UNTUK INDONESIA
Ternyata, Ini Alasan Harga Properti Dibanderol Mahal
Ketua Umum The HUD Zulfi Syarif Koto mengatakan rendahnya penyerapan properti pada sepanjang tahun lalu disebabkan oleh beberapa hal.
Suasana deretan unit apartemen di Jakarta, Senin, 27 Januari 2020. (Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso/aww)

Jakarta - Ketua Umum The Housing and Urban Development Institute (The HUD) Zulfi Syarif Koto mengatakan rendahnya penyerapan properti pada sepanjang tahun lalu disebabkan oleh beberapa hal. Salah satu yang menjadi hambatan adalah harga jual yang ditawarkan developer mahal.

Dalam catatan dia, beberapa aspek yang menjadi sumber pembengkakan nilai bandrol adalah masalah perizinan perumahan.

"Developer itu kalau mau buat rumah, izin dan pajaknya sendiri saja sudah 20 persen hingga 30 persen dari harga jual. Belum lagi dari sisi biaya produksi, seperti material dan biaya pengerjaan, plus ditambah dengan bunga bank yang tinggi," ujar Zulfi Syarif Koto kepada Tagar di Jakarta, Rabu, 12 Februari 2020.

Selain itu, pembelian sejumlah lahan juga dinilai sebagai kontributor lain dalam pembentukan harga. Untuk itu, dia berharap pemerintah dapat memberikan insentif khusus bagi para pengembang perumahan, khususnya sektor privat.

"Program FLPP [Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan] memang bagus untuk subsidi, bisa memenuhi kebutuhan. Tetapi masalahnya sekarang pemerintah juga harus memberikan fasilitas yang sama kepada developer produk menengah untuk bisa lebih ekspansif," tuturnya.

Zulfi sendiri mendorong kepada pelaku usaha perumahan untuk mengambil konsep pemasaran yang sedikit berbeda. Salah satu yang diusulkan dia adalah dengan mengubah skema penjualan properti menjadi skema penyewaan. 

Pasalnya, orientasi kaum produktif saat ini, khususnya milenial, lebih tertarik untuk merasakan kepemilikan dari pada penguasaan sepenuhnya sebuah aset properti.

"Sekarang zamannya sewa menyewa, sharing economy, tidak banyak anak-anak sekarang yang mau beli rumah. Nah, disini kita coba kepada pebisnis untuk tidak lagi jual putus, tetapi coba disewakan," ucapnya.

Berdasarkan data yang dilansir oleh Bank Indonesia, penjualan properti residensial pada kuartal IV/2019 mengalami penurunan. Fakta tersebut didapat bank sentral berdasarkan indikasi penjualan properti residensial yang kembali turun 16,33 persen dibandingkan dengan kuartal III/2019 yang tercatat 16,18 persen. Penurunan ini sendiri terjadi pada seluruh tipe maupun kategori rumah.

Anjloknya angka penjualan rumah ditengarai akibat Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) yang naik terbatas sebesar 0,3 persen secara triwulan. Adapun, kenaikan harga jual di penghujung tahun tersebut lebih rendah dibandingkan dengan kuartal III/2019 dengan 0,5 persen.

Bank Indonesia sendiri memproyeksi kondisi serupa bakal terjadi pada sepanjang trimester pertama 2020, dengan IHPR sebesar 0,43 persen. []

Berita terkait
BI Optimis 2020 Properti Dalam Negeri Akan Mentereng
Bank Indonesia optimistis sektor properti dalam negeri akan mengalami pertumbuhan yang signifikan pada 2020.
Ciputra Filantropis Jadi Pengusaha Properti
Pengusaha properti ternama, Ciputra Chairman dan Founder Ciputra Group telah berpulang, Rabu November 2019 pukul 1:05 waktu Singapura.
Tren Penurunan Bunga KPR Dongkrak Sektor Properti
Tren penurunan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) mendongkrak sektor properti.
0
Tujuh Tips Menurunkan Berat Badan dengan Madu
Madu bukan hanya baik untuk kesehatan tubuh, tetapi bisa menurunkan berat badan tanpa efek samping.