UNTUK INDONESIA
Terapi Lintah, Mau Coba?
Kedua kaki bengkak yang sering dikaitkan dengan lemah jantung. Tapi, hasil Echo tidak ada masalah dengan jantung. Terapi lintah jadi pilihan
Terapi Lintah. (Foto: alodokter.com)

Jakarta – Setiap kali kontrol darah tinggi ke poli jantung, dokter selalu ingatkan kalau kaki saya bengkak. Tapi, hasil rekam jantung dan Echo (tes ekokardiografi atau USG jantung) tidak ada masalah. “Ini tidak masalah jika dikaitkan dengan umur bapak,” ujar dokter ahli jantung di sebuah RS pemerintah kelas B di Jakarta Timur setelah melihat hasil Echo.

Saya coba cara lain yaitu akupunktur. "Oom, ini kakinya bengkak." Itulah yang dikatakan oleh Roby, seorang akupunkturis muda di Jakarta Timur ketika hendak menusukkan jarum ke betis saya (Maret 2018). Memang, beberapa tahun belakangan ini kedua kaki sering bengkak.

Medis Eropa

Jika mengikuti diagnosis dokter tadi, tentulah bengkak di betis sampai mata kaki bukan karena jantung lemah, tapi karena di kedua betis sering pula diambil paku, beling, capit kepiting, gabah, miang bambu dan kawat.

Gejala yang sering terjadi adalah betis kram di tengah malam. Sakitnya bukan main. Betis keras seperti batu. Baring sakit, duduk nyeri, miring perih, dst. Kram berlangsung antara 5-10 menit.

Belakangan bengkak di kaki kian parah sampai mata kaki tidak kelihatan. Semula saya akan ke IGD (instalasi gawat darurat) di rumah sakit rujukan di Jakarta Timur. Tapi, saya teringat anjuran Pak Ajie, orang pintar di Banten yang mengobati saya, agar mencoba 'terapi lintah'.

Bayangan saya pun kalau dibawa ke rumah sakit biasanya disuruh baring dan kaki digantung. Ini tidak akan berhasil karena bekas-bekas benda yang ditarik dari betis jadi 'penyumbat' aliran darah.

Dikabarkan bahwa lintah medis Eropa, hirudo medicinalis, sudah lama dipakai untuk mengeluarkan darah (plebotomi) secara medis. Lintah (Hirudinea) yang hidup di air menempel di permukaan kulit akan menyuntikkan enzim dan senyawa berwarna putih. Selanjutnya lintah akan menghisap darah. Darah yang dihisap lintah encer dan berwarna cerah seperti gincu. Setelah ‘kenyang’ lintah akan lepas sendiri dari permukaan kulit. Tampaknya, yang disebot lintah bukan ‘darah kotor’, tapi zat-zat asing yang ada di darah.

Satu hari, hari Minggu, di bulan April 2018 saya melangkahkan kaki ke Jatinegera, Jakarta Timur. Di trotoar dekat Pasar Lokomotif arah ke Sta KA Jatinegara dari Kebon Pala ada 'tukang lintah'. Saya tunjukkan betis kanan yang punuh dengan bekas garukan, "Wah, itu eksim, Pak," kata 'tukang lintah'.

Tapi, setelah saya tunjukkan foto benda-benda yang pernah diambil dia pun manggut-manggut. "Satu lintah Rp 10.000," katanya sambil mengambil lintah yang kecil dari stoples pelastik. Saya mau mencoba anjuran Pak Ajie. "Tiga lintah dulu," kata saya.

Lintah ditempelkan ke bekas-bekas tempat menarik benda-benda kiriman. Begitu lintah nempel terasa gatal dan sedikit nyeri. Rupanya, lintah menyemprotkan cairan bening kental ke aliran darah baru kemudian disedot. "Kalau lintah sudah kenyang nanti jatuh sendiri," ujar tukang lintah.

Asam Urat

Menurut Pak Ajie lintah itu akan menyedot darah yang tidak sama dengan darah di tubuh karena darah di tempat itu sudah kena racun yang dibawa benda-benda kiriman. Dengan bekam tidak bisa disedot darah yang terkontaminasi racun santet.

[Baca juga: Santet, Ada Kiriman di Malam Hari]

Memang, santet sering dijadikan alat untuk menyakiti agar korban tidak berdaya yang dikirim oleh dukun santet. Biaya untuk mengirim santet dibayar oleh orang yang ingin mencelakai karena berbagai macam alasan. Misalnya, orang-orang yang mencari kekayaan dengan pesugihan. Ada yang memelihara tuyul, babi ngepet, nyumpang dan yang kelas berat memelihara buto ijo. Ada pula karena sakit hati, urusan perempuan, soal harta, jabatan, dll. 

"Plaaaakkkkk ....." Salah satu lintah jatuh besarnya kira-kira sebesar jempol rata-rata orang dewasa. Padahal waktu mulai nempel besarnya tidak lebih dari besar pinsil. Darah terus mengucur, "Biarkan dulu, Pak, itu darah kotornya," kata tukang lintah.

Alhamdulillah. Betis saya mulai mengecil kembali ke ukuran normal. Dua hari kemudian saya ke 'tukang lintah' lagi dan menyewa 6 lintah di berbaga titik di betis dan punggung yaitu tempat-tempat masuk benda-benda kiriman. Sepekan berikutnya saya sewa 10 lintah.

Cerita ‘tukang lintah’ beberapa jenis penyakit bisa dibantu penyembuhannya dengan ‘terapi lintah’. Tapi, saya hanya melakukan ‘terapi lintah’ untuk menarik racun di darah yang dibawa benda-benda yang dikirim dengan santet.

Beberapa hari kemudian kaki kiri dan kanan pun pulih dengan ukuran normal. Sebelum ke ‘tukang lintah’ bengkak di kaki saya tunjukkan ke dokter dan menceritakan sepintas tentang benda-benda yang ditarik. "Sudah tes asam urat saja," tanya Bu Dokter. Saya katakan dua bulan sebelumnya baru operasi katarak yang sebelumnya sudah jalani tes darah tentu asam urat normal.

Bulan berikutnya daya ke dokter untuk keperluan lain. Saya ceritakn 'terapi lintah' yang saya jalani. "Bisa kempes, Pak," tanya Bu Dokter. Mendengar jawaban saya bahwa kaki kempes dengan ‘terapi lintah’ Bu Dokter itu pun tersenyum. []

Berita terkait
Terapi Cuci Perut Pilihan Bijak Penderita Fungsi Ginjal
Di Indonesia, tindakan Hemodialisa merupakan terapi paling banyak digunakan penderita fungsi ginjal. Padahal, masih ada terapi CAPD
Tiga Terapi untuk Anak Autisme
Apabila anak terdiagnosa autisme segera lakukan penanganan dengan memberikan terapi yang mencakup tiga hal yakni perilaku, bicara dan okupasi.
Hati-hati Gigi Berlubang Memicu Sakit Jantung
Gigi berlubang atau gigi karies menyebabkan penyakit sistemik pada seseorang yang bisa masuk ke peredaran darah dan memperburuk kondisi jantung.
0
Bakar Lahan untuk Bertanam Tradisi Petani Sumatera
Kebakaran hutan di Indonesia disebabkan banyak faktor. salah satunya sebagian petani di Sumatera saat bertanam dengan membakar lahan