UNTUK INDONESIA
Saham OVO Dijual, Memengaruhi Reward Driver Grab?
Pendiri sekaligus pemilik Lippo Group Mochtar Riady menjual dua pertiga saham atau 30 persen saham OVO. Apakah menimbulkan efek bagi Grab?
Ojek online Grab. (Foto: Tagar/Nuranisa Hamdan)

Jakarta - Pendiri sekaligus pemilik Lippo Group Mochtar Riady menjual dua pertiga saham atau 30 persen saham OVO. Sebagai pemilik saham utama, ia beralasan sudah tidak kuat memasok dana atau bakar duit dengan berbagai promo uang elektronik (e-wallet) mulai dari layanan gratis, diskon, dan cash back.

Apakah penjualan saham OVO lantas memengaruhi atau menimbulkan efek bagi beberapa perusahaan gandengannya, salah satunya Grab? Sebab selama ini diketahui Grab melakukan sistem pembayaran dengan OVO melalui mitra Grab, yakni driver Grab.

Dede Sutisna, driver Grab sejak 2018 mengatakan tak tahu apapun soal saham OVO yang dijual oleh Mochtar Riady. Hanya saja, memang ada skema perubahan poin terjadi saat pelanggan akan melakukan isi ulang saldo OVO kepada driver Grab.

"Kalau saya ini sudah diubah. Saya sudah skema yang baru. Jadi, poinnya kalau misalnya Mbaknya misal isi Rp. 100.000 saya dapet 10 poin. Kalau Mbaknya isi Rp. 20.000 saya cuma dapat 3 poin," ucap Dede kepada Tagar di Jakarta, Minggu, 1 Desember 2019.

Meski ada perubahan poin ketika pelanggan mengisi saldo melalui OVO, ia mengatakan sistem pengumpulan poin itu tak mengubah skema mendapatkan reward yang diterapkan Grab sejak 2017. 

Driver Grab, kata dia tetap bisa mendapatkan reward harian atau per hari yakni minimal Rp. 10.000 saat berhasil mengumpulkan 80 poin dan maksimal Rp. 185.000 saat berhasil mengumpulkan 350 poin.

"Poin-poin itu kita dapat dari nganterin pelanggan, nganterin makanan GrabFood, atau nganterin barang pakai GrabExpress. Poinnya itu per nganterin dapat 8 di jam-jam biasa, kalau jam macet 9," tutur dia.

Sistem poin dan reward memang tak dipermasalahkan oleh driver Grab kata dia. Tapi, kalau boleh memilih ia ingin sistem Grab tersebut dapat berubah seperti awal Grab ada di Indonesia yakni menggunakan sistem argo.

"Malah enakan dulu sih sebenarnya jadi kita mau narik jauh juga tidak takut. Kalau sekarang jauh atau dekat sama aja poinnya, makanya banyak driver manja sekarang, enggak mau narik jauh," ujar Dede.

OVOAplikasi OVO. (Foto: Tagar/Nuranisa Hamdan)

OVO Dijual Bukan Dilepas

Direktur Lippo Group Adrian Suherman mengungkapkan kendati pemilih saham utama OVO menjual 30 persen sahamnya, pihaknya tetap berkomitmen mendukung pertumbuhan OVO sebagai perusahaan teknologi finansial e-money Indonesia.

Menjual saham, kata dia bukan berarti melepaskan perkembangan OVO sebagai salah satu aplikasi dompet digital Indonesia.

"Sejak awal kami percaya bahwa membesarkan OVO tentunya memerlukan mitra yang dapat melengkapi visi dan misi kami dalam perkembangan finansial technology (fintech) e-money," kata Adrian di Jakarta, Kamis, 28 November 2019 seperti dilansir dari Antara.

Dengan menjual saham OVO, Lippo pun membuka peluang bagi mitra lain untuk mendukung OVO untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Sebagai pendiri OVO, Lippo tentunya akan selalu aktif mendukung dan menjadi bagian dari perusahaan tersebut.

"Kami bangga dapat terus menjadi bagian dari sebuah usaha yang telah menjadi aspek penting dalam keseharian masyarakat Indonesia, dan akan terus mendukung program pemerintah, Bank Indonesia juga Otoritas Jasa Keuangan dalam meningkatkan inklusi keuangan negara," kata Adrian. []

Berita terkait
Lippo Tak Kuat Kucurkan Duit ke Ovo
Lippo Group mengaku tidak kuat memasok dana atau bakar uang kepada OVO, dan akan menjual dua pertiga kepemilikan saham.
Direksi OVO Sebut Tak Mungkin Pisah dengan Lippo
Direksi OVO membantah rumor soal perusahaan ingin pisah dengan Lippo Group sebagai pendiri OVO.
Pengguna OVO Tak Bisa Lagi Top Up di Alfamart
Isu berhentinya kerja sama antara aplikasi smart untuk transaksi finansial yaitu OVO dengan toko swalayan Alfamart bukan isapan jempol.
0
17 Foto China dan Dunia dalam Ancaman Bahaya Corona
China dan banyak negara di dunia berada dalam bayang-bayang ancaman bahaya virus corona. Lihat foto-fotonya.