UNTUK INDONESIA
Transgender Bukan Orientasi Seksual
Ada salah kaprah di masyarakat tentang transgender. Mereka menyamakan transgender dengan orientasi seksual, padahal itu sama sekali tidak benar
Ilustrasi (Sumber: amazon.com)

Oleh: Syaiful W. Harahap

Beberapa hari ini media online dan media sosial ramai dengan pemberitaan tentang pengakuan Gebby Vesta bahwa dia adalah seorang transgender. Nama asli disjoki atau joki cakram (DJ-disc jockey) ini adalah May Debbyta.

Entah mengapa soal transgender jadi pembicaraan ramai karena dalam kehidupan sehari-hari ada yang merasa bahwa jenis kelamin secara fisik yang mereka bawa sejak lahir tidak sesuai dengan jenis kelamin yang mereka rasakan atau jenis kelamin yang ada di dalam diri mereka.

Itu artinya transgender bukan orientasi seksual atau ketertarikan secara seksual tapi identitas gender. Di masyarakat transgender lebih dikenal sebagai waria yaitu laki-laki yang bersifat dan bertingkah laku seperti wanit atau laki-laki yang mempunyai perasaan sebagai wanita.

[Baca juga: Akui Transgender, Ini Nama Asli Gebby Vesta?]

Kalangan transgender tidak menerima pemahaman umum tentang jenis kelamin yang hanya terbagi dua yaitu laki-laki dan perempuan. Mereka menempatkan diri di antara dua jenis kelamin itu sebagai transgender.

Ada juga yang menyebut diri sebagai genderqueer yaitu gender yang tidak sebagai maskulin atau feminin. Sebagian menyebut diri sebagai gender fluid yaitu sesorang memakai identitas sebagai perempuan, di saat lain sebagai laki-laki atau gabungan laki-laki dan perempuan. Bahkan ada yang merasa tidak memiliki gender.

Kalangan transgender menunjukkan identitas diri mereka dengan berbagai cara, terutama melalui cara berpakaian, tata rias, dan perilaku sehari-hari sesuai dengan identitas yang mereka rasakan pas untuk mereka.

Beberapa orang menggunakan hormon dan menjalani operasi untuk mengubah tubuh mereka sehingga cocok dengan identitas gender mereka.

Melalui cara berpakaian dan tingkah laku merupakan ekspresi gender. Sedangkan ketertarikan kepada lawan jenis atau sejenis merupakan orientasi seksual transgender. Tapi, banyak orang yang salah kaprah mengaitkan transgender dengan orientasi seksual.

Sesorang sebagai transgender tidak otomatis jadi gay, lesbian atau biseksual. Transgender adalah gambaran riil tentang siapa Anda, sedangkan orientasi seksual sebagai heteroseksual, gay, lesbian atau biseksual adalah tentang kepada siapa Anda tertarik secara romantis, emosional dan seksual.

Maka, transgender ada yang mempunyai orientasi heteroseksual sehingga tidak mengherankan kalau ada waria yang menikah dan mempunyai anak. Ada pula yang orientasi seksualnya homoseksual yaitu gay yang merupakan ketertarikan kepada laki-laki sesama jenis.

Dalam masyarakat yang tidak toleran kalangan transgender menghadapi berbagai perlakuan yang tidak manusiawi. Bahkan, dengan membawa-bawa agama mereka menyerang kegiatan waria yang sama sekali tidak terkait dengan amoral atau asusila.

Sebuah studi di Kota Surabaya di awal tahun 1990-an yang dilakukan oleh sebuah organisasi menunjukkan banyak laki-laki heteroseksual yang beristri melakukan hubungan seksual, dalam hal ini seks oral dan seks anal, dengan waria. Laki-laki heteroseksual mengatakan dengan melakukan seks dengan waria mereka tidak mengingkari cinta karena, maaf, penis tidak dipakai penetrasi dengan vagina. Laki-laki heteroseksual beristri jadi ‘perempuan’ (ditempong atau dianal) oleh waria yang bertindak sebagai laki-laki (menempong atau menganal).

Dalam sebuah rangkaian pelatihan cara penulisan informasi dan berita HIV/AIDS untuk kalangan pendamping Odha dan wartawan di Deli Serdang dan Medan (Sumut), Bandung, Bogor dan Depok (Jabar), serta Semarang (Jateng) pada Juni-Agustus 2019 menunjukkan kekhawatiran terkait dengan penyebaran IMS (penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual tanpa kondom, seperti kencing nanah/GO, raja singa/sifilis, klamdia, virus hepatitis B, virus kanker serviks, dll.) dan HIV/AIDS.

Tapi, di sisi lain perilaku laki-laki beristri itu meningkatkan risiko tertular IMS serta HIV/AIDS. Maka, tidaklah mengherankan kalau kemudian kasus sifilis dan HIV/AIDS banyak terdeteksi pada ibu rumah tangga. Seperti dilaporkan oleh Ditjen P2P, Kemenkes RI, tanggal 27 Agustus 2019, menunjukkan dari tahun 1987 – Juni 2019 terdeteksi 13.593 ibu hamil yang mengidap sifilis, sedangkan yang mengidap AIDS sebanyak 16.854.

Perlakuan masyarakat terhadap waria bisa membuat mereka mengalami disforia gender. Dokter dan psikologi menyebut ciri-ciri disforia gender yaitu kesusahan, ketidakbahagiaan, dan kecemasan. Ini terjadi dan dirasakan kalangan transgender karena ada ketidakcocokan antara tubuh mereka dan identitas gender mereka. Seorang transgender yang didiagnosis mengalami disforia gender bisa dibantu secara psikologis dan medis untuk mengatasi kondisi yang mereka alami.

Tapi, yang perlu diingat adalah disforia gender bukan penyakit mental biar pun kondisi ini bisa menyebabkan tekanan emosional (Sumber: en.wikipedia.org, plannedparenthood.org, GAYa Nusantara, dan sumber-sumber lain). []

Berita terkait
Heboh, Waria di Bantaeng Ikut Gerak Jalan Indah
Menjelang HUT ke-74 Kemerdekaan RI, semakin marak pula bentuk aksi warga dalam menyambut hari bersejarah tersebut.
Fakta Gebby Vesta, DJ Cantik yang Ternyata Transgender
DJ sekaligus model Gebby Vesta, membuat heboh dengan mengungkap fakta bahwa ia adalah seorang transgender.
Gebby Vesta Mengaku Sebagai Transgender
Gebby Vesta akhirnya mengakui kepada seluruh rakyat Indonesia yang telah dibohonginya selama 19 tahun.
0
Mahfud MD Jadi Menko Polhukam, Meleset dari Survei
Mahfud MD menjadi Menko Polhukam di Kabinet Jokowi. Sebelumnya, survei menunjuk ia figur tepat menjadi jaksa agung.