UNTUK INDONESIA
Cerita Penunggu Jembatan Angker Sinoa Bantaeng
Jembatan Sinoa di Kabupaten Bantaeng terkenal angker. Makhluk halus kerap mengganggu warga yang melintas.
Jembatan Sinoa yang terkenal angker, terletak di desa Bonto Maccini, Kecamatan Sinoa, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, setelah direnovasi. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Bantaeng - Jembatan Sinoa yang terletak di desa Bonto Maccini, Kecamatan Sinoa, Kabupaten Bantaeng Sulawesi Selatan, dikenal angker. Jembatan membentang di atas aliran sungai dengan lebar sekitar 15 meter.

Selain menghubungkan Kecamatan Sinoa dan Kecamatan Ulu Ere, jembatan itu juga menjadi jalur alternatif dari menuju Kabupaten Jeneponto dan Kabupaten Bulukumba.

Belum lama ini, jembatan itu baru saja direnovasi total. Kondisi jembatan yang dulunya sempit dan kumuh kini sudah lebih lapang. Perbaikan jembatan yang rampung di tahun 2020 itu, menghabiskan anggaran sekitar Rp 3,8 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Jembatan itu seperti kerajaan. Di situ ada sosok yang dituakan oleh para penunggu lain.

Cerita horor di jembatan itu hingga kini masih menyebar dari telinga ke telinga masyarakat. Kisah itu semakin terasa nyata ketika terjadinya beberapa adegan dramatis saat renovasi jembatan.

Kabarnya, para penunggu sungai yang berada tepat di bawah jembatan mengamuk dan merasuki raga sejumlah warga yang berada di sekitar proyek perbaikan jembatan itu.

Minggu, 1 Agustus 2020, Tagar menemui Mamang, 58 tahun, salah seorang tetua di kawasan tersebut. Sore itu, ia berjalan meniti jembatan sepulang dari ladang.

Di usianya yang sudah lebih dari setengah abad, Mamang mengakui banyak cerita-cerita tentang Kabupaten Bantaeng di masa lalu yang sudah jarang didengarkan saat ini. Termasuk, cerita tentang penunggu jembatan Sinoa.

Mamang tinggal cukup jauh dari dari jembatan, hampir sekitar dua kilometer. Dia tinggal di sebuah gubuk sederhana di kaki bukit. Beruntung, listrik sudah menjangkau lokasi tersebut setahun terakhir.

Sebelum listrik ada, ia benar-benar bersahabat dengan gulita dan kerap sendirian berjalan di jembatan angker itu. Mamang hanya tinggal sendirian. Sedangkan istrinya sudah meninggal dunia tujuh tahun silam dan mereka tidak memiliki anak.

"Jembatan itu seperti kerajaan. Di situ ada sosok yang dituakan oleh para penunggu lain," katanya.

Konon, sosok gaib itu tersebut benar-benar dihormati oleh penunggu lainnya. Jika sosok itu murka, maka para penunggu lainnya akan gelisah. Wujud kegelisahan kadang ditandai dengan semakin seringnya mereka berbuat usil pada setiap orang yang melintas di jembatan itu.

Terkadang, kata Mamang, sosok makhluk halus itu pernah muncul menyerupai orang tua. Dia berdiri dekat gapura yang berada tak jauh dari jembatan itu. Ada juga yang muncul dengan sosok orang berbungkuk yang jongkok atau berdiri dengan posisi kaki menggantung tidak menyentuh tanah di salah satu sisi jembatan.

Mahluk-mahluk halus seperti sosok kuntilanak juga kerap berlalu lalang di sana. Konon, ada belasan hingga puluhan kuntilanak menghuni pepohonan besar yang tumbuh di sekitar sungai.

"Dulu waktu perbaikan jembatan banyak yang kesurupan, yang jaga di situ orang tua bersurban duduk di atas batu, itu yang penguasa di sana," katanya.

Konon, sosok lelaki tua bersurban itu marah karena sungai menjadi kotor. Orang-orang membuang sampah di sisi jembatan dan mengotori air sungai. Semua itu diutarakan oleh salah seorang warga yang pernah kerasukan salah satu makhluk penunggu jembatan.

Menurut Mamang, pengerjaan proyek jembatan terganggu ulah makhluk gaib. Ada saja kejadian yang membuat pengerjaan jembatan terbengkalai. Bambu penyangga jatuh, bagian pengecoran juga kerap roboh sebelum kering.

GerbangGapura yang berjarak sekitar 5 meter dari jembatan Sinoa yang terkenal angker. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Pernah salah satu warga yang kerasukan meminta seluruh penduduk desa dan pemerintah setempat untuk membersihkan sungai. Sampah diangkut agar aliran sungai kembali jernih.

"Akhirnya semua kerja bakti, dan batu yang katanya menjadi tempat menetap sosok bersurban itu dihancurkan. Bebatuannya dijadikan bahan pondasi," tuturnya.

Saat ini, akses jembatan sudah bisa dilalui. Namun sosok-sosok astral penghuni jembatan tetap berada di tempatnya. Sejak peristiwa kesurupan terakhir kali, hingga kini tidak lagi ada kejadian-kejadian aneh di sana.

Meski, beberapa orang yang peka dengan kehadiran mahluk halus masih merasakan kondisi area tersebut masih dipadati penunggu.

Anna, perempuan berusia 29 tahun, salah seorang warga Kecamatan Bantaeng, Kabupaten Bantaeng, juga memberi kesaksian pengalaman mistisnya saat lewat di jembatan Sinoa.

Anna adalah seorang pedagang aksesoris dan kosmetik, yang melapak secara daring di media sosial miliknya. Dia telah terbiasa mengendarai sepeda motor hingga ke desa-desa untuk mengantarkan pesanan barang milik pelanggan.

Suatu hari, ia memiliki orderan di salah satu perkampungan. Untuk menuju perkampungan tersebut, Anna harus melalui jembatan Sinoa yang terkenal angker itu ketika malam Jumat.

Sebelumnya, Anna telah banyak mendengar cerita-cerita seram dari orang-orang tentang jembatan itu. Berhubung waktu itu sudah sore, ia pun meminta bantuan suaminya untuk diantarkan ke tempat yang dituju.

Dalam perjalanan menuju lokasi tidak ada kendala. Gangguan penghuni jembatan angker itu justru ia rasakan ketika dalam perjalanan kembali menuju rumahnya atau selepas magrib berlalu.

"Saya tidak lihat penampakan apapun, tapi semakin dekat ke jembatan kata suamiku motornya semakin berat," katanya.

Laju motor suami Anna berjalan pelan. Semakin gas ditarik, semakin motor itu sulit untuk berjalan. Seperti ditindih oleh sesuatu yang sangat berat, atau seolah bannya ditarik ribuan tangan sehingga berat untuk berputar di aspal.

Anna mulai cemas, ia terus menerus beristigfar dalam hati. Air matanya mulai menetes, pikirannya melayang pada dua orang anaknya yang menunggu kepulangan mereka di rumah.

"Waktu itu saya pejamkan mata dan terus beristigfar bertakbir, dan saya pikirkan anak-anak di rumah. Beberapa menit motor kami mulai berjala normal, saya menengok ke belakang dan jembatan itu sudah jauh dari pandangan di situlah saya mengucap syukur," katanya.

Hingga kini, ia tak lagi berani melewati jembatan tersebut saat sore dan malam hari, apalagi seorang diri. Ia masih trauma setelah menerima gangguan pada waktu itu. Kendati kejadian tersebut telah lama berlalu. []

Berita terkait
Pernikahan di Tepi Sawah dengan Protokol New Normal
Dua mempelai itu menjalani prosesi pernikahan di tepi sawah di Sleman, Yogyakarta. Acara digelar dengan menerapkan protokol new normal.
Kesunyian Hutan Wisata Mangrove di Rembang
Dana sudah terlanjur habis untuk perbaikan jeti, pandemi covid mendera. Nasib kesunyian harus dilakoni hutan wisata mangrove di Rembang.
Wisata Bukit Klangon, Kemah dan Menatap Merapi dari Dekat
Wisata Bukit Klangon, spot terbaik untuk melihat Merapi, cocok untuk tracking hill karena jarak ke puncak Merapi hanya empat sampai lima kilometer.
0
Libur dan Cuti Bersama, Tempat Wisata Dibatasi 50 Persen
Pemerintah mengeluarkan aturan yang membatasi kunjungan ke tempat wisata sampai dengan 50 persen.