UNTUK INDONESIA
Sibowo, Aplikasi Belajar Bahasa Jawa untuk Milenial
Sibowo, aplikasi belajar Bahasa Jawa untuk anak milenial yang jarang menggunakan Bahasa Jawa padahal tinggal di Jawa. Ini sejarah kelahiran Sibowo.
Hafiz Naufal Rahman menunjukkan Sibowo, aplikasi belajar Bahasa Jawa. (Foto: Tagar/Agus Joko Mulyono)

Semarang - Anda tidak bisa Bahasa Jawa kromo inggil? Atau mengalami kesulitan saat belajar Bahasa Jawa meski hanya bahasa ngoko? Kromo inggil adalah Bahasa Jawa yang sangat halus, digunakan untuk berbicara kepada yang lebih tua, yang dihormati. Sedangkan ngoko adalah Bahasa Jawa yang kurang halus, biasanya digunakan untuk berbicara dengan teman sebaya.

Kini Anda tak perlu lagi bingung atau malah putus asa belajar Bahasa Jawa, karena tiga pelajar asal Malang, Jawa Timur, menciptakan aplikasi bernama Sibowo, cara mudah belajar Bahasa Jawa.

Sibowo kepanjangan dari Sinau Boso Jowo. Dalam Bahasa Indonesia artinya Belajar Bahasa Jawa. Sibowo merupakan metode pembelajaran berbasis teknologi informasi terkini berbentuk aplikasi.

Penciptanya adalah tiga siswa SMK Telkom, Malang. Yakni Hafiz Naufal Rahman, Yusuf Wibisono, dan Muhamad Andika. Mereka siswa jurusan Rekayasa Perangkat Lunak kelas XII.

“Kami punya peran masing-masing yang saling mengisi. Saya yang bikin program, Yusuf mengisi konten, dan Andika membuat tata desain,” tutur Hafiz kepada Tagar di Semarang, Jawa Tengah, Kamis, 19 September 2019.

Anak muda sekarang lebih suka pakai bahasa gaul, melupakan bahasa daerahnya.

Hafiz Naufal Rahman sekaligus juga ketua tim pembuat Sibowo.

Kreativitas mereka memukau juri Lomba Aplikasi Mobile Ki Hajar 2019 dari Balai Pengembangan Multimedia Pendidikan dan Kebudayaan (BPMKP) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Sibowo akhirnya ditasbihkan sebagai juara pertama dalam perlombaan tersebut untuk kategori pelajar.

“Alhamdulillah juara pertama, menyisihkan 10 juara lain di grand final,” kata Hafiz usai menerima penghargaan.

Aplikasi Sibowo

Aplikasi Sinau Boso Jowo, didesain unik dan menarik menyesuaikan perkembangan milenial saat ini. Tampilannya kekinian, dengan dominasi warna biru dan putih kombinasi kuning dan oranye di perwajahan halaman pembuka. Lengkap dengan gambar kartun bocah mengenakan blangkon, penutup kepala khas Jawa.

Ada dua menu utama yang tersaji di aplikasi Sibowo. Adalah konten berisi Belajar dan Kuis.

Pada menu Belajar, setelah diklik, Anda akan disambut kalimat khas Jawa Timur 'He Rek Ayo Kene Sinau Bareng!’ artinya ayo kawan ayo belajar bersama.

Belajar berisi empat konten yang memudahkan pngguna lebih mengenal Bahasa Jawa. Rincinya, Penggunaan Bahasa Jawa, Kosakata Bahasa Jawa, Penerjemah, dan Peribahasa.

Ada menu Peribahasa, di situ banyak hal yang menarik dan istilah yang unik dalam peribahasa Jawa.

Dari empat menu itu beberapa hal tentang Bahasa Jawa bisa dipelajari. Meski baru tahap permulaan, tapi menu-menu yang tersaji akan cukup membantu pengguna yang ingin lebih tahu seputar kejawaan.

Seperti ketika ingin tahu bahasa ngoko dan kromo inggil dari kata makan. Maka setelah mengeklik menu Kosakata Bahasa Jawa, ketik makan, otomatis muncul padanannya, madang untuk ngoko dan sabar di versi kromo inggilnya.

“Jadi kumpulan Kosakata itu jika ditekan akan muncul terjemahan ngoko maupun kromo dari kata yang diinginkan. Ada sekitar 700 kosakata dalam bahasa Jawa,” terang pelajar bertubuh subur ini.

Sementara untuk pengguna yang ingin lebih tahu Jawa menyangkut masalah budaya bisa klik menu Peribahasa. Di menu ini setiap peribahasa Jawa disertai makna dalam versi Bahasa Indonesia. Sehingga memudahkan pengguna memahami dan menyerap filosofi budaya yang terkandung dalam peribahasa Jawa yang ditampilkan.

“Ada menu Peribahasa, di situ banyak hal yang menarik dan istilah yang unik dalam peribahasa Jawa. Semua peribahasa Jawa itu mencerminkan bagaimana kehidupan dan budaya orang Jawa,” kata Hafiz.

Hanya Satu Bulan

Membuat Sibowo, bagi Hafiz dan kawan-kawan, adalah gampang-gampang susah. Dibilang gampang karena menyangkut aktivitas keseharian, yakni bahasa ngoko sebagai pengantar komunikasi harian. Dan bahasa pemrograman yang saban hari jadi santapan utama anak-anak Rekayasa Perangkat Lunak.

“Terkait aplikasi ini mulai dari desain, program maupun konten, semua memang kami kerjakan sendiri. Tapi kami dibimbing guru kami, Pak Muhammad Arifin,” ujar dia.

Dalam menu Peribahasa, Hafiz bersama dua rekan menyajikan ragam peribahasa yang lazim ada di masyarakat Jawa. 

“Ada sekitar 200 peribahasa yang kami tampilkan. Dari internet dan sudah divalidasi ke guru Bahasa Jawa,” ujarnya.

Hafiz mengatakan saat pembuatan aplikasi, tantangannya ada pada konten. Konten apa saja yang akan disuguhkan dibahas dalam diskusi bersama hingga larut malam.

“Kesulitannya mungkin saat mengisi konten, data-datanya, itu lumayan sulit,” katanya.

Sebagai warga negara Indonesia utamakan Bahasa Indonesia, kuasai bahasa asing, dan lestarikan bahasa daerah.

Hafiz mengaku meski lahir dan besar di Malang, Jawa Timur, ia merasa kejawaannya masih kurang dalam kehidupan sehari-hari.

“Terutama untuk bahasa kromo Inggil, saya belum terlalu paham meski beberapa penggal kalimat saya tahu maksudnya. Ya karena selama ini di keluarga memang lebih sering menggunakan Bahasa Indonesia,” kata Hafiz.

Ia mengatakan terciptanya Sibowo berangkat dari kekurangan diri itu sekaligus prihatin anak-anak milenial makin jauh dari Bahasa Jawa.

“Anak muda sekarang lebih suka pakai bahasa gaul, melupakan bahasa daerahnya,” kata Hafiz.

Hafiz mengatakan di daerahnya makin jarang yang menggunakan Bahasa Jawa.

"Niat saya agar mereka bangga menggunakan bahasa sendiri. Karena sebagai warga negara Indonesia utamakan bahasa Indonesia, kuasai bahasa asing, dan lestarikan bahasa daerah,” ujarnya.

Ia dan kawan-kawan tidak butuh waktu lama menyelesaikan aplikasi Sibowo. Sejak pertama mendengar ada lomba aplikasi BPMKP Kemendikbud, Hafiz, Yusuf dan Andika langsung semangat 45 menggarap tantangan yang diberikan sekolahnya.

Awal Juli 2019 mulai menyusun konsep hingga akhir bulan rampungkan Sibowo. “Kami kerjakan hanya sekitar satu bulan,” katanya menyunggingkan senyum.

Pada akhir perbincangan dengan Tagar, Hafiz dan kawan-kawan berharap karya mereka bisa membantu khalayak umum, bahkan warga asing, lebih mengenal Jawa, baik bahasa maupun budayanya.

“Saat ini memang baru untuk kepentingan lomba. Tapi nanti akan ditampilkan di website Kemendikbud dan masyakarat bisa unduh,” ujarnya. []

Berita terkait
100 Kalimat Padanan Bahasa Indonesia-Jawa
Anda yang bukan orang Jawa, punya sahabat orang Jawa, ini 100 kalimat padanan Bahasa Indonesia-Jawa untuk pergaulan sehari-hari.
100 Kalimat Padanan Bahasa Indonesia-Aceh
Buat komunikasi lebih menyenangkan dengan sahabat dari Kota Serambi Mekkah, berikut ini 100 kalimat padanan Bahasa Indonesia-Aceh.
100 Kalimat Padanan Bahasa Indonesia-Sunda
Rayakan pertemuan bersama kawan dari Sunda dengan menggunakan bahasa ibu mereka. Berikut ini 100 kalimat padanan Bahasa Indonesia-Sunda.
0
5 Festival Paling Unik di Dunia, Satu dari Indonesia
Beberapa festival di dunia ini dikenal unik dan belum tentu ada di tempat lain. Salah satunya terdapat di Indonesia.