UNTUK INDONESIA
Tes HIV Penting untuk Kaum Perempuan
Tes HIV masih diselimuti stigma (cap buruk) sehingga banyak orang, terutama perempuan, enggan tes HIV, akibatnya banyak tidak tahu status HIV-nya
Konferensi pers “Pentingnya Tes HIV” di RS St Carolus, Jakarta Pusat, 6 Maret 2020 dihadiri para narasumber, yaitu: Dr. Emon Winardi SpPD, Dr Luciana Murni Naibaho M. KM, Pia Wurtzbach, Atiqah Hasiholan, Antonio & Chaani. (Foto: Tagar/Mutiara Azra).

Jakarta - Tes HIV memberi tahu kita apakah kita terinfeksi HIV atau tidak. HIV adalah virus penyebab AIDS. Tes HIV yang umum dipakai, al. reagen ELISA, mencari antibodi terhadap HIV (antibodi HIV). Antibodi adalah protein yang dibuat oleh sistem kekebalan tubuh untuk menyerang kuman, bakteri atau virus yang masuk ke dalam tubuh. Antibodi terhadap semua kuman, bakteri dan virus berbeda. Jika ditemukan antibodi HIV dalam darah, itu artinya terinfeksi HIV.

Dalam sebuah konferensi pers di RS Carolus, Jakarta Pusat, 6 Maret 2020, tentang tes HIV menghadirkan pesohor, seperti Pia Wurtzbach (Filipina) yang merupakan Miss Universe 2015 dan UNAIDS Goodwill Ambassador for Asia and the Pacific serta duta isu HIV/AIDS untuk Asia Pasifik. Dari Indonesia ada Atiqah Hasiholan UNAIDS National Goodwill Ambassador, Antonio dan Chani.

Pia mengatakan, “Sayang sekali masih banyak stigma negatif yang melekat saat melakukan tes HIV.” Padahal, dengan mengetahui status HIV berarti kita peduli terhadap kesehatan kita dan orang-orang di sekitar lingkungan kita. “Kepada seluruh perempuan Indonesia, ayo beranikan diri untuk ikut tes HIV,” kata Pia.

Stigma negatif yang selalu muncul di masyarakat mulai dari mengaitkan HIV/AIDS sebagai penyakit kotor, mudah menular, hingga mematikan. "Diskriminasi dan stigmatisasi mau gak mau jadi penghambat orang melakukan tes," kata Dr Emon

Diskriminasi dan stigmatisasi yang membuat banyak orang, khususnya perempuan, enggan untuk melakukan tes HIV. Jika mendapatkan hasil tes HIV yang negatif akan mendapatkan informasi untuk melindungi diri mereka dan memilih perilaku yang dapat mencegah terjadinya infeksi HIV di masa mendatang.

tes2Pia Wurtzbach (tengah), mantan Miss Universe 2015 juga UNAIDS Goodwill Ambassador for Asia and the Pasific mengajak semua perempuan untuk memberanikan diri dalam melakukan tes HIV. (Foto: Tagar/Mutiara Azra).

Sedangkan pasien yang mendapatkan hasil tes HIV yang positif akan mendapatkan informasi, perawatan, dukungan, konseling, dan pengobatan untuk menangani gejala yang mereka alami. Pasien yang positif HIV juga harus mempelajari cara untuk mencegah penularan dan infeksi HIV di masa mendatang.

Dalam kesempatan ini Atiqah melakukan Tes HIV di hadapan wartawan yang mengikuti konferensi pers. Keramahan petugas kesehatan jadi kunci seseorang mau melakukan tes HIV. "Saya sangat senang karena petugasnya sangat welcome,” kata Atiqah. Justru kita kaya ilmu ketika dijelaskan bagaimana tidak ada diskriminasi kepada Odha (orang dengan HIV/AIDS). Dari mereka yang mau tes HIV sampai dinyatakan positif dan mau melakukan pengobatan selanjutnya. Menurut Atiqah, diskriminasi terhadap ODHA justru membuat orang takut untuk melakukan tes HIV.

"Tapi karena saya sudah melihat bagaimana positifnya, jadi saya tidak merasa deg-degan, dan testimoni saya terhadap tes HIV: sangat mudah, gratis dan tidak sakit sama sekali kalau saya dan Pia bisa, saya percaya para perempuan Indonesia juga bisa,” kata Atiqah.

Perempuan terbukti memiliki kerentanan yang lebih besar terhadap HIV. Dalam proyeksi Asian Epidemic Model (AEM), sebanyak 215.979 perempuan Indonesia tergolong berisiko rendah diperkirakan hidup dengan HIV/AIDS. Kebanyakan dari mereka adalah pasangan dari laki-laki yang perilaku seksualnya rentan tertular HIV. Perempuan juga seringkali mengalami kendala untuk memeriksa kesehatan terkait dengan infeksi menular seksual (IMS) dan mengakses layanan HIV/AIDS karena tidak mendapatkan persetujuan dari suaminya.

Promosi tes HIV ini bertujuan untuk mengajak para perempuan, khususnya ibu hamil untuk mengetahui statusnya HIV-nya lebih dini. “Ketika seseorang mengetahui status HIV-nya secara lebih dini, dia bisa segera meminum obat antiretroviral (ARV). Dengan minum obat ARV yang konsisten, Odha bisa hidup sehat, menikah , merencanakan kehamilan, serta mencegah penularan HIV pada anak yang dikandungnya kelak. Jadi, “HIV/AIDS bukan lagi sebuah death sentences,” kata Pia.

Promosi tes HIV dan pengobatan HIV merupakan bagian dari strategi nasional Indonesia untuk mewujudkan three zeros pada tahun 2030, antara lain tidak ada lagi penularan infeksi baru HIV, tidak lagi kematian akibat AIDS, dan tidak ada lagi stigma dan diskriminasi pada Odha. Saat ini berdasarkan estimasi ada 640.000 orang yang hidup dengan HIV/AIDS di Indonesia. Namun, dari jumlah tersebut hanya 55% yang mengetahui status HIV mereka, dan hanya 19% yang ada dalam pengobatan ARV. Dari 640.000 orang tersebut 36% di antaranya adalah perempuan.

Antino dan Chani, pasangan HIV positif dari tahun 2012, merencanakan program kehamilannya sekarang setelah menikah pada 1 Desember 2017. Mereka diawasi oleh dokter untuk melancarkan program kehamilan..

Saat ini kandungan Chani sudah memasuki bulan ketujuh bulan. Pasangan ini meminum obat ARV sesuai dengan resep dokter. Dengan minum obat ARV sesuai dengan resep dokter HIV di tubuhnya tidak terdeteksi. "Yang pasti obat ARV harus diminum terus sampai HIV undetect, virusnya tidak terdeteksi baru bisa program punya anak," kata Antonio. Untuk pasien positif HIV perawatan dilakukan selama enam bulan pengobatan hingga virus HIV benar-benar berhasil ditekan dan tidak terdeteksi melalui tes HIV.

Obat ARV untuk menekan jumlah virus di darah. Sedangkan evaluasi secara medis terus dilakukan melalui pemeriksaan darah dan fungsi ginjal secara rutin sesuai dengan anjuran dokter. []

- Windy Swastika 

Berita terkait
Omong Kosong Penularan HIV Baru Bisa Dihentikan 2030
Epidemi HIV/AIDS memasuki tahun ke-36 tapi insiden infeksi HIV baru terus terjadi yang disebut-sebut bisa dihentikan 2030 tanpa program konkret
Bocah Empat Tahun di Aceh Terinfeksi HIV
Seorang bocah yang tinggal di salah satu desa di Kota Langsa, Provinsi Aceh, dinyatakan positif terinfeksi HIV.
Laki-laki Heteroseksual Jadi Penyebar AIDS di Aceh
Beberapa daerah mengaitkan LGBT dalam penyebaran HIV/AIDS, padahal yang potensial menyebarkan HIV/AIDS di Aceh justru laki-laki heteroseksual
0
Rapid Test 3 Warga Bumiaji Kota Batu Reaktif
Tiga warga Kecamatan Bumiaji, Kota Batu tersebut sebelumnya melayat ke rumah pasien Positif Covid-19 yang telah meninggal dunia di Kecamatan Pujon.