UNTUK INDONESIA
Begini Cara Atasi Konflik Papua Menurut Amien Rais
Menurut Amin Rais, Konflik Papua harus ditangani dengan pendekatan hati dan kemanusiaan. Yakni duduk bersama para tokoh dan perusuh.
Tokoh Reformasi, Amien Rais saat berada di Bangsal Sewoko Projo, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Sabtu 31 Agustus 2019.(Foto: Tagar/Hidayat)

Gunungkidul - Konflik Papua harus ditangani dengan pendekatan hati dan kemanusiaan. Yakni duduk bersama antara para tokoh di Indonesia dengan para perusuh.

Tokoh Reformasi, Amien Rais mengatakan, dari analisis sederhana yang dilakukannya, yang terjadi di Papua yakni casus belli (aksi atau insiden yang memicu peperangan).

"Sehingga yang dipermukaan adalah mencerminkan apa yang sudah lama, puluhan tahun di bawah permukaan itu. Dimana teman-teman Papua itu merasa ada ketidak adilan," katanya saat di Bangsal Sewoko Projo, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul usai acara Pengajian Akbar, Pelantikan Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Gunungkidul Periode 2018-2022 pada Sabtu 31 Agustus 2019.

Ketidakadilan yang dimaksud dimisalkannya seperti lingkungan atau ekologi itu hancur-hancuran, sementara orang Papua hanya menerima ampasnya. Kemudian pertambangan, orang Papua hanya menjadi penonton saja.

"Yang begitu kaya raya, digotong (dibawa) kekayaan itu ke luar negeri. Sementara orang Papua hanya jadi penonton. Kalau pun toh ada yang menetes ke teman-teman Papua itu tidak sampai satu permil," kata Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) ini.

Amien meyakini jika dirinya merasa orang Papua juga akan merasakan seperti dihempaskan. "Sudah lama sekali tidak diperhatikan, sudah cukup jauh dari peradaban. Masih sangat banyak orang Papua di gunung dan hutan tidak tersentuh peradaban modern. Kita punya manusia, personil dan dana yang lebih dari cukup, tapi mengapa tidak sampai ke sana," bebernya.

Terpenting saat ini adalah bagaimana Presiden Jokowi dan semua tokoh masyarakat, dari ulama, intelektual kampus, tidak lagi bicara sekian triliun untuk otonomi daerah khusus Papua. Atau mengirim bala bantuan seperti brimob, kopassus, dan lainnya.

Namun yang perlu digarisbawahi adalah bagaimana agar semua elemen itu bisa memenangkan atau merebut hati dan pikiran orang-orang Papua.

"Ini bisa terjadi kalau kita asumsi dasarnya tidak ada perbedaan antara Papua dan non-Papua. Jawa, Sumatera, Sunda, Bugis, Toraja, Papua itu sama. Masalahnya anda mengatakan mereka beda, jangan gitu dong. Jadi kalau dalam Islam itu, warna kulit, bentuk muka itu tidak ada bobotnya," katanya.

Amien mengatakan, saat ini sudah tidak perlu lagi ada yang saling menyalahkan. "Ini sudah waktunya kita pikir bersama, tidak ada lagi yang mengatakan ada penumpang gelap, atau penumpang setengah gelap. Itu malah jadi kacau balau," tandasnya. []

Baca juga:

Berita terkait
Jemaah Haji Papua Doakan Kondisi Segera Kondusif
Sejumlah 455 jemaah haji asal Provinsi Papua yang tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 18 tiba di Asrama Haji Sudiang Makassar.
Mahfud MD: Dua Alasan Hukum Papua Tak Bisa Referendum
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD menilai Papua tidak bisa referendum karena terganjal pada persoalan hukum nasional dan internasional.
Polisi Tetapkan 28 Tersangka Kasus Kerusuhan di Papua
Sebanyak 28 orang ditetapkan sebagai tersangka terkait aksi demonstrasi yang berakhir kerusuhan di Jayapura, Papua.
0
25 Bal Ganja Aceh, Gagal Beredar di Palembang
Satuan Reserse Narkoba Polres Langkat berhasil menggagalkan peredaran 25 bal ganja asal Aceh ke Palembang.