UNTUK INDONESIA

Tempat Belajar Segala tentang Kopi di Yogyakarta

Kopi menjadi salah satu minuman wajib untuk beberapa orang, tapi tidak semua orang paham tentang kopi. Ini cerita tentang pembelajaran kopi.
Tiga karung berisi biji kopi yang masing-masing telah disangrai atau diroasting dengan kepekatan yang berbeda di Coday Coffee Lab and Roastery, Yogyakarta, Jumat, 20 November 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Yogyakarta – Tiga pemuda berdiri di belakang meja bartender. Salah satu dari mereka terlihat asyik dengan mesin penggiling kopi berukuran kecil di hadapannya. Dua lainnya sedang berdiskusi, entah apa yang mereka bicarakan. Di atas meja tertata rapi sejumlah toples kecil berisi biji kopi yang sudah disangrai.

Suara mesin penggiling kopi terdengar memenuhi ruangan. Sesaat kemudian aroma harum khas kopi tercium samar di tempat itu, Coday Coffee Lab and Rostery, di Jl Ahmad Wahid, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tepatnya hanya beberapa ratus meter di sebelah utara perempatan Wiyoro.

Salah satu pemuda itu berjalan menuju ruangan kecil yang terletak beberapa meter di depan meja bartender itu, kemudian kembali keluar bersama seorang perempuan bermasker dengan rambut sebahu.

Cerita Coffee Lab Yogyakarta (2)Ni Putu Melinda Praba Mitasari, Manager Coday Coffee Lab and Roastery, berdiri di samping mesin roasting, Jumat, 20 November 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Perempuan muda itu, Ni Putu Melinda Praba Mitasari, menyapa ramah sebelum menjelaskan tentang Coday Coffee Lab dan Roastery.

Target Kampus Kopi Internasional

Melinda, sapaan akrab perempuan yang merupakan manager di tempat itu, mengatakan, Coday Coffe Lab and Roastery ini merupakan salah satu pusat edukasi kopi yang ada di Yogyakarta. Pihaknya menargetkan Coday menjadi kampus kopi berstandar internasional.

Target kami sebenarnya menjadi kampus kopi standar internasional yang namanya SCA, yang saat ini memang baru ada di Jakarta dan Bandung.

Saat ini kampus kopi semacam itu hanya ada di Jakarta dan Bandung, dan Coday sedang menuju ke sana. Tapi untuk saat sekarang ini wujudnya masih berupa lembaga pendidikan kejuruan (LPK). Untuk wilayah DIY dan Jawa Tengah, Coday menjadi satu-satunya.

Para peserta pelatihan di Coday Coffee Lab and Roastery bisa memilih kelas kopi yang mereka butuhkan, yakni kelas dasar atau basic, kelas manual brewing, kelas barista, kelas roasting, dan kelas coffee shop management.

“Kami menyediakan lima kelas. Di kelas dasar atau basic kita bisa membedakan rasa-rasa kopi. Jadi yang kita pelajari adalah mengaktifkan organ sensorik. Kan ketika kita minum kopi, otomatis alat penilainya kita sendiri, lidah, hidung, seperti itu,” ucapnya. Jumat, 20 November 2020.

Di kelas itu para peserta pelatihan belajar mengetahui kepekaan sensor pada tubuh mereka masing-masing. Nantinya mereka juga akan mampu membuktikan berbagai rasa kopi yang ada, misalnya rasa pisang, nangka, dll.

“Jadi kita bisa membuktikan, beneran nggak sih ada rasa banana, misalnya gitu. Ada rasa nangka, dll,” ucap Melinda menegaskan.

Cerita Coffee Lab Yogyakarta (3)Tumpukan karung berisi biji kopi yang siap diolah di Coday Coffee Lab and Roastery, Yogyakarta, Jumat, 20 November 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Setelah menyelesaikan kelas basic, para peserta bisa melanjutkan pembelajarannya di kelas manual brewing, yang merupakan kelas untuk mempelajari cara penyeduhan kopi, misalnya teknik penyeduhan V60, atau aero press, atau teknik penyeduhan lain.

Tujuan dari kelas itu untuk memaksimalkan rasa kopi, biasanya untuk kopi single origin. Para peserta kelas ini akan dididik untuk mengetahui proses penggilingan atau grinding.

“Tadi kan di kelas dasar kita sudah belajar membedakan rasanya. Di sini kita bisa memaksimalkan, untuk memaksimalkan rasanya itu harus suhu berapa, grind size berapa, seperti itu.”

Kelas selanjutnya adalah kelas barista. Pada kelas itu para pemateri fokus mengajarkan cara menggunakan mesin espresso. Mulai dari pengenalan mesin hingga cara membuat espresso yang enak.

Di kelas tersebut para peserta pelatihan juga akan diberikan materi tentang basic latte art, termasuk cara memegang milk jug atau teko susu dan teknik membuat foam atau busa.

Foam yang kita cari seperti apa. Tekniknya tangan kita gerakannya seperti apa, dan lain-lain,” ujarnya melanjutkan.

Kelas lanjutan dari kelas barista adalah kelas roasting. Di kelas ini para peserta pelatihan akan mendapatkan pengetahuan tentang kopi mulai dari hulu, termasuk cara memilah dan memilih green bean atau biji kopi mentah.

Di sini mereka akan mampu membedakan biji kopi yang bagus atau berkualitas dengan biji kopi berkualitas biasa. Selanjutnya para mentor juga akan memberi materi tentang cara memaksimalkan rasa green bean melalui roasting.

“Light, medium atau dark. Teman yang ikut kelas roasting ini juga akan belajar cupping, karena ketika kita roasting kan kita harus tahu rasa yang kita keluarkan seperti apa, layak nggak, enak nggak. Kalau kita rasa nggak nyaman masa kita jual.”

Kelas terakhir adalah kelas management coffee shop. Khusus kelas ini, kata Melinda, peserta tidak harus mengikuti empat kelas lain terlebih dahulu, sebab tujuan kelas ini lebih ke operasional pembukaan usaha coffee shop, misalnya tentang dana yang dibutuhkan, sumber daya manusia (SDM) yang dibutuhkan, jumlah kopi yang harus terjual untuk mengembalikan modal, dll.

“Nggak harus ikuti dari dasar, karena kita sesuaikan dengan kebutuhan teman-teman. Tapi untuk pemula, pasti kita akan menyarankan ke kelas basic dulu. Karena ketika kita udah paham basic, nanti lebih enak mempelajari yang selanjutnya.”

Coday Coffee Lab and Roastery mematok biaya pelatihan yang cukup terjangkau dan diklaim lebih murah daripada pelatihan yang sama di tempat lain, yakni Rp 2,5 juta untuk masing-masing kelas.

Cerita Coffee Lab Yogyakarta (4)Suasana pelatihan tentang kopi di Coday Coffee Lab and Roastery, Yogyakarta, Jumat, 20 November 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

“Itu masih paling terjangkau daripada kelas kopi lain yang ada, Mereka dapat tiga hari pelatihan, per hari delapan jam,” kata Melinda menambahkan.

Para peserta pelatihan juga akan mendapatkan snack dan makan siang selama pelatihan. Pada akhir pelatihan, mereka juga mendapatkan sertifikat dan merchandise.

Selama tiga hari mengikuti pelatian, pengetahuan mereka tentang kopi akan dimaksimalkan, dan di akhir materi, akan dilakukan review serta tanya jawab untuk memastikan bahwa para peserta pelatihan sudah memahami materi yang diberikan.

“Setelah selesai kelas pun mereka masih bisa konsultasi.”

Pondok Kopi

Selain memberikan edukasi melalui lima kelas pelatihan, Coday Coffee Lab and Roastery juga menyediakan kopi yang sudah diseduh untuk diminum di tempat. Kopi yang disediakan adalah kopi jenis single origin hasil roasting di tempat itu.

“Paling laku di sini house blend. Biasanya digunakan oleh teman-teman coffee shop untuk bikin espresso. Kita juga ada roaster untuk memenuhi kebutuhan coffee shop kita, dan kita juga selling up keluar.”

Untuk jasa roasting, Coday mematok harga Rp 15 ribu per kilogram. Tapi, untuk jasa roasting ini, Coday memiliki jadwal tertentu, sehingga para pelanggan yang kadang harus menunggu beberapa hari sebelum kopi mereka selesai proses roasting.

“Selain itu kita juga punya pondok kopi. Awalnya untuk peserta kelas yang dari luar Jawa, kami sediakan tempat. Tapi sekarang lebih ke event space karena teman-teman lebih suka buat event di sana,” ucapnya lagi.

Cerita Cofee Lab Yogyakarta (5)Tempat pelatihan tentang kopi yang terletak di area pondok kopi Coday Coffee Lab and Roastery, Yogyakarta, Jumat, 20 November 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Pondok kopi itu terletak di bagian belakang tempat itu. Untuk menuju ke pondok kopi, harus melewati ruang roasting. Di situ terdapat puluhan karung biji kopi yang siap untuk diproses.

Suasana di area pondok kopi terlihat sejuk dengan pesawahan di kanan dan kirinya. Gerimis yang turun siang itu membuat suasana menjadi lebih dingin.

Sejumlah peserta pelatihan terlihat serius mengikuti materi yang diberikan oleh mentor, di salah satu bangunan tanpa dinding semacam joglo (rumah adat Jawa), di area pondok kopi.

Taufik, 29 tahun, seorang peserta pelatihan, mengatakan, motivasinya mengikuti pelatihan itu adalah untuk menambah ilmu dan pengetahuan tentang kopi. “Karena kebetulan saya penikmat kopi,” ucapnya sambil menjelaskan bahwa pelatihan hari itu merupakan hari kedua pada pelatihan kelas kedua .

Sebelumnya Taufik sudah mengikuti pelatihan kelas pertama atau kelas dasar. Dari pelatihan itu, Taufik sudah paham tentang proses dari hulu sampai hilir, sejarah kopi, serta jenis-jenis kopi secara garis besar.

“Arabica, Robusta, Liberica, dll. Ketika panen yang dipetik yang mana, kemudian pacsapanen kan ada pengolahannya fullwash, semi, dll. Itu akan mempengaruhi cita rasa kopi.”

Ke depannya, lanjut Taufik, dia memiliki rencana untuk membuka kafe. “Kalau ada modal atau rezeki. Harapannya begitu.” []

Berita terkait
Tangan Terampil di Desa Perajin Batik Kayu Yogyakarta
Desa Wisata Krebet di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta dikenal sebagai sentra produksi kerajinan batik kayu. Begini proses pembuatannya.
Cara Warga Kudus Mengelola Aliran Sungai di Daerahnya
Sejumlah sungai di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah dikelola oleh warga setempat dengan manjadikannya sebagai tempat wisata. Ini sungainya.
Kisah Janda Bolong Jadi Primadona Dibalik Pagebluk di Aceh
Bunga ataupun tanaman hias memiliki daya tarik tersendiri terutama bagi kaum perempuan. Kendati trah Adam banyak juga yang terobsesi dengannya.
0
Empat dari 14 Tahanan Kabur Ditangkap di Jayapura
Empat dari 14 tahanan yang kabur dari Mapolresta Jayapura kembali ditangkap. Dua menyerahkan diri, dua lainnya ditangkap di lokasi berbeda