UNTUK INDONESIA
Yuk Lihat Bisnis Ideal di Tengah Perlambatan Ekonomi
Di tengah pertumbuhan ekonomi yang melambat, mencermati instrumen bisnis yang potensial perlu dilakukan bagi yang ingin berbisnis.
Pertumbuhan Ekonomi Pemerintahan Jokowi

Jakarta - Tidak bisa dipungkiri jika Indonesia telah memasuki masa penurunan pertumbuhan ekonomi atau resesi. Indikasi tersebut dapat dilihat dari semakin rendahnya angka pertumbuhan ekonomi pada sepanjang tahun ini.

Menilik data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I/2019 hingga kuartal III/2019 terus menunjukkan penurunan dari 5,07 persen menjadi 5,05 persen dan turun lagi di 5,02 persen. Dari angka tersebut langkah paling bijak adalah mengoptimalkan kemampun konsumsi di dalam negeri ketimbang berharap pada peningkatan ekspor ditengah perang dagang China-Amerika Serikat .

Lalu, dengan segala dinamika tersebut, bagaimana mengenali instrumen bisnis yang potensial dalam situasi perlambatan ekonomi? Berikut Tagar paparkan bisnis apa yang dirasa cukup potensial berdasarkan kacamata Perencana Keuangan sekaligus Co-founder dan Chief Investment Officer Arkana Finance Fioney Sofyan.

Food and Beverage

Sudah menjadi rahasia umum bahwa industri panganan merupakan sektor yang paling seksi untuk memulai bisnis. Kemampuan pasar menyerap produk ini terbilang fantastis. Bayangkan, 260 juta penduduk Indonesia menjadi modal berharga bagi Anda sebagai bidikan pangsa pasar. Belum lagi kesempatan membuka cabang di luar negeri  menjadi nilai tambah untuk memperbesar kapasitas cuan usaha alias keuntungan.

Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), valuasi produk panganan di Tanah Air mencapai Rp1.700 triliun. Dari angka tersebut, hanya seperenamnya saja atau Rp120 triliun produk panganan yang berasal dari luar negeri. Hal ini menjadi indikator positif bagi para entrepreneur untuk bisa bergerak lebih gesit di negeri sendiri.

MakananIlustrasi makanan mengandung karbohidrat. (Foto: Pixabay)

Namun, jika merasa masih ragu untuk memulai bisnis sendiri, Anda dapat memilih saluran waralaba sebagai opsi. Langkah ini dinilai sebagai cara yang paling aman untuk memulai bisnis.

Konsep waralaba atau franchise dikenal sebagai cara pemasaran yang paling efektif sepanjang sejarah. Waralaba juga mempunyai sifat auto-pilot sehingga bisa menjadi alternatif anda dalam memperoleh pasif income.

Jasa

Sektor jasa atau services menjadi alternatif pilihan cerdas selanjutnya. Menurut Fioney, semua sektor jasa yang berorientasi pada solusi masalah, pasti dapat terus berkembang.

Hal itu dapat dilihat dari semakin menjamurnya perusahaan penyedia jasa antar. Pertumbuhan sektor kurir ini banyak ditopang oleh semakin masifnya gaya berbelanja secara digital.

KurirIlustrasi kurir pengantar barang. (Foto: Facebook)

Adapun hal yang perlu diperhatikan dalam menggarap bisnis sektor jasa adalah kejituan dalam memilih media promosi dan pemasaran. Kedua instrumen tersebut, menurut Fioney merupakan kunci keberhasilan untuk merebut pasar. Jika tidak, maka bisa jadi bisnis Anda akan tergerus oleh pemain besar yang datang dengan struktur permodalan kakap.

Financial Technology (Fintech)

Alternatif yang ketiga ini merupakan instrumen bisnis sekaligus investasi yang paling mutakhir. Lahir di era digital, kehadiran financial technologi (Fintech) peer-to-peer landing menawarkan opsi pendapatan pasif yang cukup menggiurkan bagi para pemberi modalnya.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun Tagar, rerata imbal hasil yang ditawarkan oleh institusi Fintech berkisar antara 10 persen hingga 20 persen per tahun. Besaran tersebut jauh melebihi level bunga deposito kebanyakan bank di Indonesia.

Financial TechnologyFintech

Akan tetapi perlu diingat, anda harus pandai dalam memilih institusi Fintech yang terpercaya. Setidaknya, pastikan lembaga keuangan peer-to-peer landing tersebut telah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Terakhir, Fioney mengungkapkan bahwa keputusan berbisnis maupun berinvestasi hendaknya tidak memakan porsi pendapatan yang terlalu besar. Cukup mengalokasikan 15 persen sampai dengan 20 persen dari total penghasilan untuk post ini.

Bagaimana, anda tertarik untuk mulai berbisnis? Selamat mencoba.[]

Berita terkait
Sektor Bisnis di Indonesia Butuh Jaringan 5G
Saat ini kebutuhan jaringan generasi kelima atau 5G di Indonesia masih berada di sektor bisnis.
Pemerintah Kurang Peduli Generasi Milenial Berbisnis
Anggota DPRD Jawa Timur menilai pemerintah kurang memperhatikan generasi milenial dalam berbisnis.
Aprindo Sebut Pertumbuhan Bisnis Ritel Melambat
Hampir semua perusahaan ritel tengah melakukan daur ulang bisnis agar bisa mengikuti perkembangan zaman.
0
Hati-hati, Lima Makanan Pemicu Kanker Payudara
Makanan pemicu kanker payudara sudah harus dihindari. Berikut Tagar berikan penjelasannya.