UNTUK INDONESIA
Alasan Sultan Belum Tetapkan Yogyakarta KLB Corona
Gubernur DIY Sri Sultan HB X memberikan alasan mengapa Yogyakarta belum ditetapkan KLB Corona.
Gubernur DIY, Sri Sultan HB X (tengah) saat memberikan keterangan kepada wartawan terkait virus Corona di Yogyakarta. (Foto: Tagar/Rahmat Jiwandono)

Yogyakarta - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X akan mempertimbangkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) Coronavirus di Yogyakarta. Salah satunya jika jumlah orang yang positif terkena virus Corona (Covid-19) di Yogyakarta mencapai tujuh atau delapan orang.

Sampai saat ini, satu orang balita berjenis kelamin laki-laki, sudah dinyatakan positif virus tersebut. Balita berusia tiga tahun ini dirawat di ruang isolasi Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito Yogyakarta.

Raja Keraton Yogyakarta mengatakan kondisi di Yogyakarta masih relatif normal meski ada satu pasien dinyatakan positif Covid-19. Sehingga, aktivitas di masyarakat tetap berjalan seperti biasa meski berbagai acara dibatalkan serta imbauan tidak bepergian ke luar Yogyakarta.

"Masyarakat masih beraktivitas seperti biasa, namun diminta untuk tetap menjaga kesehatan agar tidak terturlar virus itu," ujarnya saat jumpa pers di Kepatihan Yogyakarta pada Senin, 16 Maret 2020.

Ngarsa Dalem, sapaan lain Sri Sulta HB X, mengatakan, alasan belum ditetapkannya KLB di Yogyakarta karena faktor ekonomi. Sultan menyebut banyak pedagang kecil yang menanyakan nasibnya jika Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menetapkan KLB Coronavirus.

"Mereka bertanya kepada saya, kalau KLB, terus mereka tidak bisa berjualan dan saya ditanya apakah mau menanggung biaya hidup mereka," kata pria yang sudah 31 tahun bertakhta sebagai raja Keraton Yogyakarta.

Menurut Sultan HB X, pemerintah tidak akan gegabah dalam mengambil keputusan terkait dengan penyebaran Covid-19. Sebab, Pemda DIY tidak ingin mengambil keputusan yang ekstrem sehingga masyarakat yang dirugikan.

Mereka bertanya kepada saya, kalau KLB, terus mereka tidak bisa berjualan dan saya ditanya apakah mau menanggung biaya hidup mereka.

Pemda DIY mencoba mengambil keputusan-keputusan yang tidak mengejutkan publik. Alasannya jika ada keputusan yang mengejutkan publik malah membuat bingung. "Kami akan menyesuaikan dengan perkembangan kondisi pasien-pasien yang sedang dirawat di rumah sakit," katanya.

Untuk mengantisipasi penyebaran virus Corona, Pemda DIY tidak bisa melakukannya sendiri. Butuh partisipasi dari masyarakat Yogyakarta untuk mencegahnya, salah satunya masyarakat diminta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

"Cuci tangan menggunakan sabun, karena pakai hand sanitizer itu tidak membunuh virus yang ada di tangan. Hand sanitizer hanya membunuh bakteri," tegas Sultan.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY, Pembayun Setyaningastutie mengatakan masyarakat Yogyakarta tidak perlu berbondong-bondong melakukan pemeriksaan diri karena khawatir terkena Covid-19. Warga bisa memeriksakan diri jika mengalami gejala tertentu.

Gejala tersebut antara lain sesak nafas, panas, dan batuk; baru kembali dari daerah atau negara endemis virus Corona; dan kontak langsung dengan orang yang telah dinyatakan positif Covid-19. "Kalau dari ketiga hal itu tidak ada, enggak perlu periksa," ungkapnya. []

Baca Juga:

Lihat Foto:

Berita terkait
Ada Corona, UNBK SMK Tetap Berjalan di Yogyakarta
UNBK SMK di Yogyakarta tetap berjalan meski ada isu Corona. UNBK SMK berlangsung 16-19 Maret 2020.
Soal Virus Corona, Alasan Yogyakarta Aman Dikunjungi
Ruang publik di Yogyakarta disemprot disinfektan untuk memastikan aman dikunjungi.
Bepergian ke Yogyakarta Tak Perlu Khawatir Corona
Warga yang bepergian di Yogyakarta menggunakan jasa angkutan kereta api tidak perlu kawatir Corona.
0
Pasien Suspek Corona asal Sibolga Meninggal di Medan
Satu orang pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19 asal Kota Sibolga meninggal dunia di Rumah Sakit Martha Friska Medan.