarga berada di dalam bilik disinfektan yang disediakan di kawasan Blok M, Jakarta, Selasa, 24 Maret 2020. (Foto: Antara/M Risyal Hidayat)

Selain itu, efektivitas disinfektan sangat dipengaruhi oleh konsentrasi dan waktu kontak. Pada penggunaan bilik disinfeksi, konsentrasi dan waktu kontak disinfektan sangat dibatasi sehingga hasilnya menjadi tidak efektif.

Untuk mengoperasikan bilik disinfeksi diperlukan konsumsi disinfektan dalam jumlah besar, tapi saat ini suplainya semakin terbatas dan harganya cenderung meningkat.

Sebagai gantinya, WHO dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia hanya merekomendasikan penerapan hidup bersih, sehat dan physical distancing.

Langkah yang tepat untuk mencegah penyebaran virus corona adalah dengan menjaga tubuh tetap bersih dan steril dengan sering cuci tangan menggunakan sabun, mandi, dan ganti pakaian yang bersih.[]

Berita terkait
Stop Beli Hand Sanitizer dan Sabun Antiseptik
Mencuci tangan pakai sabun biasa sudah cukup membunuh virus corona (Covid-19).
Cuci Tangan Pakai Sabun Biasa Bunuh Virus Corona
Mereka menganggap mencuci tangan pakai sabun antiseptik dan hand sanitizer lebih ampuh dalam membunuh virus corona (Covid-19).
Pemkot Tangerang Buat Bilik Disinfektan Cegah Corona
Pemkot Tangerang membuat bilik penyemprotan cairan disinfektan di depan pintu masuk utama Pusat Pemerintahan Kota Tangerang cegah Corona.