Jakarta, (Tagar 24/9/2018) - Pengamat politik Sirojuddin Abbas menilai baik sikap netral yang ditunjukkan keluarga Gus Dur dalam Pilpres 2019. Keluarga Gus Dur tidak secara terang menyatakan dukungan pada Jokowi-Ma'ruf atau Prabowo-Sandi.

"Saya kira bagus keluarga Gus Dur bersikap hati-hati," ujar Sirojuddin Abbas pada Tagar News, Senin siang (24/9). 

"Keluarga Gus Dur memberikan kebebasan pada Gusdurian (pengikut Gus Dur) untuk menyalurkan aspirasi politiknya. Dan keluarga Gus Dur juga tidak terbebani politik partisan per pasangan," lanjutnya.

Sirojuddin mengatakan, kalau keluarga Gus Dur menunjukkan keberpihakan pada salah satu pasangan capres-cawapres, hal itu akan menggiring Gusdurian. 

"Dengan netral begini, nilai politik Gusdurian dan keluarga Gus Dur menjadi tinggi karena akan dibutuhkan semua orang," kata Sirojuddin. "Kalau berpihak, nilai politiknya turun." 

Seberapa besar pengaruh Gus Dur atau keluarga Gus Dur, Sirojuddin mengatakan tidak ada yang tahu hal itu. "Setidaknya imej Gus Dur yang sangat positif di masyarakat tetap terjaga."

Melihat ke belakang pada hubungan baik Gus Dur dan Megawati, Sirojuddin mengatakan bahwa hal tersebut tidak bisa lantas disimpulkan keluarga Gus Dur memberikan suaranya pada Jokowi.

"Gus Dur dekat dengan Megawati, dekat juga dengan keluarga Prabowo," ujar Sirojuddin. 

Ia mengingatkan sejarah politik tahun 1950 dan 1960an, keluarga Gus Dur dan orangtua Prabowo dekat juga. Wahid Hasjim ayah Gus Dur, dekat dengan bapak dan kakek Prabowo. 

Sirojuddin melihat sikap yang ditunjukkan keluarga Gus Dur sekarang ini adalah untuk menjaga hubungan baik dengan Megawati, Jokowi, dan keluarga Prabowo.

Baca juga: Suara Keluarga Gus Dur untuk Jokowi atau Prabowo?

Yenny Wahid(Foto: Twitter/Yenny Wahid)

Sebelumnya, Yenny Wahid putri kedua Gus Dur sempat dikabarkan akan masuk dalam tim sukses Prabowo-Sandi. Ternyata itu tidak benar. 

Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman menyebutkan pada Jumat (21/9), nama Yenny Wahid sudah dicoret dari Badan Pemenangan Prabowo-Sandi.

Awalnya calon wakil presiden Sandiaga Uno mengatakan Yenny Wahid masuk tim sukses mereka, bahkan katanya Yenny memasukkan 10-12 nama dari timnya di Badan Pemenangan Nasional Koalisi Indonesia Adil Makmur, nama resmi timses Prabowo-Sandi.

Yenny sendiri tidak menjawab tegas, apakah menerima tawaran Sandi untuk masuk tim sukses mereka, atau menolaknya. Ia menjawab secara diplomatis, bahwa ia perlu waktu untuk berpikir, masih harus salat istikharah, meminta petunjuk Allah terkait dengan rencana tim sukses Prabowo-Sandiaga memasukkan namanya dalam tim tersebut.

Sampai tahapan pilpres memasuki kampanye hari pertama, Minggu (23/9), masing-masing pasangan calon presiden dan wakil presiden sudah melaporkan nama-nama tim suksesnya secara lengkap ke Komisi Pemilihan Umum, tidak ada nama Yenny Wahid dalam tim sukses Prabowo-Sandi. 

Walaupun Yenny tidak menjadi bagian tim sukses, Sekjen Gerindra Ahmad Muzani yakin Yenny mendukung Prabowo-Sandi.

Menurut Muzani, dukungan tidak harus diucapkan dengan formal.

"Dukungan itu tidak harus diucapkan dengam formal dan verbal, yang penting kutahu yang kumau," ucap Muzani, Jumat (21/9) dilansir Antara.

 unggahan seseorang itu sambil menulis: "Kata siapa? Ngarang aja."Yenny di akun Twitter-nya, menanggapi seseorang dengan link bahwa Yenny wakil ketua timses Prabowo-Sandi. Yenny me-retweet unggahan seseorang itu sambil menulis: "Kata siapa? Ngarang aja."

Baca juga Yenny Wahid: Lha Yo Embuh, Takon Sandi Wae 

Jokowi - Sinta NuriyahPresiden Joko Widodo membungkuk, bersalaman dengan Sinta Nuriyah Wahid di kediaman keluarga Gus Dur di Ciganjur, Jakarta. Hari itu tanggal 7 September bertepatan hari lahir Gus Dur. Jokowi datang untuk meminta restu maju nyapres. (Foto: Instagram/Yenny Wahid)

Kharisma Gus Dur

KH Abdurrahman Wahid akrab disapa Gus Dur, Presiden keempat RI lahir 7 September 1940. Ia telah wafat 9 tahun silam, tepatnya 30 Desember 2009, namun kharismanya masih tetap memancar dengan terang hingga sekarang. 

Gus Dur memiliki banyak pengikut, banyak pengagum yang tergabung dalam jaringan Gusdurian, tersebar di seluruh penjuru Tanah Air dan mancanegara. 

Gusdurian adalah sebutan untuk para murid, pengagum, dan penerus pemikiran dan perjuangan Gus Dur. Para Gusdurian mendalami pemikiran Gus Dur, meneladani karakter dan prinsip nilainya, dan berupaya untuk meneruskan perjuangan yang telah dirintis dan dikembangkan oleh Gus Dur sesuai dengan konteks tantangan zaman.

Jaringan Gusdurian adalah arena sinergi bagi para Gusdurian di ruang kultural dan non politik praktis. Di dalam jaringan Gusdurian tergabung individu, komunitas/forum lokal, dan organisasi yang merasa terinspirasi oleh teladan nilai, pemikiran, dan perjuangan Gus Dur. Karena bersifat jejaring kerja, tidak diperlukan keanggotaan formal.

Jaringan Gusdurian memfokuskan sinergi kerja non politik praktis pada dimensi-dimensi yang telah ditekuni Gus Dur, meliputi 4 dimensi besar: Islam dan Keimanan, Kultural, Negara, dan Kemanusiaan.

Jumat (7/9) bertepatan hari lahir Gus Dur, Presiden Joko Widodo mengunjungi keluarga Gus Dur di Ciganjur, Jakarta. Ia bertemu Sinta Nuriyah Wahid, istri Gus Dur, beserta keluarga. Dalam silaturahmi itu Jokowi menyampaikan meminta restu maju dalam pemilihan presiden 2019. 

Yenny mengunggah foto Jokowi sedang berjabat tangan dengan Sinta Nuriyah di akun Instagram dengan catatan: "Terima kasih Pak Jokowi telah menyempatkan hadir ke Ciganjur bertepatan dengan hari lahir Gus Dur tanggal 7 September. Semoga berkenan dengan suguhan bubur merah putih sebagai tanda syukuran bersama."

Ia juga mengunggah video kunjungan Jokowi tersebut dengan melengkapinya dengan catatan: "Kayaknya saya ada keturunan Jepang ya, banyak banget nunduknya hahaha... ya inilah tradisi Jawa, selalu diajari merunduk dan menghormat, apalagi kalau tamu yang datang adalah tamu agung yang sangat layak dihormati. Tentu bagi kami, ini adalah sebuah keberkahan. Kita doakan Presiden Jokowi bisa kuat memimpin bangsa ini menuju kesejahteraan."

Sandiaga Uno - Sinta NuriyahBakal calon wakil presiden Sandiaga Uno (kiri) mencium tangan Sinta Nuriyah Wahid (kanan) saat berkunjung ke Ciganjur, Jakarta, Senin (10/9/2018). Sandi menyebut kedatangannya ke kediaman keluarga Gus Dur itu untuk bersilaturahmi. (Foto: Antara/Hafidz Mubarak A)

Tiga hari kemudian tepatnya Senin (10/9) bakal calon wakil presiden Sandiaga Uno juga mengunjungi keluarga Gus Dur di Ciganjur.

Yenny mengunggah foto Sandi sedang mencium tangan ibundanya ke akun Instagramnya dan melengkapinya dengan catatan:

"Kemarin Mas Sandi Uno menyempatkan diri untuk silaturahmi ke kediaman kami di Ciganjur untuk sowan pada Ibu Sinta Nuriyah Wahid. Beliau menyatakan sebagai orang muda, ingin meminta wejangan dan nasihat kepada Ibu dalam meniti langkah ke depan. 

Mas Sandi Uno bukan orang baru bagi kami. Saya sendiri sejak lama berkawan dengan beliau dan selalu kagum dengan kegigihan, semangat kerjanya serta rasa humornya yang tinggi. Bahkan ketika disuguhi tempe mendoan, justru beliau dengan berkelakar menyatakan ke wartawan bahwa tempenya tidak setipis ATM.

Peristiwa politik terjadi setiap 5 tahun sekali, namun bagi kami, persahabatan layaknya bisa terjalin lebih lama lagi. Dan itu hanya bisa tercapai ketika kita bisa menunjukkan sikap saling menghormati dan meghargai walaupun pilihan politik kita mungkin berbeda. 

Di luar itu semua, satu yang membuat saya gembira: semua capres dan cawapres punya komitmen untuk tidak menggunakan isu SARA dalam pilpres kali ini. Semoga para pendukungnya bisa mengikuti komitmen mereka. Kalau itu terjadi, maka siapa pun pemenangnya, Indonesia tetap juara."

Tiga hari berikutnya, Kamis (13/9) giliran bakal calon presiden Prabowo Subianto berkunjung ke rumah keluarga Gus Dur di Ciganjur, Jakarta.

Yenny tidak mengunggah foto pertemuan Prabowo dengan ibunya.

Prabowo - Sinta NuriyahBakal calon presiden Prabowo Subianto (kiri) mencium tangan istri almarhum Gus Dur, Sinta Nuriyah Wahid (kanan) saat berkunjung ke rumah keluarga Gus Dur di Ciganjur, Jakarta, Kamis (13/9/2018). (Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay)

Gusdurian

Dilansir dari laman Gusdurian, disebutkan bahwa nilai, pemikiran, dan perjuangan Gus Dur tetap hidup dan mengawal pergerakan kebangsaan Indonesia;  melalui sinergi karya para pengikutnya, dilandasi 9 Nilai Gus Dur: Ketauhidan, Kemanusiaan, Keadilan, Kesetaraan, Pembebasan, Persaudaraan, serta Kesederhanaan, Sikap Ksatria, dan Kearifan Tradisi.

Sebagaimana Gus Dur yang mendasarkan perjuangannya kepada nilai-nilai luhur, jaringan Gusdurian tidak membatasi isu yang dikelola, sepanjang terkait dengan 9 Nilai Gus Dur.  

Jaringan Gusdurian tidak terikat tempat, karena para Gusdurian alias anak-anak ideologis Gus Dur tersebar di berbagai penjuru Indonesia, bahkan di mancanegara. Di beberapa tempat, terbentuk komunitas-komunitas lokal, namun sebagian besar terhubung melalui forum dan dialog karya.

Munculnya komunitas Gusdurian lokal banyak dimotori oleh Gusdurian generasi muda (angkatan 2000an), yang bersemangat untuk berkumpul mendalami dan mengambil inspirasi dari teladan Gus Dur. Setidaknya sekitar 60an komunitas Gusdurian lokal telah dirintis sampai akhir tahun 2012.

Untuk merangkai kerja bersama dalam arena jaringan Gusdurian, dibentuklah Sekretariat Nasional Jaringan Gusdurian. Amanah yang diemban adalah menjadi penghubung dan pendukung kerja-kerja para Gusdurian di berbagai penjuru.

Dalam menjalankan amanah jaringan, Sekretariat Nasional Jaringan Gusdurian memfokuskan diri pada program-program penyebaran gagasan, memfasilitasi konsolidasi jaringan, memberikan dukungan pada upaya (program) lokal, program kaderisasi, dan peningkatan kapasitas jaringan.

Selain itu, SekNas juga menjadi koordinator untuk program-program bersama lintas komunitas Gusdurian, serta menginisiasi kelas-kelas khusus terkait jaringan. 

Beberapa di antaranya: Kelas Pemikiran Gus Dur, Forum kajian dan diskusi, Kampanye Anti Korupsi, Pelatihan entrepreneurship, Forum budaya, Workshop Social Media, Koperasi Jaringan Gusdurian

Sedangkan kegiatan-kegiatan advokasi dilakukan melalui organisasi-organisasi yang berafiliasi dengan jaringan Gusdurian dalam bentuk dukungan kerja yang bersifat khas. Misalnya untuk respons insiden Sampang melalui CMARs Surabaya, dan seterusnya.

Dalam Pilpres 2014, Inayah Wulandari akrab disapa Inayah Wahid, putri bungsu Gus Dur, mengajak para pemuda untuk tidak ikut serta menggolkan tujuan para pemimpin yang tidak diketahui track record dan visi kepemimpinannya. 

Inayah mengatakan itu Sabtu malam 31 Mei malam, saat dialog kepemudaan, 'Pemuda dan Kepemimpinan Nasional' dalam rangka syukuran hari lahir Gusdurian Surabaya.

"Pemuda sudah saatnya menentukan sikap, akan dibawa ke mana bangsa ini ke depan? Pemuda harus memiliki visi kebangsaan, sudah bukan waktunya pemuda berpangku tangan dan hanya diam," ujarnya di depan ratusan Jaringan Gusdurian, dan pemuda Surabaya.

Sembilan nilai Gus Dur itu antara lain, ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, persaudaraan, kesatriaan,  dan terakhir adalah kearifan lokal. Ketika disinggung soal dua capres yang bersaing dalam Pilpres 2014, Jokowi dan Prabowo, Inayah mengatakan, "Pilih pemimpin yang sesuai dengan 9 nilai Gus Dur yang selama ini dipegang teguh Jaringan Gusdurian Nasional," tuturnya.

Inayah juga berpesan, pilihlah pemimpin yang melakukan perubahan lalu jadi presiden, bukan jadi presiden baru melakukan perubahan. []