Warga Muslim dan Yahudi Amerika Buka Puasa Bersama Virtual

Warga Muslim dan Yahudi di Amerika Serikat (AS) baru-baru ini melangsungkan acara buka puasa bersama secara virtual
Rabbi Jeremy Schneider dan Imam Mahmoud Sulaiman berpelukan saat acara bertajuk "Love is Stronger than Hate" di Islamic Community Center di Phoenix, AS, 1 Juni 2015. Warga Muslim dan Yahudi di AS baru-baru ini langsungkan acara buka puasa bersama (Foto: voaindonesia.com - REUTERS/Deanna Dent)

Jakarta – Warga Muslim dan Yahudi di Amerika Serikat (AS) baru-baru ini melangsungkan acara buka puasa bersama secara virtual untuk mempererat hubungan antar-agama dan keyakinan.

Bulan Ramadhan ini, sebagian warga di Los Angeles, California, AS, melangsungkan buka puasa bersama secara virtual dengan kelompok yang tidak biasa. Adam Fakhri di Muslim-Jewish Partnership for Change, satu kelompok kerjasama antar-keyakinan umat beragama mengatakan, “Kami mengumandangkan adzan Maghrib yang menandai saat berbuka di tiga sinagog berbeda di Los Angeles. Pertama, saya kira ini sangat indah dan sangat kuat; kedua, hal ini juga menunjukkan rasa persatuan dan bahwa kita semua satu komunitas."

Buka puasa virtual ini disponsori oleh NewGround: A Muslim-Jewish Partnership for Change. Tahun ini dilangsungkan secara virtual dengan menghadirkan Wali Kota Los Angeles Eric Garcetti, yang memberikan sambutan pembuka. Acara ini juga mencakup kunjungan virtual ke dapur sebuah keluarga imam dan keluarga rabbi untuk menyaksikan bagaimana mereka mempersiapkan makanan berbuka kesukaan keluarga. Namun para peserta buka puasa virtual ini mengatakan buka puasa dan Ramadan sebenarnya lebih dari sekedar soal makanan dan berpuasa.

Walikota Eric GarcettiWali Kota Eric Garcetti mengenakan masker pelindung wajah selama konferensi pers hariannya di Los Angeles pada hari Rabu, 1 April 2020 (Foto: voaindonesia.com/AP)

“Saya kira sebagian pesannya adalah pengorbanan, kesabaran dan empati," kata Adam.

Juga memperkuat ikatan dengan orang lain, termasuk yang berasal dari agama berbeda, ujar David Weiner, seorang peserta Yahudi.

“Kita mulai dengan hubungan. Kita mulai dengan menceritakan kisah pribadi kita, mengatasi identitas kita sendiri," kata David.

Dan juga mengakui perbedaan yang ada, tambahnya. Berbagi saat pribadi akan membantu menjembatani kesenjangan dalam isu-isu yang memecah belah, seperti kesulitan hubungan diantara Palestina dan dan Israel yang kerap memisahkan warga Muslim dan Yahudi.

“Hal ini juga memberi saya kosakata yang berbeda dan serangkaian keahlian soal bagaimana mengekspresikan diri saya dan bagaimana melakukan percakapan yang sulit," kata David.

Interaksi secara terus menerus lewat acara-acara seperti ini, baik secara langsung maupun virtual, mengajar para peserta untuk saling mendengar satu sama lain.

“Kita mungkin sering setuju untuk tidak setuju, tetapi ini merupakan bagian dari proses saling memahami satu sama lain dan benar-benar dapat berempati dengan orang lain dan pandangan mereka.”

Keahlian yang berguna bagi semua orang, apapun latar belakang atau agama mereka (em/ah)/voaindonesia.com. []

Berita terkait
Amerika Serikat Dikabarkan Lobi Negara Muslim di Asia
Setelah Maroko Amerika Serikat dikabarkn melobi negara-negara Muslim di Asia agar mau berdamai dengan Israel sebelum masa jabatan Trump berakhir
Menlu Amerika Serikat Kunjungi Permukiman Yahudi
Pompeo menjadi Menlu AS pertama yang kunjungi permukiman Yahudi di kawasan pendudukan Tepi Barat, Palestina sebut tindakan provokasi
0
Dugaan Penipuan Jumlah Tes Covid-19 di Jerman
Dugaan penipuan jumlah tes Covid-19 di Jerman meningkat, otoritas keseharan Jerman membahas mekanisme kontrol jumlah tes