UNTUK INDONESIA
Setya Novanto Dua Kali Kepergok Keluar Penjara
Setya Novanto pernah tertangkap keluar Lapas. Kini terlihat berkeliaran di Pangandaran, Jawa Barat.
Mantan Ketua DPR Setya Novanto berjalan keluar usai mengikuti sidang di gedung Pengadilan Tipikor, Jakarta, Selasa (18/9/2018). Setya Novanto menjadi saksi dari Jaksa Penuntut Umum dengan terdakwa kasus korupsi KTP Elektronik Irvanto Hendra Pambudi dan Made Oka Masagung. (Foto: Antara/Muhammad Adimaja)

Jakarta  - Mantan Ketua DPR Setya Novanto kembali diperbincangkan. Terpidana kasus korupsi e-KTP itu lagi-lagi kepergok berada di luar kamar tahanan. Dia tertangkap kamera berkeliaran di sebuah toko bangunan, di kawasan Padalarang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Padahal, Novanto sedang menjalani hukuman tahanan selama 15 tahun di balik jeruji penjara Lapas Sukamiskin, Kota Bandung. Kakanwil Kementerian Hukum dan HAM Jabar Liberti Sitinjak yang mendapat laporan, langsung memindahkan koruptor kelas kakap itu ke Lapas Gunung Sindur.

Dalam penjelasannya, Liberti mengatakan Novanto sebelumnya berada di Rumah Sakit Santosa sejak tanggal 12 Juni, untuk mendapatkan perawatan medis lantaran mengeluhkan sakit jantung dan bahu sebelah kiri.

Liberti mengaku sempat mengecek langsung keberadaan mantan Ketua Umum Partai Golkar itu. Saat dikunjungi, Novanto dikatakannya benar dirawat di rumah sakit tersebut.

"Berawal tanggal 12 (Juni 2019), yang bersangkutan ini dirawat di rumah sakit, hari ini itu harusnya dia pulang. Saya selaku Kakanwil sudah saya kunjungi ke rumah sakit saat itu, dan benar di sana dia sedang dilakukan infus," kata Liberti di Lapas Sukamiskin, Jumat 14 Juni 2019.

Namun, lanjut Liberti, pada hari Jumat 14 Juni, saat Novanto dijadwalkan untuk kembali ke selnya, dia justru mendapat laporan dari Kalapas bahwa telah beredar foto-foto keberadaan terpidana kasus korupsi itu di sebuah toko bangunan di Padalarang.

"Tadi saya mendapat laporan dari Kalapas (perihal foto-foto Novanto) sudah beredar di media sosial. Maka yang kita lakukan, pengawalnya kita lakukan pemeriksaan dan sebagai Kakanwil, malam ini Setya Novanto saya pindah ke (Lapas) Gunung Sindur," ucap Liberti.

Dalam catatan Tagar, kejadian tersebut merupakan kali kedua Novanto ketahuan melakukan aktifitas di luar selnya. Pada April 2019 lalu, dia juga pernah kepergok makan di sebuah restoran Padang, di Jakarta.

Saat itu, aktivitas Novanto dengan status tahanan di ruang publik, membuat geram banyak pihak, termasuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Tolong coba tanyakan ke Pak Kalapas (Sukamiskin) dan Ibu Dirjen PAS. Kami berharap yang bersangkutan ada di lapas, jalani hukuman dengan tertib. Kedua, tata kelola lapas baik lagi," ujar Wakil Ketua KPK Laode M Syarif, di gedung KPK Jakarta, Senin 29 April 2019, mengutip Antara.

Sementara itu, Kepala Humas Ditjen Pemasyarakatan Adek Kusmanto mengatakan keberadaan Novanto di Jakarta adalah untuk berobat. Aktivitas  terkait hal itu juga disebutnya telah sesuai prosedur dan didampingi petugas pengawalan.

"Betul bahwa narapidana atas nama Setya Novanto sedang berada di luar Lapas Sukamiskin untuk mendapatkan tindak lanjut perawatan kesehatan di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta dengan diagnosa Arimia, CAD, Vertigo, Perifier, LBP, DMT2, dan CKD atas rekomendasi dokter lapas Susi Indrawati dan dokter luar lapas Ridwan Siswanto," kata Adek menjelaskan.

"Pengeluaran dan pengawalan sesuai prosedur dilaksanakan 24 April 2019, berdasarkan pasal 17 ayat 1 dan 2 PP Nomor 32 Tahun 1999 tentang syarat dan tata cara pelaksanaan hak warga binaan pemasyarakatan," kata Adek, waktu itu.

Seperti diketahui, Setya Novanto divonis bersalah oleh Hakim Pengadilan Tipikor atas perkara korupsi e-KTP tahun anggaran 2011-2013. Dia dijatuhi hukuman penjara selama 15 tahun lantaran diduga merugikan negara hingga Rp 2,3 triliun.

Vonis lebih rendah dari tuntutan Jaksa KPK selama 16 tahun. Namun, baik dari pihak Setya Novanto maupun pihak KPK, sama-sama menerima putusan tersebut dan memutuskan untuk tidak mengajukan banding.

Baca juga:

Berita terkait
0
KontraS Tanggapi Jokowi Soal Hukuman Mati Koruptor
KontraS tidak setuju dengan pernyataan Jokowi yang sebut kemungkinan hukuman mati buat para koruptor.