UNTUK INDONESIA
53 Guru SMAN 10 Yogyakarta Isolasi Cegah Covid-19
Petugas kebersihan SMAN 10 Yogyakarta dinyatakan OTG terkait Covid-19. Akibatnya 53 guru menjalani isolasi mandiri guna cegah penyebaran Corona.
SMAN 10 Yogyakarta. (Foto: Tagar/Rahmat Jiwandono)

Yogyakarta - Seorang petugas kebersihan atau cleaning service (CS) di SMAN 10 Yogyakarta dinyatakan sebagai orang tanpa gejala (OTG) terkait dengan Covid-19. Akibatnya, sebanyak 54 guru menjalani isolasi mandiri. Langkah ini dilakukan guna mencegah penularan Covid-19 di lingkungan SMAN 10 Yogyakarta.

Kepala Sekolah (Kepsek) SMAN 10 Yogyakarta, Sri Moerni membenarkan ada 54 guru saat ini sedang menjalani isolasi mandiri. Dengan begitu, tidak ada tenaga pendidik yang masuk bekerja di SMAN 10 Yogyakarta. "Di sekolah kami hanya ada petugas keamanan saja," katanya saat dikonfirmasi oleh wartawan pada Senin, 20 April 2020.

Lebih lanjut ia mengatakan, CS itu mendapat status OTG dari Puskesmas Gamping, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman usai hasil rapid test menunjukkan positif Covid-19. Rapid test dilakukan karena ayahnya positif Covid-19.

Namun setelah menjalani pemeriksaan spesimen lanjutan di laboratorium, petugas kebersihan tersebut menerima hasil negatif. “Tanggal 17 April 2020 lalu, yang bersangkutan telah menjalani tes lab (karena rapid test menunjukkan hasil positif). Hasilnya keluar negatif,” ujarnya.

Alhamdulilah, seluruh warga sekolah sampai hari ke tiga ini semua dalam kondisi baik.

Menyikapi kabar adanya OTG, Puskesmas Gondomanan yang letaknya satu kecamatan dengan SMAN 10 Yogyakarta lantas melakukan cross check ke sekolah untuk mengetahui kronologi peristiwa. Setelah mendengarkan keterangan pihak sekolah, untuk mencegah penularan, guru dan karyawan mulai melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing dengan mengikuti protokol Covid-19 selama 14 hari.

Isolasi mandiri dimulai sejak Jumat, 17 April 2020. "Alhamdulilah, seluruh warga sekolah sampai hari ke tiga ini semua dalam kondisi baik,” katanya.

Diakuinya, pihaknya sempat panik akibat kabar yang beredar. Sebab, muncul pemberitaan bahwa CS tersebut telah dinyatakan positif korona. Padahal CS baru menjalani rapid test yang tingkat akurasinya sekitar 70 persen. Dia belum menjalani tes swab dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi.

"Setelah hasil laboratorium pertama pada Jumat, 17 April 2020 menunjukkan hasil negatif. Lalu pada 27 April 2020 mendatang, dia akan cek laboratorium yang kedua. Semoga hasilnya negatif juga,” katanya.

Semua warga sekolah tetap menjalani isolasi mandiri walaupun hanya segelintir orang saja yang kontak langsung dengan CS tersebut. SMAN 10 Yogyakarta sendiri telah menerapkan protokol yang dianjurkan oleh Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIY yakni memberlakukan sistem piket saat pembelajaran daring (online).

Menurut Sri, guru piket mengatur pembelajaran, sedangkan sisanya (guru) mengajar dari rumah untuk mengkoreksi dan membuat soal. Selain itu, guru piket juga bertugas membersihkan kelas-kelas yang kosong.

Sri menambahkan, untuk pembelajaran online saat ini tetap berjalan seperti biasa. Namun tidak ada guru dan karyawan yang melakukan piket. Sebab seluruhnya menjalani karantina mandiri. “Puskesmas tidak mau ambil risiko, maka demi efektivitas keseluruhan bapak ibu guru menjalani karantina mandiri,” jelasnya. []

Baca Juga:

Berita terkait
Jokowi Minta IDI Tidak Memperkeruh Situasi
Presiden Jokowi meminta Ikatan Dokter Indonesia atau IDI kalau memang mempunyai data, sampaikan saja ke Gugus Tugas, ke Kementerian Kesehatan.
4 Tenaga Medis RSUP Sardjito Yogya Positif Covid-19
Empat tenaga medis RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta positif Covid-19. Kejujuran pasien sangat penting dalam mencegah penyebarluasan virus Corona.
Respons Wawali Kota Yogyakarta soal Insiden Walhi
Wakil Wali Kota Yogyakarta ikut mengomnentari insiden saat pandemi Corona di Kantor Walhi. Semua pihak diminta menghormati protokol Cpvid-19.