UNTUK INDONESIA
Tarian Penghancur Raya, Kegelisahan .Feast Atas Alam
Lagu Tarian Penghancur Raya milik .Feast berisi kegelisahan menyoal kondisi alam dan tingkah laku manusia di atasnya.
Lagu Tarian Penghancur Raya milik .Feast berisi kegelisahan menyoal kondisi alam dan tingkah laku manusia di atasnya. (Foto: Sun Eater)

Jakarta - kelompok musik .Feast merilis lagu terbaru mereka berjudul Tarian Penghancur Raya pada Jum'at. 8 November 2019. Lirik tembang berisi kegelisahan para personel mengenai hantu polusi dan perubahan iklim yang mengancam, namun tak kunjung mendapat perhatian lebih dari dunia.

Melalui keterangan resmi mereka kepada Tagar, .Feast mengatakan jika lagu Dalam Hitungan mereka berbicara mengenai hubungan manusia dengan teknologi dan rumus-rumus yang mengatur masyarakat, kini melalui Tarian Penghancur Raya, band ini ingin membahas mengenai sesuatu yang berbeda.

"Tarian Penghancur Raya membahas hubungan antara manusia dengan alam, budaya, dan segala sesuatu yang dilahirkan oleh pertiwi jauh sebelum masyarakat menapaki bumi," kata mereka dalam keterangannya, Jum'at, 8 November 2019.

Baskara Putra, sang vokalis yang juga penulis lirik dalam lagu ini mengatakan, dalam lagu Tarian Penghancur Raya terdapat kekecewaan terhadap usaha-usaha masyarakat yang gagal dalam menanggapi perubahan lingkungan (baik alam dan budaya) secara bijak, juga kekecewaan terhadap diri sendiri yang hipokrit dalam menjadi konsumen budaya dan produk.

Tarian Penghancur Raya menjadi sebuah lagu yang relevan untuk dirilis sekarang.

Lagu merupakan refleksi terhadap banyaknya berita dan kabar tidak mengenakkan perihal kerusakan lingkungan dan ancaman kelangsungan berbagai warisan budaya Indonesia yang belakangan terus menyeruak ke hadapan publik.

"Rasanya Tarian Penghancur Raya menjadi sebuah lagu yang relevan untuk dirilis sekarang. Ini kami tulis bukan hanya sebagai sebuah kritik terhadap keadaan secara umum, namun juga kepada diri kami sendiri," kata Baskara

"Kita berlomba-lomba merusak seluruhnya yang asli dan asri, entah demi apa," ujar dia.

Tarian Penghancur RayaLagu Tarian Penghancur Raya milik .Feast berisi kegelisahan menyoal kondisi alam dan tingkah laku manusia di atasnya. (Foto: Mikael Aldo)

Tarian Penghancur Raya dibuka lewat suara gamelan di bagian intro. Dengan itu, .Feast seolah mengajak pendengarnya menari merespon keadaan tentang lingkungan belakangan ini.

Grup musik yang terdiri dari Baskara, Awan, Adnan, Dicky, dan Ryo Bodat ini terdengar mengeksplorasi suara tetabuhan dalam lagu Tarian Penghancur Raya. Namun ciri khas .Feast seperti sound gitar yang bluesy masih terdengar.

Departemen bass yang kali ini dieksplorasi dengan menggunakan sub bass namun progresinya masih terdengar familiar. Begitu juga dengan vokal Baskara yang lugas menyanyikan lirik-lirik sarat kritik isu sosial.

Aransemen dan komposisi lagu Tarian Penghancur Raya yang sudah tersedia di berbagai layanan musik digital seperti Apple Music, iTunes, Spotify, dan Joox digarap bersama oleh .Feast dan diproduseri oleh Wisnu Ikhsantama Wicaksana dan Baskara Putra.

Baca juga: Baskara Bikin Petisi Spotify-kan Karya Jason Ranti

Lagu direkam dan di-mixing di studio Soundpole milik Wisnu Ikhsantama Wicaksana dan beberapa part gitar direkam dan dimainkan oleh Rayhan Noor. Sedangkan mastering-nya dikerjakan oleh Marcel James.

Sementara artwork dikerjakan oleh Mikael Aldo dari Sun Eater Studio. Lirik video juga sudah tersedia di channel Youtube milik record label Sun Eater, dan digarap oleh Sun Eater Studio. []

Berita terkait
Via Vallen Siapkan Formula Jazz Jawa di JJF 2019
Pedangdut Via Vallen telah memiliki formula yang akan digunakan saat tampil di helatan Jatiluhur Jazz Festival 2019.
Wishnutama Jadi Sutradara Video Klip Musik Lagu Anji
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama menjadi sutradara video klip lagu berjudul Aku Percaya milik Anji.
The Flowers Tampil Lebih Liar di Album 'Roda-Roda Gila'
Album Roda-Roda Gila, disebut Boris akan menjadi album terbaru The Flowers yang lebih liar.
0
Pemprov Jakarta Klaim Masyarakat Setuju JPO Terbuka
Pemerintah provinsi DKI Jakarta mengklaim konsep JPO terbuka dan tanpa atap di Jalan Jenderal Sudirman disetujui oleh mayoritas masyarakat.