UNTUK INDONESIA
Sukmawati Dua Kali Kesandung Kasus Sensitif
Sukmawati Soekarnoputri merupakan putri ketiga Soekarno dari sang istri Fatmawati. Sosoknya lekat dengan kesan kontroversial.
Sukmawati Soekarnoputri. (Foto: Facebook/Sukmawati Soekarnoputri)

Jakarta - Sukmawati Soekarnoputri kembali tersandung kasus. Sebelumnya di tahun 2018 pada perhelatan Jakarta Fashion Week, ia pernah melontarkan diksi yang menjadi permasalahan. Kini, Sukmawati kembali memberikan pernyataan yang membandingkan Nabi Muhammad SAW dan Soekarno dalam memerdekakan Indonesia.

Sukmawati merupakan putri ketiga Soekarno dari sang istri Fatmawati. Ia dilahirkan di Jakarta, 26 Oktober 1951 dengan nama lengkap Diah Mutiara Sukmawati Sukarnoputri.

Sukmawati menuliskan kesaksian selama 15 tahun di Istana Merdeka dalam sebuah buku yang bertajuk Creeping Coup D'Tat Mayjen Suharto.

Sukmawati adalah adik dari Megawati Soekarnoputri dan Rachmawati Soekarnoputri. Seperti saudara-saudarinya yang lain, ia mendapatkan pendidikan untuk menjadi pribadi yang berkualitas dan tidak melupakan rasa cinta terhadap Tanah Air. 

Sukmawati mengawali pendidikan formal di Sekolah Rakyat (SR) dan tamat tahun 1964. Ia sempat belajar Akademi Tari di di LPKJ, Jakarta, tahun 1970-1974. Kemudian menjadi mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional (HI), Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip), Universitas Bung Karno (UBK), Jakarta.

Sukmawati menikah dengan Putra Mahkota Puri Mangkunegara yaitu Pangeran Sujiwa Kusuma. Kemudian naik tahta dan bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IX.

Putri ketiga Soekarno ini ternyata tak kuat berada di samping sang putra mahkota, Pangeran Kusuma. Ia memilih bercerai dan meninggalkan gelarnya sebagai seorang putri mahkota. 

Hasil pernikahan dengan pangeran Kusuma yang saat ini menjabat sebagai Mangkunara IX, Sukmawati melahirkan dua orang putra yaitu GPH Paundrakarna dan GRA Putri Agung Suniwati. Setelah bercerai, kemudian Sukmawati menikah lagi dengan Muhammad Hilmy

Pada tahun 1998, Sukmawati membangkitkan kembali Partai Nasional Indonesia (PNI) dengan nama PNI Soepeni. Namun, selang empat tahun berganti nama menjadi PNI Marhaenisme dan menjadi ketua umum.

Pada usianya menginjak 60 tahun, Sukmawati menuliskan kesaksian selama 15 tahun di Istana Merdeka dalam sebuah buku yang bertajuk Creeping Coup D'Tat Mayjen Suharto.

Diceritakan, kehidupan Sukmawati sejak dilahirkan di Istana Merdeka saat sang ayah masih menjabat sebagai presiden, hingga akhirnya menginjak usia remaja. Ia juga memberikan kesaksian, Soeharto telah mengkudeta ayahnya pada 1965-1967.

Menurut Sukmawati, saat itu Pangkostrad Mayjen Soeharto beserta anggota militer lainnya menggunakan Surat Perintah 11 Maret 1966 untuk menggulingkan Presiden Soekarno dan mengantarkan Soeharto menjadi Presiden Indonesia pada saat itu.

Selain berpolitik, Sukmawati juga merupakan seorang penggiat seni. Ia menyukai tari, lukis, bahkan sastra. Ketertarikannya terhadap dunia seni sering membuatnya betah berlama-lama berkumpul dengan teman sesama seniman di Taman Ismail Marzuki.

Sukmawati tidak hanya mewarisi darah politik sang ayah. Ia juga memiliki rasa cinta yang tinggi terhadap seni. []

Berita terkait
PBNU Ingatkan Sukmawati Hati-hati Bikin Pernyataan
Sekjen PBNU mengingkat Sukmawati agar lebih behati-hati kalau menyampaikan pernyataan supaya tidak menimbulkan kegaduhan di masyarakat
Isi Pidato Sukmawati Soekarnoputri Tentang Soekarno
Sukmawati Soekarnoputri mendapat kecaman dari masyarakat yang berujung kepada Polda Metro Jaya.
Kasus Puisi Sukmawati SP3, Polri: Tidak Ditemukan Perbuatan Melawan Hukum
Kasus puisi Sukmawati SP3, Polri: tidak ditemukan perbuatan melawan hukum. Penyidik sudah mendengar empat ahli termasuk ahli sastra.
0
Puncak Perayaan Hari Jadi Bantaeng ke-765 Meriah
Puncak perayaan hari jadi Kabupaten Bantaeng Sul-Sel yang ke-765 tahun berlangsung meriah.