UNTUK INDONESIA
Risiko Utang Luar Negeri RI yang Kian Meningkat
Peneliti Indef Bhima Yudhistira menilai meningkatnya utang luar negeri (ULN) Indonesia memiliki risiko untuk ke depannya.
Ilustrasi Bantuan (Foto: Tagar/Pixabay)

Jakarta - Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira mengatakan risiko keuangan negara akan terus meningkat akibat utang luar negeri (ULN) pemerintah maupun swasta. Akibatnya, utang semakin menggerus cadangan devisa negara. 

"Defisit APBN yang terus melebar membuat pemerintah agresif mencari utang ke investor dan lembaga kreditur asing," kata Bhima saat dihubungi Tagar, Selasa, 27 Oktober 2020.

Jika kondisi makin tidak imbang, bukan tidak mungkin risiko turunannya rating utang hingga kesulitan pemerintah mencari sumber pembiayaan.

Baca juga: UU Cipta Kerja Bukan Solusi Utama Dongkrak Ekonomi

Di sisi lain, kata Bhima, yang perlu diperhatikan kemampuan bayar atau debt to service ratio (DSR) yang terus mengalami kenaikan menjadi 29,5 persen pada kuartal ke II 2020. Menurutnya, DSR yang meningkat berikmplikasi pada kenaikan utang berbentuk valas tidak diimbangi dengan pendapatan devisa ekspor dan sumber devisa lainnya.

"Jika kondisi makin tidak imbang, bukan tidak mungkin risiko turunannya rating utang hingga kesulitan pemerintah mencari sumber pembiayaan," ucapnya.

Bhima menjelaskan, saat ini berbeda dari krisis tahun 1998, yang pada saat itu krisisnya bersifat parsial, artinya banyak negara yang masih memiliki supply pinjaman luar negeri. Namun, kondisi di 2020, pandemi berdampak pada seluruh negara, sehingga kompetisi antar negara untuk mencari pinjaman semakin ketat.

"Jadi, selain kita akan diwarisi utang untuk generasi selanjutnya, bunga utang baru bisa makin memberatkan ruang fiskal. Ini kondisi yang menakutkan bagi keberlanjutan fiskal," ujar Bhima.

Baca juga: Kemenhub Dorong Pemulihan Ekonomi Sektor Transportasi

Sebelumnya, Indonesia tercatat menempati urutan ketujuh tertinggi dalam utang luar negeri diantara negara berpendapatan menengah dan rendah. Utang luar negeri Indonesia tercatat US$ 402 miliar atau setara Rp 1.412 triliun (International Debt Statistics 2021-Bank Dunia).

"Beban ULN Indonesia jauh lebih besar dari Argentina, Afrika Selatan, dan Thailand," tutur Bhima. []

Berita terkait
Utang RI Nomor 7 Tertinggi di Negara Berpendapatan Menengah
Pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wapres Maruf Amin tercatat menempati urutan ketujuh tertinggi dalam utang luar negeri.
Bank Indonesia Akui Utang Luar Negeri Indonesia Naik
Bank Indonesia menyebutkan, utang luar negeri Indonesia meningkat, yang akhir Agustus 2020 tercatat Rp 6.082,17 triliun.
Bamsoet Minta Sri Mulyani Hati-hati Kelola Utang Luar Negeri
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo atau Bamsoet meminta Menteri Keuangan Sri Mulyani untuk berhati-hati mengelola utang luar negeri.
0
Risiko Utang Luar Negeri RI yang Kian Meningkat
Peneliti Indef Bhima Yudhistira menilai meningkatnya utang luar negeri (ULN) Indonesia memiliki risiko untuk ke depannya.