UNTUK INDONESIA
Tren Bersepeda Saat Pandemi Covid-19 di Yogyakarta
Di masa pandemi sepeda semakin diminati, khususnya di Yogyakarta. Gowes layak menjadi sarana transportasi di era new normal.
Sepeda di Pasar Gapsta Jalan MT Haryono Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta. (Foto: Tagar/Evi Nur Afiah)

Yogyakarta - Belakangan ini naik sepeda menjadi tren masyarakat khususnya di Yogyakarta. Bersepeda menjadi sarana transportasi yang menyenangkan dan menyehatkan di tengah pandemi Covid-19. Banyak pesepeda mengaku jenuh atau dalam bahasa gaul anak muda zaman sekarang disebut gabut setelah 'di rumah aja' sekian lama.

Sebagai persiapan memulai kehidupan normal baru atau new normal, moda transportasi ramah lingkungan ini layak menjadi alat angkut utama kehidupan di era tatanan baru setelah pandemi Korona. Alasannya dapat mencegah kerumunan di area tunggu dan dalam transportasi umum.

Selain itu bersepeda dapat mengurangi polusi di jalanan. "Saya suka bersepeda sudah lama. Terus setelah ada pandemi, ya seminggu sekali keluar cari udara segar pakai sepeda," katanya, Senin, 8 Juni 2020.Menurut Iwan, 24 tahun, kepada Tagar mengatakan, bersepeda adalah salah satu cara untuk melepas penat atau obat gabut. Selain itu bersepeda dapat mengurangi polusi di jalanan. "Saya suka bersepeda sudah lama. Terus setelah ada pandemi, ya seminggu sekali keluar cari udara segar pakai sepeda," katanya, Senin, 8 Juni 2020.

Dia setuju gowes menjadi gaya baru memulai new normal. "Berarti Jogja sebagai kota sepeda bisa balik lagi," ujar pria yang lahir dan tinggal di Yogyakarta.

Iwan mengungkapkan, akhir-akhir ini banyak menemukan penggunaan sepeda di jalanan. "Apalagi tren yah orang-orang bersepeda," ucapnya.

Tren tersebut juga memberikan keuntungan bagi toko sepeda. Tak terkecuali penjualan sepeda bekas di Pasar Gapsta (Gabungan Pasar Sepeda) yang terletak di Jalan MT Haryono Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta.

Terus setelah ada pandemi, ya seminggu sekali keluar cari udara segar pakai sepeda.

Wiyono, 73 tahun, mengatakan peminat sepeda sejak dulu tidak ada habisnya. Terlebih sejak tren sepeda kembali lagi di Yogyakarta, para pembeli semakin banyak dan berdatangan.

Apalagi di saat momen ajaran baru seperti saat ini, banyak juga perantauan yang mencari sepeda bekas di pasar Gapsta. "Dari dulu memang sudah banyak peminatnya. Belakangan ini sedang tren yah orang-orang bersepeda," ucap Wiyono kepada Tagar di lokasi.

pengusaha sepeda bekas Jogja
Wiyono, 73 tahun pengusaha sepeda bekas di Pasar Gapsta (Foto: Tagar/Evi Nur Afiah).

Meskipun tidak baru, namun sepeda bekas yang ada di Pasar Gapsta dijamin masih layak pakai dan juga berkualitas. Mulai dari yang modern sampai dengan sepeda jadul juga tersedia. Mulai dari sepeda anak-anak sampai tinggat orang tua juga ada.

Wiyono mengungkapkan untuk sepeda bekas, dijual mulai dari harga Rp 500 ribu sampai jutaan rupiah, tergantung kualitas dan merk. "Semuanya ada di sini. Tapi karena lagi banyak yang cari jadi pada habis. Kalau sekarang trennya itu sepeda lipat karena banyak yang cari," ujarnya.

Pasar Gapsta didirikan sejak 1968. Pertama kali beroperasi di wilayah Pakualaman, Kota Yogyakarta. Namun karena para anggota tidak mempunyai lahan untuk berjualan, akhirnya Keraton Yogyakarta memberikan tempat sebagai wadah penjualan mereka.

"Awalnya kami gak ada lahan tapi punya usaha. Terus Ini tanah Keraton dipinjamkan untuk kami. Saya sangat bersyukur," ungkap Wiyono.

Usaha jual beli sepeda bekas yang sudah dilakoni sejak tahun 1968, dapat menyekolahkan anak-anaknya sampai perguruan tinggi. "Alhamdulillah anak-anak saya sudah pada lulus kuliah sama sudah kerja. Saya modal usaha jual beli sepeda kalau di syukuri mah nikmat," ucapnya. []

Berita terkait
Kata Sultan Saat Warga Mulai Berkerumun di Malioboro
Gubernur DIY Sri Sultan HB X menyaksikan banyak warga di Malioboro tidak mengindahkan protokol kesehatan.
RS UGM Yogyakarta Resmi Menjadi Rujukan Covid-19
RS UGM Yogyakarta resmi menjadi rujukan Covid-19. RS ini memiliki dokter 70 orang dan 250 perawat.
Hasil Rapid Test Klaster Pedagang Ikan Gunungkidul
Dinas Kesehatan Gunungkidul menyebut klaster pedagang ikan berpotensi ada penambahan yang positif Corona.
0
Jokowi Ingatkan Kepala Daerah Jaga Daya Beli Masyarakat
Jokowi meminta pemerintah daerah menjaga keseimbangan antara permintaan dan penawaran agar daya beli masyarakat lekas pulih.