Saham BUMI akan Naik Hanya Jika Digoreng

Harga saham BUMI atau PT Bumi Resources Tbk masih betah berada di level Rp 50 hingga Selasa 17 Maret 2020.
Gambar posisi penawaran saham BUMI 5 Maret 2020. (Foto: BUMI)

Harga saham BUMI atau PT Bumi Resources Tbk masih betah berada di level Rp 50 hingga Selasa 17 Maret 2020. Posisi ini sudah terjadi sejak 20 Februari 2020, artinya sudah masuk hari ke-25, hampir mencapai satu bulan.

Bumi ResourcesHarga saham BUMI atau PT Bumi Resources Tbk

Ruang lingkup usaha Bumi Resources saat ini meliputi eksplorasi dan eksploitasi kandungan batubara (termasuk pertambangan dan penjualan batubara) dan eksplorasi minyak. Saat ini, perseroan merupakan entitas induk dari anak perusahaan yang bergerak di bidang aktivitas pertambangan. Perusahaan tergabung dalam kelompok usaha Bakrie.

Jika kita flashback sedikit, saham BUMI terkenal sebagai saham sejuta umat dimana harga saham BUMI pernah melejit ke harga Rp 8.000 per lembar saham di bulan April tahun 2008. Sangat populer pada masa itu karena dianggap membuat kaya banyak investor ritel. 

Namun sayangnya di tahun yang sama yaitu Desember 2008, saham BUMI terjun bebas hingga 93% ke level harga Rp 510, dan membuat banyak ritel investor rugi besar. Harga saham Bumi Resources sempat naik ke level Rp 3.000-an di tahun 2009 dan 2011. Namun akhirnya kandas ke level gocap atau harga Rp 50 pada Juni 2015 hingga Mei 2016. Setelah sempat naik ke level harga Rp 505 pada Januari 2017, perlahan namun pasti, saham BUMI kembali mengulang sejarah di 2015, yaitu anjlok ke harga Rp 50 pada 20 Februari 2020.

Pemegang Saham BUMI 

Berdasarkan laporan kepemilikan saham BUMI yang dirilis di halaman Bursa Efek Indonesia (BEI), saat ini pemegang saham mayoritas adalah HSBC-Fund SVS A/C Chengdong Investment Corp-Self dengan jumlah saham sebanyak 14,85 miliar lembar atau 22,13% dari total saham BUMI.

Total jumlah Investor yang memegang saham BUMI adalah 47.812 Investor, dimana porsi investor lokal sebanyak 47.285 yang terdiri dari:

• 46.947 perorangan dengan jumlah saham 23,26 miliar lembar (34,67%)

• 291 Perseroan Terbatas dengan jumlah 10,65 miliar lembar (15,88%)

• 32 Dana Pensiun dengan jumlah saham 75,4 juta lembar (0,11%)

• 9 Yayasan dengan jumlah saham 3,39 juta lembar (0,005%)

• 6 Koperasi dengan jumlah saham 6,04 juta lembar (0,009%)

Investor Asing sebanyak 527 yang terdiri dari:

• 221 Perseroan Terbatas dengan jumlah saham 32,64 miliar lembar (48,93%)

• 306 perorangan dengan jumlah saham 450 juta lembar (0,67%)

Awal melonjaknya Utang BUMI 

Seperti pada tulisan sebelumnya, saat ini Bumi Resources masih fokus untuk menyelesaikan total pinjaman jangka panjang 1,43 miliar dolar AS atau Rp 20 triliun dengan kurs 14.000 rupiah/dolar AS. Dimana pinjaman BUMI mulai naik signifikan pada 2009 yaitu mencapai 2,3 miliar dolar AS, dan puncaknya di 2010 mencapai 3,41 miliar dolar AS. BUMI memiliki utang terbesar kepada Country Forest Limited yang merupakan anak usaha dari China Investment Corporation (CIC).

Baca juga: Saham BUMI Tiarap di Harga Rp 50, Utang Menumpuk

Arus Kas Operasi Bumi Resources (BUMI) dari 2010 hingga 2012 masih menunjukkan nilai yang positif dan meningkat dari 115 juta dolar AS menjadi 240 juta dolar AS. Namun, sejak 2013, arus kas BUMI anjlok ke 29 juta dolar AS dan seterusnya negatif mulai dari 2014 hingga di 2019. Pada 2014 arus kas operasi Bumi Resources -187 juta dolar AS dan di 2019 -53 juta dolar AS.

Bumi ResourcesGrafik Arus Kas Operasi Bumi Resources (BUMI)

Jika melihat posisi keuangan seperti ini di mana utang BUMI masih mencapai 1,43 miliar dolar AS dengan arus kas operasi masih minus -53 juta dolar AS, tentu kinerja seperti ini tergolong buruk dan mengecewakan investor, sehingga tidak mengherankan saham BUMI berada di level Rp 50.

Mungkinkah harga saham BUMI naik dari level terendah Rp 50? 

Menurut hemat kami, jika melihat kinerja Bumi Resources tentu akan sulit untuk mencari investor baru yang bersedia membeli di harga di atas Rp 50, sehingga kemungkinan besar yang mampu mengangkat saham Bumi jika ada pihak tertentu yang menggoreng saham BUMI, membawa harganya lebih tinggi, sambil menunggu investor ritel atau perorangan ikut terbawa arus dan mulai mengoleksi saham BUMI. Setelah itu seperti biasa akan terjadi penurunan tajam lagi dan balik lagi ke level Rp 50.

Sehingga, saran kami kepada pembaca Tagar, sebaiknya hindari membeli saham gocap seperti BUMI karena walaupun suatu saat mungkin harganya naik dari Rp 50, jika tidak didukung oleh kinerja perusahaan yang sehat, maka seperti kondisi sebelumnya, sangat mungkin harga saham BUMI akan kembali lagi ke level Rp 50. 

Kalaupun Anda mengharapkan untung dengan membeli saham gocap ini, pertanyaan berikutnya adalah kapan saham ini akan mulai digoreng? Hanya bandar dan Tuhan saja yang tahu, bisa setahun kemudian, bisa dua tahun kemudian atau mungkin saja di atas lima tahun lagi. Jangan sampai dana investasi Anda malah terjebak di saham yang seperti ini. []

*Yossy Girsang, Pengamat Ekonomi dan Praktisi Pasar Modal
Tim Ekonomi Tagar


Berita terkait
Ada Virus Corona, Ini Saatnya Investasi Saham
Kondisi pasar yang sedang lesu saat ini karena imbas virus corona Covid-19 merupakan kesempatan untuk berinvestasi di instrumen saham.
Dugaan Korupsi, Harga Saham Bank BTN Anjlok
Laba bersih Bank BTN (BBTN) pada 2019 sebesar Rp 209 miliar turun 92,5% dibanding tahun sebelumnya 2018 yakni Rp 2,81 triliun.
Buyback 12 Saham BUMN Harus Taktis
Wamen BUMN Kartika Wirjoatmodjo meminta pembelian kembali atau buyback saham 12 perseroan pelat merah dilakukan secara taktis.
0
DPR: Bukan Salah Pemerintah Jika Pemberangkatan Haji 2021 Batal
DPR menilai, bila tahun ini pemberangkatan jemaah haji kembali batal seperti tahun lalu, bukan menjadi kesalahan pemerintah Indonesia.