UNTUK INDONESIA
Wakil Presiden Maruf Amin: Tak Ada Dua Matahari
Wakil Presiden RI Maruf Amin ogah disebut dirinya hanya pelengkap kepemimpinan Presiden Jokowi setelah genap setahun usai dilantik.
Wakil Presiden RI Ma\\'ruf Amin. (Foto: Tagar/Twitter Ma\\'ruf Amin)

Jakarta -Wakil Presiden RI Ma'ruf Amin ogah disebut dirinya hanya pelengkap kepemimpinan Presiden Jokowi. Genap setahun usai dilantik, Ma'ruf Amin dirinya tidak ingin menjadi penyaing presiden, karena baginya matahari hanya satu, tidak pernah ada dua.

"Sesuai dengan aturan, konstitusi, wakil presiden itu kan membantu presiden. Karena itu maka apa yang dilakukan presiden, kemudian wapres membantu. Membuat kebijakan-kebijakan, melalui penetapan-penetapan di sidang-sidang kabinet melalui diskusi khusus,” ujar Ma'ruf Amin menjawab pertanyaan Najwa Shihab dalam sebuah wawancara ekslusif di kanal YouTube, Selasa, 20 Oktober 2020. 

“Nantinya yang keluar kebijakan itu nantinya tentu presiden. Tidak ada dua matahari. Jadi wapres adalah membantu presiden di dalam semua kegiatan yang menjadi prioritas,” imbuh Ma’ruf Amin.

Mar'uf menyebut ada beberapa penugasan khusus yang dibebankan Jokowi padanya. 

“Kecuali ada penugasan-penugasan khusus yang diberikan kepada presiden, misalnya soal kemiskinan, UMKM, stunting, reformasi birokrasi, ekonomi syariah, radikalisme, dan terakhir ini saya diminta untuk pembangunan Papua. Jadi banyak hal yang secara khusus yang kemudian ditugaskan kepada saya. Begitu pembagiannya,” kata Ketua Umum MUI Non Aktif itu.

Ditanyakan apa saja prestasi yang sudah bisa dicatatkan dalam satu tahun ini, Maruf Amin menyebut ada masa yang terpotong karena pandemi.

“Andai kata tidak ada pandemi tentu sudah banyak capaian-capaian, baik penyiapan SDM, infrastruktur, peneyederhanaan regulasi, reformasi birokrasi terus juga ekonomi itu pasti banyak sekali," katanya.

Kendati begitu, Ma'ruf tidak ingin usaha pemerintah dipandang sebelah mata. Katanya, banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dalam perjuangan melawan musibah non alam ini. 

“Walaupun di kala pandemi, ada momentum penting dalam membangun kemandirian. Kita mulai memajukan produk dalam negeri, memanfaatkan digitalisasi ekonomi dan pendidikan, inovasi juga mulai tidak hanya dalam kesehatan tapi juga banyak hal. Dan upaya untuk mendorong UMKM sangat besar sekali,” ungkapnya.

Tayangan YouTube Najwa SHihab kemudian menyinggung soal hasil survei Indikator Politik Indonesia yang disampaikan Burhanuddin Muhtadi. Penelitian itu menunjukkan kepuasan masyarakat terhadap kinerja Wapres Ma’ruf Amin yang hanya 47,5 persen. Jauh dibandingkan kepuasaan terhadap Presiden Jokowi yang mencapai 67,2 persen.

“Saya kira tidak masalah, karena yang diukur itu yang terlihat oleh publik, statemen-statemen tadi. Maka hasilnya seperti itu. Tapi kalau ditelusuri seperti apa bekerjanya, sebagai wapres saya membantu presiden dalam sidang kabinet, terbatas, paripurna, saya mengkoordinasikan. Rapat koordinasikan tidak perlu distatemenkan. Itu haknya presiden. Dalam hal-hal penting saya berbicara dengan presiden, tetapi nanti yang statemen tetap presiden,” jawab Wapres.

Ma'ruf Amin memang dikenal irit bicara di hadapan publik. Baginya, ada ruang yang lebih penting untuk dikerjakan daripada hanya dilontarkan lewat pernyataan.

“Saya memang tidak begitu banyak berstatement. Saya berprinsip ada yang harus distatementkan, ada yang harus dikerjakan tidak perlu distatementkan. Itu pola kerja seseorang mungkin berbeda saja,” kata Wapres.

Lihat juga: Satu Tahun, Angka Harapan Hidup Era Jokowi Meningkat

Dalam kesempatan lain, Mantan Menko Kemaritiman, Rizal Ramli menyebut Ma'ruf Amin hanya sebagai pelengkap kepemimpinan Presiden Jokowi semata, bahkan kehadirannya dianggap antara ada dan tiada.

"Bapak Wapres ini kan antara ada dan tiada, kayak pelengkap doang. Kita harus melihatnya bahwa pemerintahan Jokowi ini sudah tahun keenam," tutur Rizal dalam acara Indonesia Lawyers Club. []

Berita terkait
Perdana ke Padang Usai Jadi Wapres, Ini Pesan Maruf
Maruf Amin berharap Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) mampu melahirkan generasi unggul.
Perlukah Najwa Shihab Diboikot? Ini Kata Pro Jokowi Sumbar
Melaporkan Mata Najwa ke polisi bukanlah cara yang etis dalam mengkritik media. Lantas, perlukah acara yang dipandu Najwa Shihab itu diboikot?
Ade Armando: Najwa Shihab Sombong, Panggung Pendukung Jokowi
Menkes Terawan menjadi korban kesombongan Najwa Shihab, yang melapor ke polisi adalah pendukung Jokowi yang mencari panggung.
0
Pria Botak di Sumut Diancam 15 Tahun Penjara, Ini Kasusnya
Pria botak di Deli Serdang, Sumatera Utara, nodai adik ipar. Penjara 15 tahun menantinya.