Indonesia
Bencana Alam Menerjang Aceh 294 Kali Sepanjang 2018, Kerugian Rp 848 Miliar
Total bencana alam 2018 meningkat 64 persen dari tahun 2017.
Personel Tim SAR menggali reruntuhan bangunan dan rumah untuk menemukan korban di lokasi likuifaksi Balaroa Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (11/10/2018). Memasuki hari ke-14 pascagempa, tsunami dan likuifaksi di Palu, Donggala, dan Sigi, pemerintah menghentikan proses evakuasi korban, sedangkan tanggap darurat diperpanjang hingga dua pekan ke depan. (Foto: Antara/Basri Marzuki)

Aceh, (Tagar 4/1/2019) - Sepanjang tahun 2018 wilayah Aceh terkena bencana alam sebanyak 294 kali. Total kerugian bencana alam tersebut ditaksir mencapai Rp 848 miliar.

"Ini meningkat secara signifikan 64 persen dari tahun 2017 dengan jumlah kejadian bencana sebanyak 185 kejadian," ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Teuku Ahmad Dadek di Aceh, Kamis (3/1).

Ahmad Dadek menambahkan, data terkait bencana lain di kota berjulukan Serambi Mekah itu sebanyak 143 kali kebakaran pemukiman, 93 kali puting beliung, 90 kali banjir dan genangan, serta 44 kali kebakaran hutan atau lahan.  

Sementara wilayah yang paling banyak mengalami kejadian bencana di Aceh sepanjang tahun 2018 adalah Kabupaten Aceh Besar, Aceh Tengah, Aceh Barat, Aceh Jaya, Bireuen dan Aceh Tenggara.

Tsunami AcehSeorang ibu lirih mengenang anaknya yang terkena gulungan tsunami Aceh pada Minggu 26 Desember 2004. Di 26 Desember 2018 itu, dia mengunjungi makam sang anak seraya memanjatkan doa dikuburan masal Tsunami Ulee Lheue, Banda Aceh, Rabu (26/12) (Foto: Tagar/Fahzian Aldevan)

Untuk kebakaran hutan dan lahan, lanjut Ahmad Dadek, masih banyak terjadi di Aceh Besar, Aceh Tengah dan Aceh Barat. Sedangkan banjir yang paling banyak terjadi di Aceh Selatan, Aceh Tenggara, Aceh Tamiang, Bireuen, Aceh Jaya dan Aceh Barat.

"Kebakaran pemukiman paling banyak terjadi di Aceh Besar sebanyak 18 kali kejadian, sementara kabupaten Aceh Tenggara terjadi tujuh kali dan Aceh Barat enam kali kejadian," ungkapnya.

"Sedangkan banjir bandang seringkali menerjang Kabupaten Aceh Tenggara, sebanyak empat kali kejadian," sambungnya.

Secara berurutan bencana lain meliputi longsor di Aceh Tengah sebanyak sembilan kali, dan Aceh Barat empat kali, sementara puting beliung sering terjadi di bagian Aceh Barat Daya.

Dampak bencana alam di Aceh sepanjang 2018 itu membuat 10.754 Kepala Keluarga (kk) yang terdiri dari 36.696 jiwa mengungsi. "Tahun ini yang meninggal dunia akibat bencana sebanyak 46 orang, dan Luka-luka sebanyak 33 orang," terang Ahmad Dadek.

Untuk kerugian akibat bencana yang paling banyak dialami di Kabupaten Aceh Utara mencapai Rp 239,5 milyar, disusul Aceh Tenggara Rp. 81,9 milyar,  Aceh Barat Rp. 81,8 milyar, Aceh Besar RP. 68 milyar dan Bener Meriah sebesar Rp. 63,5 milyar.

Tsunami AcehSejumlah umat muslim bersama warga keturunan Tionghoa melaksanakan doa bersama saat berziarah ke kuburan massal korban gempa dan gelombang tsunami di Desa Suak Indrapuri, Johan Pahlawan, Aceh Barat, Aceh, Rabu (26/12/2018). Gempa bumi berkekuatan 9,2 SR dan disusul dengan gelombang tsunami pada Minggu 26 Desember 2004 mengakibatkan 230.000 jiwa meninggal dunia di 13 negara sepanjang Samudera Hindia. (Foto: Antara/Syifa Yulinnas)

Menurut Ahmad Dadek kebakaran masih menjadi bencana yang paling banyak terjadi, terutama kebakaran pemukiman.

"Sebenarnya kebakaran pemukiman hanya dapat diminimalkan dengan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat misalnya dengan memeriksa instalasi listrik yang sudah tua yang menjadi sebab utama kebakaran," tuturnya.

Sedangkan penyebab lainnya, sambung Ahmad Dadek, perlunya kewaspadaan dalam mengelola sumber panas di rumah tangga seperti mematikan kompor dan barang-barang eletronik yang harus diawasi dengan baik.

Kemudian dari sudut kerugian bencana banjir adalah mencapai rekornya termasuk kejadian banjir bandang yang menimbulkan paling banyak kerugian baik kepada masyarakat maupun infrastruktur yang ada. Banjir paling banyak disebabkan meluapnya air sungai dan pembalakan liar yang menyebabkan banjir bandang.

kuburan massal korban tsunamiSejumlah pekerja menemukan kuburan massal korban tsunami saat menggali septitank di perumahan Lamseunong, Kajhu, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar, Rabu (19/12). (Foto: Tagar/Fahzian Aldevan)

"Belum lagi ini diperparah tata kelola lingkungan yang buruk, pembalakan liar dan pembakaran hutan dan lahan," keluhnya.Sejauh ini, kata Dadek, penanganan banjir banyak menemui kendala, pertama luasnya wilayah banjir yang harus dikendalikan, membutuhkan biaya yang besar dan sebagian besar sungai besar di Aceh berada di bawah kewenangan pusat.

"Belum lagi ini diperparah tata kelola lingkungan yang buruk, pembalakan liar dan pembakaran hutan dan lahan," keluhnya.

BPBA, katanya, sudah merencanakan akan memperbanyak membangun shelter vertikal untuk korban banjir. Sedangkan penanganan masa darurat masih seputar pemenuhan kebutuhan masyarakat, sandang, pangan, kebutuhan air bersih dan huntara.

Dalam hal kebakaran lahan dan hutan, cara yang paling baik adalah pencegahan dan penegakan hukum. Beberapa kasus hukum yang sudah inkrach paling jitu dalam memberikan efek jera kepada masyarakat.

"Sebenarnya banyak hal dapat dilakukan untuk pencegahan kebakaran lahan seperti Polhut lebih intensif lagi dalam melakukan patroli menjelang musim kemarau, memperkuat koordinasi dengan kepolisian dan TNI," pungkasnya.

Berita terkait
0
Ephorus HKBP: Mengasihi Bukan Hanya kepada Seagama
Ephorus HKBP yang tiba di kompleks gereja disambut alim ulama, tokoh Betawi dan para pemuda Betawi yang merupakan warga daerah sekitar gereja.