Indonesia
Selamat Tinggal Temaram Lampu Kaleng
Irham Haris sekeluarga selama ini seakan berteman sejati dengan kegelapan saat malam tiba.
Ilustrasi. (Foto: Pixabay)

Bengkulu, (Tagar 8/1/2019) - Irham Haris sekeluarga selama ini seakan berteman sejati dengan kegelapan saat malam tiba. 

Selama 10 tahun tinggal di Dusun V, Desa Embong Ijuk, Bengkulu, Irham, istri dan keempat anaknya hanya mengandalkan kaleng bekas yang diisi minyak tanah dan diberi sumbu sebagai sumber cahaya.

Petani kopi dan lada ini harus merogoh Rp 72.000 per bulan untuk membeli enam liter minyak tanah yang digunakan sebagai bahan penerangan lampu kaleng setiap bulannya.

Asap hitam yang keluar dari cahaya lampu kaleng seringkali mengotori wajah anak-anak Irham, hingga suatu hari anak bungsunya menganggap warna hitam di hidungnya adalah kotoran tikus.

Sejak saat itu, Ayah berusia 48 tahun ini memimpikan adanya penerangan memadai di wilayah tempatnya tinggal. 

Pria berkulit sawo matang yang juga kepala lingkungan Dusun V, Embong Ijuk, ini terus memutar otak agar malam di daerahnya tak lagi gulita karena belum tersambungnya aliran listrik.

Dusun V, Embong Ijuk, terletak di atas bukit Kabupaten Kepahiang, Bengkulu. Butuh waktu sekitar empat jam dari kota untuk menuju ke sana dengan medan menanjak, berbatu, curam, dan berliku.

Embong Ijuk sebenarnya terdiri dari lima dusun, namun hanya Dusun V yang belum dialiri listrik.

Irham kemudian mengetahui adanya program bantuan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) yang digagas Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Kemudian, sebagai kepala lingkungan, ia bersama kepala desa mengajukan permintaan bantuan pemasangan LTSHE untuk 40 warganya ke Kementerian ESDM pada 2016.

Selama penantian, Irham menyaksikan anak-anaknya belajar setiap malam di bawah temaram lampu kaleng. Jika ia lupa mengisi minyak, maka anak-anak tak bisa belajar.

Hingga pada sekitar Agustus 2018, mimpi Irham dan warga setempat diwujudkan oleh Kementerian ESDM. Tak hanya di dusun tempat Irham tinggal, lampu bertenaga surya tersebut mulai menerangi delapan desa di Kabupaten Kepahiang serta delapan desa lainnya.

Terangi Rumah

Dalam satu paket LTSHE yang diberikan Kementerian ESDM, warga mendapatkan empat bohlam lampu, satu panel surya, kabel dan enam colokan, di mana empat colokan untuk lampu, satu untuk panel surya dan satu lainnya bisa digunakan untuk mengisi baterai ponsel.

Tingkat terangnya lampu juga dapat diatur hingga tiga pilihan, yakni terang, sedang dan redup. Irham sendiri berupaya mengatur nyalanya lampu agar dapat digunakan secara maksimal.

Selain mudah digunakan, perangkat LTSHE yang mengandalkan tenaga surya juga membuat Irham tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membeli minyak tanah.

Hal lain yang membuatnya semakin senang adalah karena ia dapat menyaksikan anak-anaknya semakin giat belajar pada malam hari. 

"Untuk itu saya berterima kasih kepada pemerintah pusat hingga pemerintah desa yang memberikan bantuan ini," ungkap Irham.

Cita-cita Dhea

Dhea Artamevia salah seorang anak Irham, mengaku sangat senang rumahnya kini diterangi lampu bertenaga surya. Dhea mengatakan ia lebih semangat belajar saat malam.

Menurut Dhea, belajar menggunakan lampu kaleng membuat huruf-huruf menjadi kabur saat dibaca, karena cahayanya terlalu redup.

Siswa SMA 5 Kepahiang ini ingin bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, sehingga cita-citanya menjadi seorang guru dapat terwujud. Menurutnya, guru adalah profesi mulia.

"Saya ingin membahagiakan ayah dan ibu," ujar Dhea ketika ditemui di kediamannya.

Terangi 16 Desa

Dilansir kantor berita Antara Inspektur Jenderal ESDM Akhmad Syakhroza datang ke Kabupaten Kepahiang untuk menyerahkan secara simbolis 2.111 unit LTSHE kepada masyarakat di 16 desa di Bengkulu.   

Dalam sambutannya, Akhmad menyampaikan, LTSHE merupakan program terobosan untuk menerangi masyarakat yang belum mendapatkan akses listrik khususnya pada desa-desa yang masih gelap gulita, terisolir yang sulit dijangkau listrik PLN.

Pemasangan LTSHE di Bengkulu dilakukan di lima kabupaten, yang pertama yakni Kabupaten Kepahiang sebanyak 1.238 unit yang tersebar di delapan desa di dua kecamatan, yaitu Desa Kota Agung, Embong Jiuk, Embong Sido, Talang Sawah dan Sosokan Cinta Mandi yang berada di Kecamatan Ilir.

Kemudian di Desa Sosokan Taba, Talang Tige, dan Sosokan Baru, yang berada di Kecamatan Muara Kemumu.

Kedua yakni di Kabupaten Bengkulu Utara sebanyak 403 unit yang tersebar di tiga desa di dua kecamatan, yakni Desa Suka Maju dan Suka Baru di yaitu Kecamatan Marga Sakti Seblat, serta Desa Lebong Tandai di Kecamatan Napal Putih.

Pemasangan LTSHE selanjutnya dilakukan di Kabupaten Seluma sebanyak 249 unit yang tersebar di tiga desa di dua kecamatan, yaitu di Desa Suban dan Maras Jauh, Kecamatan Semidana, serta Desa Sinar Pagi di Kecamatan Seluma Utara.

Kemudian di Kabupaten Kaur sebanyak 120 unit yang tersebar di Desa Suka Jaya, Kecamatan Nasal.

Terakhir yakni Kabupaten Lebong sebanyak 101 unit yang tersebar di Desa Sungai Lisai, Kecamatan Pinang Belapis.

Akhmad mengungkapkan, program pemasangan LTSHE merupakan program dari Pemerintah Pusat untuk memberikan akses penerangan kepada masyarakat yang berada di wilayah 3T (Terpencil, Tertinggal dan Terluar) yang sampai dengan 73 tahun kemerdekaan Indonesia belum pernah merasakan akses energi listrik. []

Berita terkait
0
Menelisik Biaya Hidup di Kalimantan Timur
Menelisik biaya hidup Kalimantan Timur yang digadang-gadang menjadi ibu kota baru pengganti Jakarta.