UNTUK INDONESIA
Silancur Highland Negeri di Atas Awan Magelang
Kota Magelang, Jawa Tengah memiliki obyek wisata pegunungan yang kerap disebut negeri di atas awan, yakni Silancur Highland
Suasana pagi hari di Silancur Highland, Magelang, beberapa saat setelah matahari terbit, Jumat, 17 Juli 2020. (Foto: Tagar/Solikhah Ambar Pratiwi).

Magelang - Puncak Gunung Sumbing menjulang di kejauhan, lekukan di beberapa sisi lereng gunung terlihat cukup jelas dari Silancur Highland, Magelang. Warna hijau tuanya cukup kontras dengan biru cerahnya langit pagi itu, Jumat 17 Juli 2020.

Beberapa puncak gunung lain juga terlihat dari tempat itu, seperti Gunung Merapi, Merbabu, Andong, dan Telomoyo.

Beberapa jam sebelumnya, saat matahari baru saja muncul di sebelah timur, puncak-puncak gunung itu tampak seperti siluet raksasa dengan barisan awan yang melayang di atasnya, serta semburat jingga keemasan di sisi lain.

Pemandangan yang tidak kalah eksotis juga dapat dinikmati saat senja mulai datang menggantikan sore. Matahari yang terbenam perlahan menimbulkan keelokan yang tak mudah ditemui di lokasi lain.

Silancur Highland terletak di Dusun Dadapan, Desa Mangli, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang. Tempat itu menjadi salah satu tujuan wisata warga sekitar Magelang maupun daerah lain.

Banyak yang mengatakan, nggak rugi loh bangun pagi-pagi, sampai sini dikasih rejeki. Rejekinya adalah keindahan alam waktu sunrise. Kan biasanya kalau sedang musim hujan atau waktu-waktu tertentu nampak lautan awan atau samudra awan dari sini

Untuk menuju Silancur Highland, calon pengunjung bisa langsung menuju Kota Magelang. Dari puat Kota Magelang, para calon pengunjung sebaiknya mengikuti jalan ke arah Barat, menuju  ke arah Kecamatan Bandongan dan mengambil jalur menuju Desa Kalegen.

Setelah tiba di Desa Mangli, yang ditandai dengan adanya tugu kembar setinggi 4 meter, wisatawan tinggal mengikuti penunjuk arah sampai di lokasi Silancur Highland. Akses menuju lokasi itu bisa dijangkau menggunakan mobil atau sepeda motor.

Para wisatawan rela menempuh perjalanan jauh demi menikmati hawa segar dan panorama yang dianugerahkan oleh semesta di tempat itu.

Kembali Dibuka di Masa Pandemi

Saat awal pandemi Covid-19, Silancur Highland sempat ditutup sementara. Tapi pertengahan Juni 2020 obyek wisata yang buka pertama kali pada 2017 ini kembali dibuka untuk umum. Dampaknya cukup mengejutkan. Ribuan pengunjung mendatangi tempat itu untuk berwisata.

Cerita Silancur Highland 1Pemandangan berupa puncak beberapa gunung di Jawa Tengah menjelang matahari terbit, dilihat dari Silancur Highland, Jumat, 17 Juli 2020. (Foto: Tagar/Solikhah Ambar Pratiwi)

Pengunjung bahkan sampai memenuhi jalan perkampungan menuju lokasi wisata. Video kondisi di Silancur Highland pun viral di media sosial. Akhirnya pengelola memutuskan kembali menutup sementara Silancur Highland hingga kondisi memungkinkan.

Pengelola Silancur Highland, Ivan Kurniadi, menjelaskan, obyek wisata ini muncul dari ide seorang warga setempat yang bernama Sujarwo.

Saat pertama dibuka pada tahun 2017, Silancur berkonsep gardu pandang. Nama bekennya pun menjadi Gardu Pandang Silancur (GPS).

"Akhir tahun 2016 dibangun GPS. Semula, lokasi ini adalah kebun milik keluarga, terus kita lihat potensi disini," kata Ivan Kurniadi, Jumat, 31 Juli 2020.

Dia menyebutkan, lokasi Gardu Pandang Silancur  tadinya hanyalah ladang sayuran dengan puncak yang ditumbuhi pepohonan rindang. Ladang tersebut milik keluarga Sujarwo.

Gardu Pandang Silancur muncul bersamaan dengan fenomena gardu-gardu pandang buatan masyarakat di berbagai gunung dan perbukitan. Ketika itu, gardu pandang menjadi spot wisata anyar untuk menikmati pemandangan alam.

Lokasi yang strategis dipadu dengan potensi pemandangan alam yang menarik membuat Sujarwo dan putranya, Riko Sujatmiko sepakat membangun Gardu Pandang Silancur. Saat dibuka perdana, Gardu Pandang Silancur masih berupa bangunan mirip menara dengan bahan dasar bambu.

Bangunan setinggi 10 meter tersebut didirikan di atas bukit sehingga mampu menjangkau pemandangan di kejauhan tanpa terhalang pepohonan atau bangunan lain.

Kabar keberadaan Gardu Pandang  Silancur begitu cepat menyebar di media sosial. Apalagi didukung latar belakang foto bak negeri di atas awan. Tak membutuhkan waktu lama, wisatawan dari berbagai daerah langsung mendatangi Gardu Pandang Silancur ketika itu.

"Sekarang gardu pandangnya sudah tidak ada," ujar Ivan.

Sentuhan Baru Sejak 2018

Seiring berjalannya waktu, pengelola terus mencoba berinovasi dan memberikan sentuhan baru sesuai perkembangan zaman. Tahun 2018, Gardu Pandang Silancur kemudian berganti nama menjadi Silancur Highland.

Cerita Silancur Highland 2Seorang pengunjung Silancur Highlang, Magelang, berpose dengan latar belakang Gunung Sumbing, Jumat, 17 Juli 2020. (Foto: Tagar/Solikhah Ambar Pratiwi)

Perubahan nama tersebut dibarengi dengan penambahan spot-spot menarik di lokasi wisata demi memuaskan hasrat para pengunjung, yang mayoritas doyan berfoto. Biasanya, foto-foto yang diambil oleh pengunjung akan langsung diunggah di media sosial masing-masing dan sekaligus menjadi media promosi gratis.

Ivan mengakui, proses pengembangan sejak tahun 2018 berjalan pelan dan bertahap hingga mampu menjadi seperti saat ini. Apalagi, wisata tersebut dibangun dan dikembangkan dari dana pribadi.

"Ya memang karena milik pribadi jadi bisanya dari sedikit-sedikit. Yang paling senang itu bukan sekarang, tapi prosesnya," ucap Ivan.

Namun seperti pepatah, proses tidak akan mengkhianati hasil. Silancur Highland yang dulunya hanya berdiri di lahan pribadi seluas sekitar 600 meter persegi, kini telah bertambah menjadi lebih dari 7.000 meter persegi.

Meski telah bertambah sedemikian luasnya, namun konsep tetap seperti awal, yakni menawarkan view alam pegunungan.

Pengembangan Silancur Highland selama ini, lanjut Ivan, berkiblat pada obyek wisata dataran tinggi lain, yakni Dieng.

"Kita lihat media sosial banyak wisata bagus, tapi kita paling sering lihatnya di Dieng. Memang kitatidak bisa menyaingi Dieng, tapi kita tetap berusaha untuk mengembangkan sebaik mungkin agar pengunjungnya tetap senang dan tidak bosan untuk kembali," tuturnya.

Dan nyatanya, banyak pengunjung yang memang kedapatan kembali berwisata ke Silancur Highland setelah berkesempatan menikmati alam di sana.

Cerita Silancur Highland 3Puncak Gunung Sumbing, Jawa Tengah, dilihat dari Silancur Highland, Magelang, Jumat, 17 Juli 2020. (Foto: Tagar/Solikhah Ambar Pratiwi)

"Banyak yang mengatakan, nggak rugi loh bangun pagi-pagi, sampai sini dikasih rejeki. Rejekinya adalah keindahan alam waktu sunrise. Kan biasanya kalau sedang musim hujan atau waktu-waktu tertentu nampak lautan awan atau samudra awan dari sini".

Pembatasan Jumlah Pengunjung

Saking populernya, jumlah wisatawan yang datang ke Silancur Highland terus mengalami peningkatan. Jika tidak dalam kondisi pandemi covid-19, jumlahnya bisa mencapai ribuan. Namun, karena mentaati himbauan pemerintah tentang protokol kesehatan, pengelola kemudian membatasi jumlah pengunjung.

Saat ini, angka kunjungan Silancur Highland tercatat mencapai 500an orang di hari biasa. Sedangkan pada akhir pekan mencapai angka 1000 orang.

"Selama masa pandemi, kita menerapkan sistem buka tutup gerbang. Jadi pengunjung kita cek yang keluar masuk, jika dirasa di dalam lokasi penuh, kita tutup dulu, kita minta gantian pengunjung lain, sehingga

tidak bertumpuk," kata Ivan.

Untuk memudahkan wisatawan dari luar daerah yang ingin bermalam atau menikmati matahari terbit, pengelola Silancur Highland menyediakan camping ground dan homestay. Pengelola menyediakan tenda lengkap dengan perangkat lainnya yang siap dipergunakan.

Sementara untuk homestay, saat ini baru tersedia dua bangunan. Yakni untuk kapasitas dua orang dan empat orang. Homestay hanya diperuntukkan bagi keluarga dan pasangan yang sudah resmi menikah.

"Kepada pasangan yang belum menikah, kita tidak mengijinkan selagi itu berdua," tegasnya.

Untuk semua fasilitas yang disiapkan, pengelola mematok harga yang sangat terjangkau, yakni Rp10 ribu untuk harga tiket masuk, dan Rp15 ribu untuk tiket camping atau kemah.

Adapun biaya inap satu malam di homestay berkapasitas empat orang Rp350 ribu, kapasitas dua orang Rp 250 ribu. Apabila ada tambahan jumlah penginap di homestay, akan dikenakan biaya tambahan sebesar Rp15 ribu per orang.

Sedangkan biaya menginap di tenda camping ukuran 4x6 dengan fasilitas lengkap matras dan sleeping bag, yakni sebesar Rp 120 ribu. Tenda tersebut berkapasitas empat orang. []


Baca juga:

Cerita Penunggu Jembatan Angker Sinoa Bantaeng

Ruby Alamsyah, Analis Digital Forensik yang Hobi Baca Novel Detektif


Berita terkait
Wisata Bukit Klangon, Kemah dan Menatap Merapi dari Dekat
Wisata Bukit Klangon, spot terbaik untuk melihat Merapi, cocok untuk tracking hill karena jarak ke puncak Merapi hanya empat sampai lima kilometer.
Perjuangan Rusli, Relawan Banjir Bandang di Makassar
Rusli, seorang mahasiswa relawan harus mengikuti yudisium di tengah perjalanan menuju lokasi banjir di Luwu Utara, Sulawesi Selatan.
Kisah Badut Jalanan Berhati Mulia di Yogyakarta
Rinno, si badut jalanan di Yogyakarta ini berhati mulia. Relawan ini ikhlas berbagi penghasilan Rp 20 ribu per hari dengan orang yang membutuhkan.
0
Antusiasme Jokowi Resmikan Jembatan Ikonik Teluk Kendari
Presiden Joko Widodo atau Jokowi meresmikan Jembatan Teluk Kendari yang pengerjaannya sejak 2015 lalu. Ini menjadi ikonik sekaligus bermanfaat.