UNTUK INDONESIA

Tangan Terampil di Desa Perajin Batik Kayu Yogyakarta

Desa Wisata Krebet di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta dikenal sebagai sentra produksi kerajinan batik kayu. Begini proses pembuatannya.
Paryanti, 40 tahun, sedang membatik di atas kerajinan ukiran kayu, di rumahnya, Desa Wisata Krebet, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Kamis, 19 November 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Bantul – Aroma lelehan lilin yang dipanaskan tercium di bangunan samping salah satu rumah di Desa Wisata Krebet, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis, 19 November 2020 siang. 

Asap tipis mengepul dari wajan kecil yang ada di atas tungku. Isinya semacam cairan berwarna kecokelatan. Orang menyebutnya dengan malam atau lilin untuk membatik.

Paryanti, seorang perempuan berusia 40 tahun, duduk hanya sekitar satu meter dari tungku tersebut. Ibu jari dan telunjuk tangan kanannya menjepit canting. Canting adalah alat untuk menorehkan malam pada kain atau kayu yang akan dibatik.

Sementara, jari tangan kirinya memegang kayu yang sudah diukir membentuk sepasang tangan sedang menengadah.

Cerita Batik Kayu Yogyakarta (2)Paryanti, 40 tahun, menorehkan malam cair di atas ukiran kayu berbentuk sepasang tangan, di rumahnya, Kamis, 19 November 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Perlahan dia mengambil lilin cair menggunakan canting, lalu meniup ujung canting sebelum menorehkannya pada ukiran kayu yang belum diwarnai, mengikuti pola bergambar bunga di situ.

Jalanan di depan rumah Paryanti tampak lengang meski jam sudah menunjukkan pukul 11.30 WIB. Tidak terdengar deru mesin kendaraan yang melintas. Hanya suara dedaunan yang bergesekan dan desiran angin yang terdengar menimpali ocehan burung-burung liar.

Proses Membatik Kayu

Paryanti mengisahkan suka dukanya menjadi pebatik kayu, yang dimulainya sejak sekitar 10 tahun lalu. Sambil terus menorehkan malam mengikuti pola yang ada, bibirnya bergerak bercerita.

Segala macam kerajinan dan ukiran dari batang kayu Sengon dan kayu Pule bisa diolahnya menjadi batik kayu, mulai dari kotak tisu, gantungan kunci, wayang, hingga topeng. Tapi, dia tidak memroduksi sendiri semua jenis kerajinan tersebut.

Bahannya diantarkan sama orang, nanti saya yang membatik. Kalau sudah jadi nanti diambil lagi, gitu.

Untuk membuat satu produk kerajinan batik kayu membutuhkan beberapa tahapan atau proses. Waktu yang diperlukan pun tidak sebentar. Pertama, ukiran kayu mentah harus digambari dengan pola terlebih dahulu. Biasanya para pebatik menggambarnya menggunakan pensil.

Untuk motif batik yang akan ditorehi malam, lanjut Paryanti, ada dua macam, yakni motif bebas dan motif yang ditentukan oleh pemesan. Jika pemesan meminta motif bebas, maka motif yang dibuat sesuai dengan selera Paryanti. Sementara jika mereka meminta motif tertentu, biasanya mereka mencantumkan gambar motif atau memberi contoh motif dengan kerajinan yang sudah jadi.

Setelah itu, malam cair ditorehkan sesuai gambar pola. Proses ini membutuhkan ketelitian dan ketelatenan, sebab jika tidak hati-hati, malam yang ditorehkan bisa meluber dan tidak sesuai pola. Hasil dari proses itu disebut dengan batik putihan.

“Proses membatiknya satu topeng kalau putihan satu jam selesai. Tapi biasanya mewarnai kalau sudah jadi banyak baru diwarnai. Satu jam itu untuk putihan saja, atau setengah jadi,” kata Paryanti menjelaskan.

Cerita Batik Kayu Yogyakarta (3)Sejumlah karya kerajinan batik kayu yang dipajang di Sanggar Peni milik Kemiskidi, 59 tahun, di Desa Wisata Krebet, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Kamis, 19 November 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Tiba-tiba, seorang nenek masuk dari pintu belakang ruangan itu. Hampir seluruh rambutnya sudah memutih. Jalannya sedikit bungkuk. Dia menyapa ramah saat mengetahui Paryanti sedang kedatangan tamu, kemudian kembali keluar setelah mengambil sejumlah asam Jawa yang dijemur di halaman rumah itu.

Paryanti melanjutkan penjelasannya tentang proses pembuatan batik kayu. Setelah menjadi batik putihan, kemudian batik itu diwarnai. Proses pewarnaan ada dua cara, yakni dengan diguyur dan disodet. Setelah diwarnai, kemudian dijemur.

Setelah kering, proses pewarnaan kembali dilakukan, kemudian dijemur kembali. Proses pewarnaan bisa dilakukan hingga beberapa kali, tergantung berapa warna yang akan dibuat untuk batik tersebut.

“Setelah itu diwarnai lagi, baru dilorot atau dihilangkan lilinnya. Sebenarnya setengah hari untuk satu warna itu sudah jadi, tapi nunggu keringnya lama,” ucap Paryanti melanjutkan.

Total waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proses batik bisa mencapai dua atau tiga hari, tergantung jumlah warna yang akan diberikan pada batik tersebut. “Kalau pewarnaannya cuma satu kali itu bisa sehari jadi.”

Selama 10 tahun menjadi pebatik kerajinan kayu, Paryanti mengaku pandemi Covid-19 merupakan masa yang paling sulit. Sebelum pandemi dia memiliki tiga karyawan yang membantunya membatik, tapi kini ketiganya harus diistirahatkan karena minimnya orang yang menggunakan jasanya sebagai pebatik.

Dulu ada empat pelanggan yang secara rutin menyetor kerajinan kayu untuk dibatik, tapi kini keempatnya berhenti untuk sementara. Beruntung masih ada satu orang pedagang kerajinan batik kayu yang bertahan dan menggunakan jasanya untuk membatik.

“Itu pun kadang-kadang. Setornya juga cuma sedikit. Kalau dulu itu cermin bisa dua karung per dua minggu, kalau topeng tiga karung,” kata dia mengenang.

Selain menjual jasa keterampilan membatik, Paryanti juga menerima pesanan kerajinan batik kayu. Untuk harga kerajinan batik kayu, dia mematok harga yang cukup terjangkau. Topeng batik berukuran kecil atau S, misalnya, dibanderol dengan harga Rp 30 ribu, ukuran L seharga Rp 50 ribu, dan ukuran XL seharga Rp 70 ribu.

“Kalau pesan banyak bisa nego harga. Kalau cermin, ukuran M sekitar Rp 8-10 ribu. Kalau sudah diberi melamin Rp 14 ribu. Nanti tergantung pesanan. Kalau kotak tisu Rp 30 ribu, tatakan gelas juga sama, tergantung batiknya,” kata pemilik Devia Art ini.

Setelah menjelaskan, Paryanti berdiri dari tempat duduknya, kemudian berjalan memasuki rumah, dan kembali keluar sambil membawa contoh-contoh kerajinan batik yang sudah selesai dibuatnya. Warna dan coraknya terlihat khas Jawa, mulai dari cermin hingga topeng.

Ekspor ke Dua Benua

Hanya beberapa ratus meter dari rumah Paryanti, terdapat satu bangunan yang tampak lebih besar dari beberapa rumah lain di sekitarnya. Bangunan itu adalah Sanggar Peni, tempat memproduksi kerajinan dari kayu sekaligus show room atau tempat penjualan.

Cerita Batik Kayu Yogyakarta (4)Sejumlah karyawan Sanggar Peni sedang melakukan proses finishing atau penyelesaian batik kayu, Kamis, 19 November 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Di ruangan depan sanggar itu tertata rapi ratusan kerajinan batik kayu beragam jenis dan ukuran, mulai dari souvenir berbentuk gantungan kunci hingga patung sepasang pengantin yang disebut Loro Blonyo. Sementara di bagian belakang terdapat beberapa ruangan yang digunakan sebagai tempat produksi.

Suara palu yang berbenturan dengan pahat sesekali terdengar di sela suara gesekan kertas penghalus yang digosokkan pada kayu yang telah selesai dipahat atau diukir.

Seorang perempuan berhijab menyapa ramah. Dia adalah seorang karyawati Sanggar Peni. Namanya Tri, berusia 24 tahun. Dia menunjukkan tempat penyimpanan ukiran kayu yang belum dibatik hingga proses produksinya.

“Jenis barangnya mulai dari souvenir, hiasan sampai fungsional. Souvenir itu seperti gantungan kunci, hand mirror (cermin), dll. Pemasaran hampir seluruh Indonesia,” ucapnya.

“Yang paling laku itu kerajinan fungsional, yaitu mangkok dan piring. Topeng juga laku. Topeng itu ada empat ukuran, dari S sampai XL.”

Senada dengan Paryanti, menurut Tri, pandemi juga cukup berpengaruh terhadap pemasaran produk mereka, khususnya saat awal pandemi. Saat ini pemasaran produk sudah mulai kembali normal.

Sementara, Kemiskidi, 59 tahun, pemilik Sanggar Peni, mengatakan hal yang berbeda. Kata Kemiskidi, pandemi cukup berpengaruh tapi pengaruhnya tidak terlalu besar. Sebab dirinya sudah menjalin kerja sama dengan beberapa eksportir dalam pemasaran produknya.

“Saya mulai 1989, khusus batik kayu. Pandemi ini pada intinya menurun, cuma kita ada kerja sama dengan eksportir, pasarnya masih jalan dan kita tetap dapat order. Kita ekspornya ke Amerika dan Eropa,” ucap Kemiskidi.

Barang yang diminati oleh eksportir satu dengan yang lain tidak sama. Eksportir satu misalnya lebih suka barang dekoratif, sementara eksportir lain lebih menyukai barang fungsional seperti nampan, mangkok, tempat tisu, dll.

“Kalau dekoratif itu bentuk hewan-hewan. Kalau lokalan turunnya drastis.”

Kemiskidi menceritakan awal mula dirinya terjun dan menjalani bisnis kerajinan. Menurutnya, dulu setelah sekolah SD dirinya terkendala biaya untuk melanjutkan sekolah. Akhirnya dia bekerja dan belajar membuat kerajinan topeng.

Cerita Batik Kayu Yogyakarta (5)Proses pengukiran kayu sebelum dibuat menjadi kerajinan dan diwarnai dengan cara dibatik, Kamis, 19 November 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Waktu itu topeng yang dibuatnya belum dibatik seperti saat ini, melainkan hanya dicat. Kemudian saat ada pameran di bentara budaya, sekitar 1990an, dia bertemu dengan beberapa orang dari Institut Seni Indonesia (ISI). Mereka menyarankan agar topeng bukan cuma dicat tapi dibatik.

“Awalnya kita juga belum merespons, tapi lama-lama kita coba, teryata banyak yang tertarik. Di sini kan sentra, jadi bukan cuma saya sendiri,” ucapnya.

Harga kerajinan produksi mereka yang paling murah adalah gantungan kunci, karena bahannya dari limbah-limbah kayu.

“Harganya Rp 5 ribuan. Paling mahal itu Loro Blonyo patung, yang besar itu Rp 20 juta. Tapi itu bukan batik tapi cat, yang batik itu yang kecil, harganya sekitar Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu.”

Percakapan terhenti karena seorang pengunjung datang dan berniat untuk melihat-lihat produk kerajinan batik kayu di situ. []

Berita terkait
Cara Warga Kudus Mengelola Aliran Sungai di Daerahnya
Sejumlah sungai di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah dikelola oleh warga setempat dengan manjadikannya sebagai tempat wisata. Ini sungainya.
Harapan Pedagang Rokok Asongan di Malioboro Yogyakarta
Malioboro akan menjadi kawasan tanpa rokok, dan pelanggarnya terancam denda hingga jutaan rupiah. Begini harapan pedagang rokok asongan di sana.
Cara Belajar Sejarah Para Pemburu Makam di Yogyakarta
Beragam cara dilakukan oleh orang untuk mempelajari sesuatu, termasuk yang dilakukan oleh dua anak muda di Yogyakarta dalam mempelajari sejarah.
0
Kenakan Seragam Polisi ke Rumah Teman, Pelajar Gowa Ditangkap
Seorang pelajar di Gowa kenakan seragam polisi ke rumah teman wanitanya di Maros, celakanya ternyata ortu pacarnya seorang polisi.