UNTUK INDONESIA
Anja Makhluk Halus Penculik Anak di Jeneponto
Pada malam Jumat itu seorang warga menggelar pesta pernikahan di Desa Tanammawang, Kecamatan Bontoramba, Jeneponto, Sulawesi Selatan.
Ilustrasi - Anak disembunyikan makhluk halus. (Foto: Tagar/Ardiansyah)

Jeneponto - Masa pemerintahan presiden RI Soeharto pada 1993 alat penerangan di pedesaan masih minim. Khususnya pedesaan di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Pada saat itu masyarakat masih menggunakan lampu dari minyak tanah atau dikenal masyarakat Jeneponto, lampu kaleng-kaleng. Saat itu juga belum ada sepeda motor dan mobil. Nyaris suasana tiap hari hening. Yang terdengar hanya suara jangkrik dan kodok saat memasuki musim hujan.

Pada zaman itu, menurut cerita orang dulu, ada sosok makhluk halus kerap menculik atau menyembunyikan anak kecil saat sendiri di tempat kegelapan. Orang-orang menyebut makhluk halus itu dengan nama Anja. Meski makhluk halus itu tidak pernah dilihat langsung wujudnya seperti apa, masyarakat percaya itu ada.

Pada suatu malam, tepatnya malam Jumat, seorang warga menggelar pesta pernikahan di Desa Tanammawang, Kecamatan Bontoramba, Jeneponto, Sulawesi Selatan. Alat penerang yang digunakan masih lampu strongking. 

Pada malam itu juga ada empat anak bermain petak umpet, yaitu Bayu, Dimas, Anci, dan Hendra. Dalam aturan permainan ini, satu orang berperan mencari teman-teman yang bersembunyi. Hendra berperan mencari teman yang bersembunyi.

Hingga waktu berjalan memasuki pukul sepuluh malam, suasana menjadi hening dan menyeramkan. Hanya terdengar suara anjing melolong auuuu... auuuuuu... membuat sekujur tubuh merinding.

Mereka yang masih labil, tidak mengetahui makna suara anjing melolong, tetap melanjutkan permainan petak umpet. Padahal, konon katanya, orang dulu meyakini anjing melolong pada malam hari, apalagi malam Jumat, pertanda ada makhluk halus di sekitar area tersebut.

Hendra, kamu tidak melihat Dimas?

Anak BersembunyiIlustrasi - Anak bersembunyi. (Foto: Tagar/Ardiansyah)

Permainan petak umpet baru saja dimulai. Hendra menutup mata sambil menghitung satu sampai lima. Tiga temannya berlari mencari tempat persembunyiaan. Bayu bersembunyi di kandang sapi warga, Anci bersembunyi di balik pagar warga. Sementara Dimas yang tergolong anak pemberani, bersembunyi di balik pohon beringin belakang rumah warga yang tergolong keramat.

Setelah beberapa menit bersembunyi di balik pohon dalam keadaan gelap dan menyeramkan, tiba-tiba Dimas melihat sesosok bayangan besar berambut panjang. Dimas seketika tubuhnya lemas, tidak bisa bergerak.

Dalam waktu bersamaan Hendra membuka mata, berjalan ke berbagai arah, mencari teman-temannya. Pertama ia menemukan Anci bersembunyi di samping kandang ayam warga. Usai menemukan Anci, Hendra lanjut mencari teman yang lain, dan berhasil menemukan Bayu yang sedang bersembunyi di balik pagar warga. Untuk bisa menang dalam permainan ini, Hendra harus menemukan satu lagi teman yaitu Dimas.

Tanpa rasa takut, Hendra mencari Dimas di bawah kolom rumah dan di balik pohon tempat Dimas bersembunyi, tapi tidak kelihatan. Setelah beberapa menit mencari Dimas tapi tidak ketemu, Hendra minta bantuan kepada teman untuk menunjukkan tempat persembunyian Dimas. Temannya pun dengan  yakin mengatakan Dimas bersembunyi di balik pohon itu.

Hendra, Bayu, dan Ancri menuju pohon yang dimaksud, tapi tidak melihat Dimas di sana. Karena bingung dan lelah, Hendra menyerah, mengaku kalah. Ia berteriak mengatakan menyerah, agar Dimas keluar dari tempat persembunyiannya. Namun tak ada respons. Sepi. 

Ia dan dua temannya mengira Dimas pulang ke rumah, karena waktu sudah larut malam, dan warga yang ada di acara pernikahan juga sudah banyak yang pulang. Saat itu juga Hendra dan dua teman pulang ke rumah masing-masing. 

Anak Menutup MataIlustrasi - Anak menutup mata, berperan mencari. (Foto: Tagar/Ardiansyah)

Namun apa yang terjadi? Ternyata orang tua Dimas mencari Dimas karena sudah larut malam belum pulang. Orang tua Dimas mendatangi rumah teman-teman Dimas, termasuk Hendra, mempertanyakan keberadaan Dimas.

"Hendra, kamu tidak melihat Dimas?"

Hendra menjawab, "Tadi saya bermain petak umpet bersama. Namun, saya tidak temukan Dimas, dan mengira Dimas sudah pulang ke rumah."

Orang tua Dimas meminta Hendra menunjukkan lokasi bermain petak umpet.

"Di sini kami bermain petak umpet," Hendra menunjuk area terbuka dekat tempat warga menggelar pesta pernikahan. Ia juga menunjuk pohon, tempat Dimas bersembunyi.

Orang tua Dimas berkeliling sambil berulang meneriakkan nama Dimas. Tak ada respons. Hingga waktu menunjukkan pukul sebelas malam, pencarian belum membuahkan hasil. Orang tua Dimas panik luar biasa. Mereka meminta bantuan keluarga untuk mencari keberadaan Dimas. Beramai-ramai keliling kampung, berpencar dengan penerang obor dan senter. Berjam-jam rasanya terlalu sangat lama dan membuat putus asa. Semua sudut kampung sudah diperiksa, namun Dimas tidak ada. 

Di puncak kebingungan, seorang warga bernama Daeng Situju yang dikenal memiliki kemampuan mistis, mengatakan mungkin Dimas disembunyikan mahkluk halus atau Anja. Orang tua Dimas antara percaya dan tidak, hal-hal gaib seperti itu. Tapi yang terpenting saat itu bagaimana anaknya yang hilang segera ditemukan.

Lampu Zaman DuluIlustrasi - Lampu zaman dulu. (Foto: Tagar/Ardiansyah)

Daeng Situju mengatakan kalau ada anak disembunyikan makhluk halus, kita harus memukul gendang di area anak tersebut hilang. Tanpa berpikir panjang, keluarga langsung mengambil gendang yang ada di masjid di desa tersebut, membawanya ke lokasi bermain petak umpet. Pada saat itu ada lima gendang yang dibawa ke kokasi Dimas hilang.

Orang-orang memukul gendang dengan kayu. Percaya atau tidak, setelah gendang dipukul berirama selama beberapa menit, tiba-tiba Dimas muncul di balik pohon dalam kondisi pucat gemetaran. Pohon yang sebelumnya sudah berulang kali diperiksa orang tua Dimas.

Antara lega dan marah, orang tua Dimas bertanya, "Kamu dari mana saja? Dari tadi kami mencarimu."

Di hadapan kerumunan keluarga, Dimas menceritakan apa yang dialaminya. "Saat berada di balik pohon itu, saya melihat bayangan besar di belakang. Sejak itu saya tidak bisa bergerak, hanya bisa mendengar suara." Dimas mengaku melihat orang-orang melintas mencarinya, namun ia tidak terlihat.

"Saya berteriak minta tolong, namun tidak ada orang yang mendengar. Mereka tetap lanjut mencari,"kata Dimas. "Saya berteriak kencang, tapi mereka tidak mendengar suara saya."

Dimas bisa bergerak setelah ada suara gendang. "Suara gendang berbunyi, saya bisa bergerak dan langsung lari ke sini."

Atas kejadian itu, para orang tua dulu yang ada di pedesaan melarang anak-anaknya bermain atau berkeliaran, saat waktu sudah memasuki magrib. Mereka takut anak mereka disembunyikan makhluk halus atau Anja. []

*Cerita ini berdasarkan penuturan Daeng Sattu, seorang nenek berumur 90 tahun, sesepuh setempat, kepada koresponden Tagar di Jeneponto, Ardiansyah. Tentang Anja ini diceritakan dari mulut ke mulut secara turun temurun dari waktu ke waktu.

Baca juga:

Berita terkait
Sejarah Kerajaan Sunda Empire di Bandung Jawa Barat
Kerajaan Sunda Empire di Bandung Jawa Barat adalah satu bentuk kekaisaran matahari yang ada sejak Alexander The Great, 324 tahun sebelum masehi.
Asal Mula Aceh Dijuluki Serambi Mekkah
Sebutan Serambi Mekkah menggambarkan Aceh pernah menjadi pusat peradaban dan khazanah keilmuan di Asia Tenggara.
Pembunuh Munir dalam Bilah-bilah Keris Yogyakarta
Sebagian besar keris Yogyakarta juga mengandung racun berbahaya, arsenik, zat yang menyebabkan aktivis Hak Asasi Manusia, Munir, tewas.
0
Curhatan Emak Pedagang Pasar Tradisional di Semarang
Pandemi corona membuat omzet usaha kecil di Kota Semarang terjun bebas. Seperti apa keluhan mereka?