UNTUK INDONESIA
Sungai Winongo dan Stigma Kampung Preman Yogyakarta
Kampung Badran, Kota Yogyakarta, sering distigma sebagai kampung hitam. Namun, peran warga dalam mengolah swadaya air mampu mengikis stigma itu.
Sejumlah anak warga Kampung Badran bermain di mata air di tepi Sungai Winongo, Kota Yogyakarta, beberapa waktu lalu. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Yogyakarta - Beberapa anak kecil terlihat asyik bermain air di salah satu kolam di tepi Sungai Winongo, Kota Yogyakarta. Mereka saling memercikkan air pada teman-temannya, seolah tak peduli pada dua wanita dewasa yang mencuci baju di depan kolam sebelahnya.

Air sungai yang mengalir dari arah utara menerpa bebatuan dan keramba di tengah sungai, menimbulkan suara gemericik yang menenangkan. Desir angin sore menjelang senja nyaris tak terdengar. Kalah oleh deru air dan teriakan riang anak-anak di situ.

Hanya beberapa meter dari mereka, dua perempuan warga sekitar bantaran sungai mencuci baju. Tak jarang keduanya berbincang di sela aktivitasnya. Busa putih dari sabun cuci memenuhi permukaan air dalam ember mereka.

Hampir setiap sore kegiatan seperti itu bisa ditemukan di tempat tersebut, di wilayah RT48 RW11 Kampung Badran, Kota Yogyakarta. Sebagian warga memang masih mencuci di tepi sungai, tapi mereka tidak menggunakan air Sungai Winongo untuk mencuci. Mereka menggunakan air dari belik atau mata air yang ada di tepi sungai.

Mata air itu bahkan bukan hanya digunakan untuk mencuci. Warga setempat menampungnya, dan sebagian dari mereka menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan air bersih di rumah masing-masing. Mulai dari memasak hingga mandi.

Seorang tokoh masyarakat setempat, Sariman, 52 tahun, mengatakan, saat ini air dari mata air tersebut digunakan untuk mencukupi sekitar 98 keluarga di wilayah itu. Warga secara swadaya memompa dan menampung air dari mata air ke dalam tandon.

"Saat kami assesement, diketahui bahwa sumber air dari mata air di pinggir sungai sangat layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Dari situ, kami mencoba bergerak, kami berusaha untuk mewujudkan cita-cita itu, dengan menaikkan air dari mata air pinggir sungai, ke sebuah ground tank dan tower yang kemudian dimanfaatkan oleh warga selama ini," urai Sariman, Selasa, 23 Juni 2020.

Dia menjelaskan, selama ini tarif air bersih swadaya yang dikelola oleh warga cukup terjangkau. Harga per meter kubiknya jauh lebih murah dari pada air PDAM, dengan kualitas yang hampir setara. Keberadaan air bersih swadaya itu, kata dia sangat membantu warga. Apalagi air PDAM harganya bisa dipastikan akan semakin naik setiap tahun.

Pengelola air bersih swadaya tersebut menggunakan meteran air untuk menghitung jumlah pemakaian warga, dengan tarif Rp 20 ribu untuk pemakaian nol hingga 20 meter kubik. Sementara untuk pemakaian di atas 20 meter kubik, berlaku tarif Rp 1.250 per meter kubik.

Kampung Preman Yogyakarta1Warga Badran mencuci baju di pinggir Sungai Winongo, Yogyakarta. Mata air dari tepi sungai itu digunakan oleh sebagian warga untuk memenuhi kebutuhan air bersih. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

"Jauh lebih murah dari air PDAM. Mungkin seperti kami, pakai PDAM rata-rata sekarang hampir Rp 60 ribuan untuk pemakaian 0-20 atau 23 kubik, sekitar Rp 60 ribuan. Jadi kita 30 persen dari tarif PDAM," kata Sariman.

Selain harga air yang murah, menurutnya dengan air bersih swadaya itu juga mencoba mendidik masyarakat, bahwa air bukan warisan, tetapi titipan dari anak cucu kita. "Bukan warisan dari leluhur. Jadi penggunaannya juga harus sesuai dengan kebutuhan," tegasnya.

Sejak Tahun 2012

Sariman melanjutkan, berdasarkan hasil assesement pada tahun 2009, debit air dari mata air di pinggir sungai itu bisa mencukupi kebutuhan 350 keluarga. Namun sejak air bersih swadaya itu mulai digunakan warga pada 2012 lalu, baru 98 keluarga yang memanfaatkan. Mayoritas mereka tinggal di daerah ledok, semacam dataran rendah di tepi sungai.

Salah satu penyebab air itu baru digunakan oleh 98 keluarga adalah kondisi geografis di wilayah tersebut. Warga membutuhkan mesin pompa air dengan kapasitas yang lebih besar untuk bisa mengalirkannya ke daerah yang lebih tinggi.

Sariman berharap ke depannya bisa dibangun tower yang lebih tinggi, agar warga yang tinggal di daerah yang lebih tinggi juga dapat memanfaatkan air bersih swadaya tersebut.

"Dulu kami pernah dapat bantuan untuk perawatan sumber sebesar Rp 400 jutaan dari pemerintah. Itu kami manfaatkan dengan SDM yang ada di kampung, tidak ubahnya program padat karya. Artinya kami laksanakan sesuai visi pemerintah. Jadi tenaga kerja yang dipekerjakan adalah dari warga sekitar," kata Sariman.

Sejak mulai digunakan, pengelolaan air bersih swadaya ini cukup unik. Warga setempat menginginkan agar air bersih swadaya ini dikelola secara profesional, meski para pengelolanya sebagian merupakan pengurus RT dan RW.

"Karena kami mau lebih profesional, walaupun orang-orang yang mengelola adalah pengurus RW atau RT, tapi lepas dari kelembagaan RT dan RW. Sesuai kesepakatan itu dikelola oleh kelompok swadaya masyarakat. Jadi bukan LSM, kita juga tidak cari profit tapi kami coba tangani secara semi profesional," bebernya.

Sariman menuturkan, tidak semua kampung di Kota Yogyakarta memiliki air bersih yang dikelola secara swadaya oleh warga. Tapi Kampung Badran memilikinya. Kekompakan pengurus RT dan RW serta masyarakat setempat, diyakini mampu terus menjaga dan mengelola sumber air yang ada.

Lepas dari Stigma Kampung Hitam

Selama beberapa puluh tahun, yakni sekitar tahun 1970-an hingga 1980-an Kampung Badran terbungkus oleh stigma sebagai kampung preman. Stigma itu muncul dari warga di luar Kampung Badran. Tapi kekompakan warga setempat dan prestasi yang ditorehkan, mampu menghapus stigma itu.

"Kami paham bahwa notabene yang namanya Badran pada tahun 1970-an sampai 1980-an identik dengan kampung hitam, yang mana ada stigma dari masyarakat luar. Untuk masyarakat luar ada sebuah ketakutan, itu yang terjadi selama ini," kenang Sariman.

Warga Kampung Preman YogyakartaSeorang tokoh masyarakat warga Kampung Badran, Sariman, 52 tahun, mengenakan kaus bertulis "Aku bangga jadi warga Badran". (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Adanya perpindahan masyarakat dan kemunculan generasi-generasi di wilayah kampung itu, secara perlahan mengikis stigma yang ada. Keberadaan air bersih swadaya di Kampung Badran, juga mampu mempercepat penghapusan stigma tersebut.

Selain itu, kreativitas dan kemandirian warga menjadi percontohan untuk beberapa kampung-kampung lain di wilayah Yogyakarta. Kampung Badran beberapa kali menjuarai lomba tingkat kota maupun provinsi, termasuk Bank Sampah Lintas Winongo.

Beberapa penghargaan pernah diterima Bank Sampah Lintas Winongo, antara lain Juara II Bank Sampah Terbaik 2010 kategori kepadatan tinggi, Wali Kota Award 2011, Juara II Provinsi dalam lomba Green and Clean 2011, 2013, 2014 dan Penghargaan Pembina Bank Sampah di Tingkat Provinsi pada 2016 dan 2017.

"Yang perlu dipahami banyak program di wilayah kami. Ada bank sampah, yang untuk tingkat kota maupun provinsi kami selalu juara satu," imbuh Sariman bangga.

Program lain yang juga pernah dilaksanakan oleh warga dan pengurus RT/RW di Kampung Badran adalah program live in untuk bule yang ingin belajar tentang kampung mereka.

"Kami punya aturan atau rule bagi bule yang ingin belajar tentang kampung kami, mereka harus tinggal di kampung kami," ujarnya mantan Ketua RW 11 Badran ini.

Menurut Sariman, warga tidak mau jika para bule itu belajar tentang kampung mereka tapi mereka tinggal di hotel. Dengan program live in tersebut, saat bangun hingga tidur, para bule itu melakukan kegiatan di kampung Badran. "Kami harap 10 sampai 15 tahun mendatang akan muncul generasi emas dari wilayah kami," harapnya. []

Baca Juga:

Berita terkait
Malam Mencekam Kala Banjir Terjang Kampung Bantaeng
Banjir menerjang sejumlah perkampungan di Bantaeng. Malam itu benar-benar mencekam bagi kaum ibu dan anak, hingga mereka merasa trauma.
Uniknya Kampung Rewako di Gowa
Ditengah Pandemi Covid-19, Kabupaten Gowa menghadirkan Kampung Rewako untuk membantu kebutuhan warga ditengah pandemi Corona.
Sosok Seniman yang Melarang Berwisata di Yogyakarta
Seoarang pelukis di Yogyakarta membentangkan spanduk yang dianggap membuat wisatawan tidak nyaman. Dia pun ditegur. Siapa si pelukis itu?
0
Sungai Winongo dan Stigma Kampung Preman Yogyakarta
Kampung Badran, Kota Yogyakarta, sering distigma sebagai kampung hitam. Namun, peran warga dalam mengolah swadaya air mampu mengikis stigma itu.