UNTUK INDONESIA
Perjuangan Rusli, Relawan Banjir Bandang di Makassar
Rusli, seorang mahasiswa relawan harus mengikuti yudisium di tengah perjalanan menuju lokasi banjir di Luwu Utara, Sulawesi Selatan.
Rusli bersama relawan Human Iniitiative saat sebelum berangkat menuju lokasi bencana Masamba, Selasa, 14 Juli 2020. Foto: Tagar/Dok Pribadi

Makassar - Bencana banjir bandang di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, pada Senin, 13 Juli 2020 menyisakan kisah unik dan lucu bagi Rusli, 25 tahun. Sehari setelah banjir bandang, Rusli yang merupakan mahasiswa tingkat akhir Universitas Muhammadiyah Makassar berangkat menuju lokasi bersama rombongan Human Initiative Sulawesi Selatan, tempat dia menjadi relawan kemanusiaan.

Rusli bersama relawan lainnya tiba di Kota Palopo pada Rabu, 15 Juli 2020. Setelah beristirahat sebentar, rombongannya melanjutkan perjalanan menuju Radda, salah satu daerah terparah yang terkena banjir bandang di Masamba.

Di tengah perjalanan menuju Radda, sekitar pukul 18.00 Wita ponsel Rusli berdering, ada pesan yang masuk di salah satu WhatsApp grup miliknya. Pesan itu memberitahukan bahwa ada jadwal yudisium melalui aplikasi Zoom pada Kamis, 18 Juli 2020.

Peserta yudisium diminta mengenakan jas dan celana panjang hitam. "Jangan celana pendek stand by ki 30 menit sebelum dimulai saya kabari di grup".

Rusli mengaku syok mendapat pesan tersebut, sebab dia sama sekali tidak membawa persiapan yang disyaratkan sebagai peserta yudisium. Apalagi saat itu dalam perjalanan menuju lokasi banjir bandang.

Awal jadi relawan saya takut melakukan evakuasi mayat karena belum tahu bagaimana standar operasional menangani, tapi saat ini sudah bisa, jadi saat ada bencana sudah bisa berdamai dengan diri sendiri.

Rusli pun membalas pesan tersebut, dan menulis bahwa dirinya sedang berada di lokasi banjir bandang dan tidak membawa jas serta celana panjang berwarna hitam.

"Saya kaget dan bingung membaca pesan itu, saya juga sedikit marah dalam hati karena jadwal yudisium yang tiba-tiba sementara saya lagi berada di lokasi bencana. Saya tidak tahu bagaimana bisa memenuhi persyaratan dari kampus untuk tetap bisa ikut yudisium," ujar Rusli, Minggu, 19 Juli 2020.

Terlebih untuk mengikuti yudisium tersebut, Rusli harus menunggu selama sekitar sebulan setelah ujian akhir. "Saya ujian tutup pada tanggal 25 bulan Juni, dan setelah ujian tutup itu saya belum tahu kapan ada kepastian yudisium karena adanya efek pandemi covid-19," ujar Rusli.

Pria bertubuh kekar ini mengatakan dirinya sudah sejak dua tahun lalu melakukan penelitian tentang kontribusi pajak dan retribusi daerah. Proses penyelesaian studinya sempat terbengkelai karena terkendala administrasi dan beberapa mata kuliah yang belum rampung sehingga mengharuskan dirinya melakukan program ulang mata kuliah.

"Sebagai syarat untuk selesai saya harus menyelesaikan mata kuliah yang belum tuntas, sehingga membuat saya lebih lama," ujarnya. Hingga akhir masa kuliahnya indeks prestasi (IPK) Rusli berada di angka tiga lebih.

Didera Dilema Sepanjang Perjalanan

Cerita Relawan Yudisium Masamba 1Rusli mengikuti yudisium saat berada di dalam mobil menuju lokasi bencana Masamba, Kamis, 18 Juli 2020. (Foto: Tagar/Dok Pribadi)

Mahasiswa angkatan 2013 itu mengaku awalnya dirinya tidak ingin mengikuti prosesi yudisium dengan pakaian yang tidak resmi, namun dia juga tidak ingin melewatkan momen bahagia yang mungkin hanya terjadi sekali dalam hidupnya.

"Saya akhirnya memberanikan diri untuk ikut yudisium meski hanya memakai pakaian seadanya yakni pakaian relawan yang selama ini saya gunakan beserta helm lengkap dengan rompinya," kata Rusli.

Keesokan harinya, pada Kamis, 18 Juli 2020 tibalah Rusli mengikuti kegiatan yudisium secara virtual menggunakan aplikasi zoom. Saat itu Rusli sedang berada di dalam mobil yang membawanya ke lokasi bencana di Masamba.

"Proses yudisiumnya juga berada di dalam mobil rescue HI yang sementara jalan mencari rumah untuk dijadikan titik posko, dan kebetulan proses yudisiumnya juga disaksikan oleh relawan lainnya," ujarnya.

Pemuda kelahiran Mamuju, Sulawesi Barat, itu memantapkan dirinya untuk mengikuti proses yudisium yang dimulai pukul 10.00 Wita dengan pakaian seadanya. Saat dirinya join atau bergabung dalam yudisium, sejumlah mahasiswa lain kaget, sebab hanya Rusli yang mengenakan pakaian tidak sesuai dengan yang telah ditentukan.

"Mahasiswa lain banyak yang kaget karena hanya saya sendiri yang tidak pakai pakaian formal saat mengikuti kegiatan yudisium," kenangnya.

Bahkan, bukan hanya mahasiswa saja yang mengaku kaget, tetapi dosen yang melangsungkan yudisium pun ikut kaget dan mempertanyakan pakaian yang dikenakannya. "Ada proyek apa ini, kenapa pakai helm?" kata Rusli mengulangi pertanyaan dari dosennya.

Akhirnya Rusli menjelaskan kondisinya yang sedang berada dalam perjalanan untuk membawa bantuan bagi masyarakat terdampak banjir bandang di Masamba. "Alhamdulillah baik teman dan dosen akhirnya bisa memahami apa yang saya lakukan karena memang kondisinya saya sedang bertugas di lapangan.".

Yudisium Terkendala Jaringan Internet

Cerita Yudisium Relawan Masamba 2Rusli mengacungkan jempol usai mengikuti yudisium dari lokasi bencana banjir di LUwu Utara, Sulawesi Selatan, Kamis, 18 Juli 2020. (Foto: Tagar/Dok Pribadi)

Meski akhirnya seluruh peserta yudisium dan dosen memaklumi keadaannya, cobaan yang dialami Rusli tidak berhenti sampai di situ. Rusli tidak bisa lancar mengikuti yudisium, sebab sinyal internet di lokasi yang didatanginya sempat timbul tenggelam.

Terlebih saat banjir bandang di Masamba sinyal telepon seluler sempat hilang."Saat prosesi yudisium, jaringan sempat hilang, karena memang posisinya saat itu saya berada di daerah Masamba. Bersyukurnya saat nama saya disebut saat jaringannya sempat membaik setelah itu kembali bermasalah lagi."

Setelah proses yudisium selesai, barulah Rusli bisa fokus dengan kegiatannya sebagai relawan Human Initiative PKPU.

Rusli terjun menjadi relawan Human Initiative PKPU pada tahun 2017. Ia mengaku terjun untuk menjadi relawan karena merupakan panggilan hati, selain itu menjadi relawan bagi Rusli bisa melatih dirinya untuk bisa peka terhadap lingkungan sosial terutama dalam kebencanaan.

"Pada saat kita bisa menolong langsung, di situ titik kebahagiaan. Ketika kita bisa membantu meskipun bukan dalam bentuk materi," katanya menceritakan alasan menjadi relawan.

Saat menjadi relawan pada 2017, dirinya berada di tim pertama yang diberangkatkan oleh tim Human Initiative PKPU ke Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) saat bencana tsunami. "Saya berangkat ke Palu saat itu pukul 22.00 Wita malam beberapa jam setelah tsunami terjadi. Dan itu merupakan pengalaman saya yang paling berarti," ujarnya.

Selama menjadi relawan, pengalaman yang tak bisa dilupakan ketika berada di Palu melakukan evakuasi mayat dan menyalurkan bantuan di pelosok karena masyarakat yang ada di sana tidak bisa diajak berkompromi. Sehingga menjadikan perjalanan saat itu menjadi yang tak terlupakan olehnya.

"Awal jadi relawan saya takut melakukan evakuasi mayat karena belum tahu bagaimana standar operasional menangani, tapi saat ini sudah bisa, jadi saat ada bencana sudah bisa berdamai dengan diri sendiri," cerita Rusli.

Kepala Cabang Human Initiative Sulsel Indra Budi Legowo melihat sosok Rusli sebagai pemuda yang humble. "Meski memiliki badan yang kekar namun di balik semua itu, hatinya lembut. Bahkan kata Indra jarang melihat Rusli marah. "Saya lihat emosinya stabil," kata Indra.

Ia menambahkan, di Human Initiative, Rusli memiliki keahlian utama menjadi seorang driver namun, sering terlibat evakuasi saat respons awal bencana. Indra masih ingat, respons besar yang pernah diikuti Rusli selama menjadi relawan adalah pada tahun 2018 saat merespons kapal tenggelam di Selayar, respons awal saat gempa di Palu, dan saat ini respons awal di Masamba.

Cerita Yudisium Relawan Masamba 3Rusli tetap mengenakan standar protokol kesehatan covid saat mengikuti yudisium, Kamis, 16 Juli 2020. (Foto: Tagar/Dok Pribadi)

Selain aktif menjadi relawan kemanusiaan, Rusli selama mengikuti proses perkuliahan juga merupakan mahasiswa yang aktif berorganisasi baik dalam maupun luar kampus. Terdapat delapan organisasi yang pernah diikuti oleh RUsli diantaranya Social Service Center Makassar, Human Initiative Volunteer Energy ( HIVE ), UKM Bahasa Unismuh, SSC Sulbar, FLP ranting unismuh, Ayo bantu Indonesia, Sedekah Klik, Relawan Qurban HI. []

Baca juga cerita lain:

Berita terkait
Wisata Bukit Klangon, Kemah dan Menatap Merapi dari Dekat
Wisata Bukit Klangon, spot terbaik untuk melihat Merapi, cocok untuk tracking hill karena jarak ke puncak Merapi hanya empat sampai lima kilometer.
Ruby Alamsyah, Analis Digital Forensik yang Hobi Baca Novel Detektif
Ruby Alamsyah, pembuka tabir kasus pembunuhan artis Alda Risma, Munir, video Ariel-Luna, Antasari Azhar. Siapa dia, bagaimana perjalanan hidupnya.
Konsumen dan Pedagang Kompak Tak Setuju GoFood Haram
GoFood tidak haram karena uang lebih adalah ongkos kirim. Itu untuk penghasilan pengemudi karena mereka gajinya dari situ. Itu bukan riba.
0
PLN Gandeng KPK Amankan Aset Negara di Bali
Berkat sinergi antara PT PLN (Persero), KPK, dan ATR/BPN disebutkan nilai aset tanah yang diselamatkan lebih dari Rp 1 Triliun.