Indonesia
Wowo, Perjuangan Mencari Uang Rp 500 Ribu untuk Berdagang
Wowo Kuswo tubuhnya tak lagi sempurna, pergi ke Jakarta mencari uang Rp 500 ribu untuk mewujudkan niat berdagang.
Ilustrasi. (Foto: Pixabay)

Jakarta, (Tagar 28/11/2018) - Wowo Kuswo berusia 43 tahun dengan tubuh tak lagi sempurna. Sejak mengalami peristiwa tragis dua tahun silam, terkena setrum tegangan tinggi, ia mengaku harus mengikhlaskan sebelah lengannya diamputasi oleh pihak rumah sakit.

"Saya tahun 2016 kesetrum, lagi naikin kayu lalu terbakar listrik. Alhamdulillah, walaupun cacat, saya bersyukur masih bisa hidup dan ingin terus berusaha. Dengan kondisi ini, saya, sudah tidak bisa lagi bekerja yang berat-berat," tutur Wowo warga Bogor dengan pandangan menerawang.

Rabu siang (28/11) ia duduk di ruang Pelayanan Pengawasan dan Pengendalian Sosial (P3S) Dinas Sosial Jakarta Selatan. Tangan kanannya hilang hingga pangkal lengan, bajunya compang-camping, celana robek, tampak sekujur kaki kanannya menunjukkan tanda tidak normal seperti bekas terbakar.

Ia mengatakan, dengan keterbatasan fisik kini hanya bisa berharap bantuan dermawan. Ia mangaku kedua kakinya juga tidak lagi berfungsi secara utuh, sering timbul nyeri berkelanjutan akibat tragedi setrum listrik itu.

Wowo bercerita, sebelum sampai Dinas Sosial ini ia berjalan tergopoh-gopoh seorang diri dari Stasiun Bogor, turun di Stasiun Sudirman, Jakarta, guna mencari modal usaha untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, serta membayar iuran ketiga anaknya yang masih duduk di bangku sekolah.

"Saya ingin berusaha menafkahi anak istri. Anak saya ada tiga dan masih sekolah semua. Saya kan punya mimpi juga, jadi saya ke Jakarta untuk cari dana Rp 500.000," ucap Wowo dengan terisak-isak.

Ia sempat terlebih dulu datang ke masjid di area Pondok Indah, namun tak kunjung menemukan dermawan, justru diarahkan untuk mendatangi Dinas Sosial Jakarta Selatan. 

"Katanya Dinas Sosial bisa kasih dana, ya saya datangi saja," katanya.

Wowo harapannya tidak terlalu tinggi, hanya sebatas untuk bersandar hidup dengan berdagang kecil-kecilan. Ia mengaku sudah merinci barang belanjaan apa yang hendak dibeli. 

"Kalau mendapatkan dana Rp 500.000 akan saya pergunakan untuk mendirikan warung di rumah, beli ciki, pokoknya jenis makanan ringan yang bisa saya jual," ucap dia.

Pelayanan Pengawasan dan Pengendalian Sosial (P3S) Dinas Sosial Jakarta Selatan tidak menyediakan anggaran untuk modal usaha bagi penyandang disabilitas. Hal ini disampaikan Suhardi staf P3S Dinas Sosial Jakarta Selatan.

Suhardi mengatakan instansinya hanya bisa memberi rekomendasi ke Kementerian Sosial.

"Sepertinya ada dana di Kementerian. Dinas Sosial Jakarta hanya bisa memberikan rekomendasi kepada Kementerian," kata Suhardi. []

Berita terkait
0
Pembunuh Dosen di Makassar, Salat dengan Suami Korban
Sidang lanjutan kasus pembunuhan dosen Universitas Negeri Makassar (UNM) yang menewaskan rekan kerjanya.