Sekolah Harus Diberikan Otonomi dalam Pembelajaran Daring

Guru mengusulkan kepada pemerintah agar sekolah diberikan ruang secara otonom untuk menentukan cara pembelajaran daring yang lebih efektif.
Ilustrasi Belajar Online. (Foto: Tagar/Pixabay)

Jakarta - Guru Sekolah Dasar (SD) Kembang, Kemang, Jakarta Selatan, Sekar Ayu Adhaningrum, mengatakan para siswa di sekolahnya tidak ada kewajiban membaca buku setiap hari di rumah selama pandemi Covid-19. Hal itu bahkan sudah dilakukan sejak tahun 2011, jauh sebelum pandemi mewabah.

"Tidak ada mewajibkan karena itu sudah ada memakai yang saya jelaskan tadi terait kuartal yang 1 kali 3 bulan sama dengan 1 buku. Karena tidak usah diingatkan juga, mereka sudah pasti membaca, karena ini sudah berjalan sejak 2011 lalu. pendekatannya sama seperti yang di perpus, pakai artikel, literatur, majalah, koran," kata Sekar Ayu kepada Tagar, Sabtu 31 Juli 2021.

Dia menjelaskan, selama ini para siswanya tidak mengalami kendala dalam mengakses buku-buku bacaaan karena pihak sekolah memberikan panduan juga referensi buku yang harus dibeli atau dipersiapkan oleh orang tua di rumah.

"Sejauh ini tidak ada keterbatasan buku bacaan. Di rumahnya selalu tersedia dengan tingkat keragaman berbeda-beda. Untuk buku pembelajaran pihak sekolah memberikan referensi atau contoh gambar buku yang harus dibeli orang tua murid untuk menunjang proses pembelajaran," ujarnya.


Mereka belajar yaitu lebih banyak mendengar muridnya agar mereka juga nyaman dan sesuai dengan minatnya, karena selama ini, murid belajar banyak hal, tapi satupun tidak ada yang mereka kuasai karena faktor dia tidak suka.


Arum menegaskan, para guru dituntut melakukan inovasi-inovasi dalam mengajar agar para siswa tetap nyaman dalam menerima pembelajaran. Baik membuat projek bersama yang berhubungan langsung dengan keseharian para siswa.

"Inovasi lainnya mungkin terkait kegiatan baca buku, novel atau puisi tiap kuartal pasti itu dikembangkan kegiatannya. Walaupun memakai buku yang sama dengan tahun lalu, tapi kegiatannya dibedakan," katanya.

"Tiap kuartal itu satu kelas. Kelas 3, 4, 5, 6 dan SMP. 1 kuartal 1 buku dalam Satu kali tiga bulan. Kayak tahun lalu kuartal 4 itu kelas 4 baca buku puisi, jadi berpuisi itu dijadikan kegiatan rutin di bhs indonesia, jadi proyeknya adalah tiap anak memilih 1 dari puisi itu," katanya.

Menurut Arum, saat ini materi belajar dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) sudah banyak tersedia dan mudah diakses oleh siswa atau guru. Pihaknya pun mengusulkan kepada pemerintah agar sekolah diberikan ruang secara otonom untuk menentukan cara pembelajaran daring yang lebih efektif.

"Nah, untuk sekarang mungkin fokusnya kita ke murid. Mereka belajar yaitu lebih banyak mendengar muridnya agar mereka juga nyaman dan sesuai dengan minatnya, karena selama ini, murid belajar banyak hal, tapi satupun tidak ada yang mereka kuasai karena faktor dia tidak suka," katanya.

"Terus lebih banyak diperintah dengan muatan banyak soal dan pertanyaan yang harus dijawab dengan sistem hafalan, kan itu terlalu berat. Mau tidak mau harus disesuaikan dengan anaknya," katanya. []


Baca Juga: Keluarga Berperan Besar Dalam Tingkatkan Literasi Siswa


(Christina Butarbutar)

Berita terkait
Belajar Daring Belum Ideal Tingkatkan Kecakapan Literasi
Dengan sistem daring, para siswa wajib membutuhkan media pembelajaran seperti handphone, laptop, atau komputer.
RI Dorong Kecakapan Literasi Digital di Masa Pandemi
Kecakapan literasi digital menjadi perhatian serius pemerintah meningkatkan literasi di masa pandemi Covid-19.
Siswa Lebih Terampil Kuasai Teknologi, Literasi Meningkat
Hasil studi, di masa pandemi menunjukkan bahwa siswa menggunakan perangkat digital lebih banyak dibanding sebelumnya.
0
Sekolah Harus Diberikan Otonomi dalam Pembelajaran Daring
Guru mengusulkan kepada pemerintah agar sekolah diberikan ruang secara otonom untuk menentukan cara pembelajaran daring yang lebih efektif.