Sebut DKI Provinsi Terburuk Tangani Covid-19, Menkes Minta Maaf

Menkes mengatakan telah terjadi kesalahpahaman terhadap penilaian Pemprov DKI Jakarta sehingga dirinya menyampaikan permintaan maaf.
Menkes Budi Gunadi Sadikin memberikan keterangan pers usai Rapat Terbatas, 10 Mei 2021, di Jakarta (Foto: setkab.go.id - Humas Setkab/Rahmat)

Jakarta - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa telah terjadi kesalahpahaman terhadap penilaian sehingga Ia menyampaikan permintaan maaf lantaran menyebut DKI Jakarta sebagai provinsi terburuk dalam menangani pandemi Covid-19.

Saya menyampaikan permintaan maaf dari diri saya pribadi terhadap kesimpang siuran berita yang tidak seharusnya terjadi.

Budi menerangkan, kesalahpahaman bermula saat pemberian nilai E terhadap kualitas penanganan pandemi DKI Jakarta. Tetapi itu, sesungguhnya bukan penilaian yang diberikan pihaknya terhadap kinerja Pemprov tersebut.

Sesungguhnya menurut Budi, nilai itu adalah indikator risiko berdasarkan analisa internal Kemenkes yang digunakan untuk melihat laju penularan Covid-19 dan respons pemerintah provinsi.

"Saya menyampaikan permintaan maaf dari diri saya pribadi terhadap kesimpang siuran berita yang tidak seharusnya terjadi," tutur Menkes secara virtual, Jumat, 28 Mei 2021.

Menkes Budi menegaskan, dirinya secara pribadi telah melihat tabel penilaian kualitas penanganan pandemi itu kurang lebih sebulan lalu dan membahasnya bersama jajaran Kemenkes. Berdasarkan tabel itu, Kemenkes mempelajari penerapan kebijakan dan simulasi yang cocok untuk mengantisipasi lonjakan kasus di daerah, mulai dari level kabupaten, kota, hingga provinsi.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono sebelumnya menyampaikan tabel penilaian kualitas penanganan pandemi untuk 34 provinsi pada Rapat Kerja bersama Komisi IX di Komplek DPR/MPR, Jakarta, Kamis, 27 Mei 2021.

"Ada beberapa daerah yang masuk kategori D, dan ada yang E seperti Jakarta. Tapi ada juga yang masih di C," sebutnya.

Dante menerangkan, Jakarta mendapat nilai E dengan tolak ukur transmisi komunitas di level 4 dan respons yang masih terbatas. Transmisi komunitas di level 4 itu, artinya DKI melaporkan lebih dari 150 kasus per 100 ribu penduduk per minggu. Serta, merawat lebih dari 30 pasien per 100 ribu penduduk per minggu, dan melaporkan lebih dari 5 kasus meninggal per 100 ribu penduduk per minggu.

Menurut Dante, DKI Jakarta berada pada kondisi tidak terkendali terkait kapasitas keterisian tempat tidur. Selain itu, DKI Jakarta disebut tidak terlalu baik dalam melakukan tracing kasus.

"Begitu juga kualitas pelayanan, atas rekomendasi tersebut maka kami perlihatkan masih banyak yang dalam kondisi kendali kecuali di DKI Jakarta ini kapasitasnya E karena di Jakarta BOR sudah mulai meningkat dan juga kasus tracing-nya tidak terlalu baik," ucapnya. 

Mengomentari hal ini, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria menegaskan angka laju penularan Covid-19 maupun kapasitas keterisian rumah sakit atau bed occupancy rate (BOR) di DKI Jakarta mengalami kurva penurunan belakangan ini. Selain itu, Jakarta juga sangat serius dan bersungguh-sungguh dalam pengendalian Covid. 

"Alhamdulillah kita lihat bersama angkanya cukup landai tak ada peningkatan signifikan," tegas Riza di Balai Kota Jakarta, Jumat, 28 Mei 2021.[]

Berita terkait
Kemenkes Sebut Tempat Tidur RS Naik di Seluruh Indonesia
Kementerian Kesehatan mengatakan tingkat keterisian tempat tidur di seluruh rumah sakit Indonesia mengalami kenaikan beberapa hari terakhir.
Mantan Menkes Siti Fadilah Puji Sikap Terawan
Mantan Menkes era SBY Siti Fadilah Supari layangkan pujian terhadap sikap Terawan Agus Putranto yang memilih mundur jadi calon Dubes untuk Spanyol.
Kemenkes Minta Masyarakat Tak Ragu Gunakan Vaksin Covid-19
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan meminta masyarakat untuk tidak meragukan efektivitas vaksin Covid-19 AstraZeneca.
0
Jalan Tol Serpong-Cinere Bayar Rp 11.000 Mulai 2 Juni
Jalan Tol Serpong-Cinere, ruas Seksi I Serpong-Pamulang mulai dikenakan tarif sebesar Rp11.000 untuk golongan 1 mulai Rabu, 2 Juni 2021.