UNTUK INDONESIA
Suatu Malam Tarawih di Masjid Terbesar Roma
Suatu malam Tarawih di masjid terbesar Roma, udaranya dingin, menjelang musim semi yang bersahabat, di atas 10 derajat Celsius.
Moschea di Roma, masjid terbesar di Roma, terletak di atas lahan sekitar 30.000 meter persegi, dibangun atas sumbangan 23 negara, termasuk Indonesia, Brunei, dan Malaysia. (Foto: Istimewa)

Roma, Italia, (Tagar 23/5/2018) - Pengalaman pertama Tarawih di masjid terbesar di Roma, bisa dibilang sangat menyenangkan dan mengesankan.

Senang, karena udaranya adem. Suhu udara di ibu kota Italia menjelang akhir musim semi sangat bersahabat, di atas 10 derajat Celsius.

Mengesankan, karena di tengah masyarakat yang mayoritas beragama Katolik dengan gereja yang mudah temui di setiap sudut kota, ada masjid yang sangat besar untuk umat Islam beribadah. Itulah Moschea di Roma atau Masjid Roma yang resmi berdiri pada bulan Juni 1995.

Masjid yang terletak di atas lahan sekitar 30.000 meter persegi itu dibangun atas sumbangan 23 negara, termasuk Indonesia, Brunei, dan Malaysia.

Selain itu, ada Arab Saudi, Aljazair, Bahrain, Bangladesh, Mesir, Uni Emirat Arab, Yordania, Irak, Kuwait, Libya, Maroko, Mauritania, Oman, Pakistan, Qatar, Senegal, Sudan, Tunisia, dan Yaman.

Moschea di RomaMoschea di Roma pada area bagian dalam

Imam besar Masjid Roma Salah Ramadan sebelum bertarawih, menceritakan Raja Faisal dan 23 negara memberikan sumbangan sebesar 50 juta dolar AS untuk membangun fasilitas ibadah dan belajar bagi umat Islam di Italia itu.

"Sumbangan yang cukup besar pada waktu itu untuk membangun masjid dan pusat pembelajaran Islam (Islamic Centre) ini," kata Salah yang sangat fasih berbahasa Inggris, di samping Arab dan Italia.

Berkembang 

Ia mengakui bahwa jumlah umat Islam di Italia tidak sebanyak di London (Inggris). Total muslim di negara yang dipimpin PM Paolo Gentiloni itu sekitar 1,5 juta orang, di antaranya lebih dari 100.000 orang asli Italia yang menganut agama Islam.

Kendati demikian, menurut Salah, Masjid Roma adalah masjid terbesar di Uni Eropa dengan segala fasilitasnya.

Tidak hanya masjid besar yang terletak di lantai dua yang bisa menampung lebih dari 3.000 orang dan dibuka hanya pada salat Jumat, bulan puasa, dan Lebaran atau Lebaran Haji, tetapi ada juga masjid kecil di lantai 1 untuk digunakan sehari-hari yang bisa menampung sekitar 100 orang.

Islam cukup berkembang di Italia. "Tiap minggu ada saja yang berpindah agama ke Islam, 1 hingga 2 orang. Alhamdulillah," katanya.

Mereka yang baru masuk Islam biasanya orang asli Italia atau pendatang dari negara Eropa lainnya.

Penduduk muslim lainnya di Italia sebagian besar adalah pendatang negara muslim, seperti Mesir, Maroko, Tunisia, Bangladesh, Pakistan, dan negara lain di Afrika.

Merekalah yang biasanya memenuhi Masjid Roma untuk tidak hanya beribadah, tetapi juga mengaji dan menghapal Alquran.

Pada bulan puasa, pihaknya mengadakan lomba hafiz Quran, di samping berbuka puasa bersama, kata Salah.

Tarawih 

Bertarawih sendiri baru dimulai sekitar pukul 23.00 waktu setempat atau sekitar pukul 04.00 Wib. Pada musim semi menjelang musim panas, matahari di Italia baru tenggelam pukul 20.30.

Sebagian besar dari mereka berdatangan sebelum salat Isya dimulai pukul 22.30.

Meski belum saling kenal sebelumnya, perempuan yang ditemui di sini sangat ramah.

Mereka menyapa dengan ucapan 'assalamualaikum', kemudian mempersilakan masuk dalam saf atau barisan perempuan yang sebagian besar berparas khas Timur Tengah dan Afrika.

Moschea di RomaMoschea di Roma pada semua sisi menampakkan kemegahan

Pada bulan puasa, menurut Imam Masjid Roma yang juga lulusan Universitas Al Azhar-Mesir itu, mereka yang datang bisa mencapai 1.000 sampai 3.000 orang.

Namun pada saat tarawih pertama, yang terlihat menunaikan rukun Islam kedua tidak lebih dari 200 orang. Makin menjelang akhir bulan puasa, mereka yang berjamaah terus bertambah, kata Salah meyakinkan.

Hal senada dikemukakan seorang warga negara Indonesia yang ikut bertarawih pertama di masjid yang juga menjadi pusat pengajaran Islam di Italia itu.

Ini mungkin belum banyak (warga muslim) yang tahu, ada tarawih pertama. Biasanya makin akhir bulan puasa masjid makin penuh, kata Tari, WNI yang sudah 16 tahun tinggal dan bekerja di Roma.

Bahkan, lanjut dia, pada Lebaran, jumlahnya membeludak, masjid penuh. "Salat Id diselenggarakan sampai tiga kali," ucap perempuan setengah baya yang bekerja sebagai pengasuh anak itu.

Menurut Tari, persaudaraan sesama muslim di Roma sangat kuat. Apalagi, mereka menjadi minoritas di negeri yang dekat sekali dengan pusat kepimpinan agama Katolik di Vatikan.

Moschea di RomaMoschea di Roma bagian depan dengan pemandangan air mancur yang indah

Ketika bertarawih dimulai, Salah Ramadan tidak menjadi imam. Profesor dari Al-Azhar itu mengambil bagian sebagai pemberi ceramah. Dia melakukannya setelah menyelesaikan empat rakaat tarawih.

Pada ceramah yang disampaikan dalam bahasa Arab itu, dia mengingatkan umat Islam bahwa bulan puasa adalah bulan pengampunan.

Puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan mata dan mulut dari pandangan dan ucapan yang tidak ada manfaatnya, katanya. Salah tidak hanya fasih berbahasa Arab, tetapi juga bahasa Inggris dan Italia.

Sama dengan sebagian besar masjid di Indonesia, Tarawih di Masjid Roma dilakukan 11 rakaat dengan delapan rakaat tarawih yang dilakukan dua, dua, dan tiga witir ditambah kunut.

Surah Albaqarah dilantunkan imam sepanjang Tarawih. Pada witir, imam membacakan surat Al A'la, kemudian Alzalzalah dan ditutup Alikhlas.

Suara merdu dan intonasi yang pas saat imam melantunkan ayat-ayat suci Alquran sempat membuat jemaah terisak mengingat ada surat yang menerangkan tentang hari kiamat (Alzalzalah) dan tentang pentingnya bekal untuk kehidupan akhirat yang kekal (Al A'la).

Kurang lebih 1 jam, Tarawih selesai, melewati tengah malam.

Usai berdoa, tiba-tiba seorang perempuan keturunan Arab yang duduk di sebelah, menyorongkan tangan bersalaman, dan menempelkan pipi kanan dan kirinya seakan sudah kenal lama.

"Syukron (terima kasih)," ucap saya sambil memeluk perempuan tua berwajah Arab yang ramah itu. Sungguh tidak menyangka mendapat sambutan hangat seperti itu dari orang yang baru kenal tidak lebih dari 2 jam.

Benar, kata Tari, ukhuwah islamiah di Roma sangat kuat. Tidak peduli beda bangsa, beda bahasa, bila sudah ketemu sesama muslim, mereka adalah saudara dalam iman. (ris/ant/af)

Berita terkait
0
Enam Tanaman Obat Diabetes
Diabetes salah satu penyakit berbahaya dengan ancaman kematian, mencegahnya bisa dibantu dengan tanaman herbal.