UNTUK INDONESIA
Software Bajakan Mudah Diserang Kejahatan Siber
Lembaga advokasi perangkat lunak BSA The Software Alliance menyatakan perangkat yang tidak berlisensi sering kali disusupi malware.
Ilustrasi - Hacker. (Foto: cointelegraph)

Jakarta - Lembaga advokasi perangkat lunak BSA The Software Alliance menyatakan satu di antara cara agar perangkat terlindung dari serangan siber, yaitu dengan menggunakan perangkat lunak yang legal atau jangan menggunakan software bajakan.

"Serangan siber bisa terjadi karena menggunakan perangkat lunak yang tidak berlisensi," kata Direktur Senior BSA, Tarun Sawney, dalam diskusi virtual, dikutip dari Antara, Selasa, 25 Agustus 2020.

Temuan BSA Global Software Survey pada 2018, perangkat lunak yang tidak berlisensi alias software bajakan sering kali disusupi malware atau masalah keamanan lainnya, sehingga rentan diserang. Satu dari tiga organisasi yang menggunakan perangkat lunak ilegal berpeluang untuk mendapat serangan siber.

Data dari IDC, yang dikutip BSA dalam survei tersebut, menunjukkan satu perangkat yang diserang malware membutuhkan biaya sekitar 10.000 dolar Amerika Serikat (AS) agar bisa pulih. Rata-rata perusahaan harus mengeluarkan dana sebesar 2,4 juta dolar AS untuk memulihkan semua perangkat yang terserang malware. 

Risiko serangan siber pun meningkat karena perubahan pola kerja akibat pandemi virus corona Covid-19, karyawan harus bekerja dari rumah, menggunakan perangkat dan sambungan pribadi. 

Risiko serangan siber ketika bekerja dari rumah lebih besar dibandingkan ketika bekerja di kantor, karena perusahaan memiliki tim TI serta perangkat juga sudah dibekali dengan berbagai fitur keamanan tambahan. 

BSA menjelaskan ketika memakai perangkat lunak yang legal, perangkat secara berkala akan diperbarui untuk mendapatkan pengamanan terkini. 

Pengguna juga akan mendapat notifikasi dan bantuan dari penyedia perangkat lunak ketika ditemukan celah keamanan, sesuatu yang tidak didapatkan di perangkat lunak ilegal. Menurut BSA, software legal juga telah diuji coba, sehingga pengguna mendapatkan produk yang stabil. 

BSA mengadakan kampanye Legalize and Protect untuk kawasan Asia Tenggara, berupa ajakan untuk menggunakan perangkat lunak legal di Indonesia, Vietnam, Thailand dan Filipina, selama enam bulan ke depan. 

Salah satu program dalam kampanye tersebut berupa konsultasi gratis untuk memfasilitasi perusahaan legalisasi perangkat lunak yang mereka gunakan. 

BSA menargetkan kampanye ini dapat menjangkau 40.000 perusahaan di negara tersebut.[]

Berita terkait
Data Rahasia Perusahaan Intel Diretas Hacker
Diketahui bahwa 20GB file yang dicuri tersebut berisikan data Intellectual Property perusahaan untuk desain chipset.
Dalang Peretas Twitter Remaja Berusia 17 Tahun
Remaja berusia 17 tahun di AS diciduk polisi, karena menjadi otak di balik peretasan sejumlah akun tokoh besar di Twitter beberapa waktu lalu.
Peretas Twitter Anak-anak Muda Terorganisasi
Ternyata mereka yang melakukan peretasan Twitter adalah sekelompok anak muda yang punya hubungan dengan negara atau kejahatan yang terorganisasi.
0
Fakta Menarik Sirkuit Red Bull MotoGP Styria 2020
Kumpulan fakta menarik di Sirkuit Red Bull Ring pada ajang balapan MotoGP Styria 2020, yang digelar sejak Minggu, 23 Agustus 2020.