UNTUK INDONESIA
Viral Penganiayaan Siswi di Purworejo Dianggap Wajar
Kasus penganiayaan siswi di Purworejo dinilai wajar oleh para tersangka. Kenapa bisa demikian?
Ilustrasi perundungan atau penganiayaan. Psikolog menilai penganiayaan yang menimpa siswi di Purworejo dianggap wajar lantaran banyak kasus serupa terekspose di media sosial. (Foto: Pixabay/Geralt)

Semarang - Psikolog Semarang Maharani Kusumaningrum angkat bicara soal kasus penganiayaan tiga siswa terhadap siswi teman sekolahnya di SMP swasta Purworejo, Jawa Tengah. Kerapnya kasus kekerasan diangkat ke media sosial membuat para tersangka menganggap perilakunya wajar.

Menurut Maharani berangkat dari kasus perundungan yang masif terjadi dan terus dipublikasikan ke media sosial sehingga tanpa sadar makin menguatkan aksi itu sendiri. “Seolah-olah dianggap hal yang wajar terjadi dalam dunia pendidikan antarsiswa sekolah,” ujarnya kepada Tagar pada Jumat, 14 Februari 2020.

Diketahui, aksi yang dilakukan pelajar sekolah di Kecamatan Butuh tersebut membuat publik kaget bercampur marah. Masyarakat baru tahu kalau ada siswa sekolah bisa berlaku sekejam itu. 

Aksi perudungan yang direkam dengan kamera telepon seluler itu tersebar lewat media sosial dan kemudian viral. Video berdurasi 28 detik, memperlihatkan tindakan tiga siswa menganiaya korban perempuan hingga hanya bisa menunduk dan menangis. 

Lebih lanjut Maharani mengatakan tingkat stres pelajar di masa sekarang sangat tinggi karena tuntutan pendidikan dan sosial. Namun kondisi itu sering tidak diiringi kemampuan dan kapasitas siswa mengelola emosi dan kecakapan sosial dalam bergaul.

Ia juga menggaris bawahi kurangnya pendidikan etika dan moral sejak dini. Pihak sekolah lebih mementingkan sisi akademik, bukan pada pengembangan mental dan sikap. Di sisi lain perhatian ke anak banyak diabaikan orang terdekat. Padahal perhatian orang tua di rumah sangat penting dan memegang peranan dalam pembentukan karakter seorang anak.

“Orang tua juga kurang menaruh perhatian pada anak-anak mereka. Perhatian itu misalnya mengajak anak-anak untuk terbiasa mengekspresikan emosinya secara sehat dan benar,menyediakan waktu untuk mendengarkan anak, dan memberikan perhatian ekstra ketika anak, terutama yang punya masalah,” ucap Maharani.

Jika perhatian tersebut sudah terpenuhi, psikolog yang membuka praktek di Jalan Drupadi, Semarang Utara itu yakin saat seorang anak tertekan mereka tidak melampiaskan dengan cara tidak benar. []

Baca juga: 

Berita terkait
Muhammadiyah Buka Suara Perundungan Siswi Purworejo
Muhammadiyah akhirnya buka suara atas kasus perundungan siswi SMP di Purworejo. Ormas Islam ini menyampaikan keprihatinannya.
Kronologi Penganiayaan Siswi SMP di Purworejo
Polisi mengungkap motif dan kronologi penganiayaan tiga pelajar ke siswi SMP di Purworejo. Berawal dari uang.
Penganiaya Siswi di Purworejo Terancam Bui 3,5 Tahun
3 siswa kasus penganiayaan terhadap siswi teman sekolah di Purworejo terancam 3,5 tahun penjara. Polisi juga telah menahan ketiganya.
0
Masker Sitaan Polisi Dijual Rp 4.400 per Bungkus
Polisi menjual masker hasil sitaan tersangka penimbun dengan harga Rp 4.400 per bungkus.