Rezeki dari Bongkahan Batu Berlubang di Yogyakarta

Pandemi Covid-19 menyebabkan seorang pemuda di Yogyakarta harus dirumahkan dari tempatnya bekerja. Dia pun memulai usaha barunya menjual batu.
Aleander Heru, 30 tahun, sedang mengatur batu-batu karang jualannya, di rumahnya, Rabu, 24 Februari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Yogyakarta – Puluhan bongkah batu karang berserakan di sekitar salah satu rumah di kawasan Krapyak, Yogyakarta, tidak terlalu jauh ke sebelah timur Pasar Satwa dan Tanaman Yogyakarta (PASTY).

Di sudut-sudut garasi rumah milik Alexander Heru, 30 tahun, itu juga tergeletak beberapa bongkah batu karang dengan tekstur berlubang. Sementara, di halaman sisi kiri rumah, sejumlah pohon-pohon kerdil atau bonsai beragam jenis tertata rapi. Bongkahan-bongkahan batu karang juga ada di tempat itu.

Alex, sapaan akrab Alexander, menyapa ramah. Topi hitam bertengger menutupi rambutnya, satu anting-anting menghiasi telinga kiri pemuda yang telah memiliki tiga anak ini.

Dia menunjukkan bongkahan-bongkahan batu karang dan tanaman bonsai koleksinya, yang sekaligus merupakan barang dagangannya. Alex adalah penjual batu karang dan bibit bahan bonsai. Dia memulai usahanya menjual batu karang sejak setengah tahun terakhir, setelah kantor tempatnya bekerja melakukan pengurangan karyawan akibat pandemi Covid-19.

Karakter Batu yang Kuat

Alex mengisahkan, awalnya dia sama sekali tidak mempunyai pikiran untuk membuka usaha berdagang batu karang dan bibit bahan bonsai. Tapi seiring perkembangan waktu dan adanya peluang di bidang itu, dia pun memutuskan untuk berjualan.

Cerita Batu Karang 2Alexander Heru, 30 tahun, sedang mengatur batu-batu karang yang dijualnya, di rumahnya, Rabu, 24 Februari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Terlebih pedagang batu karang di sekitar Kota Yogyakarta cukup minim dan susah diperoleh, sehingga harganya pun cukup mahal. Alex pun mencari informasi mengenai penjual batu karang, dan dia mendapatkannya di Kabupaten Gunungkidul.

“Awalnya saya mulai dari hobi tanaman bonsai bergaya on the rock. Jadi awalnya saya beli batu eceran untuk mendukung hobi bonsai saya,” ucapnya saat ditemui di rumahnya, Rabu, 24 Februari 2021.

Sesekali tanaman bonsai yang sudah diletakkan di atas batu karang diunggahnya di media sosial. Tak jarang rekan-rekannya sesama penggemar bonsai mengomentari dan menanyakan tempat dia membeli batu karang.

Beberapa rekannya kadang-kadang juga datang ke rumah Alex untuk melihat langsung tanaman bonsai miliknya. Mereka pun tertarik saat melihat karakter batu karang milik Alex dan meminta tolong pada Alex untuk membelikan batu sejenis.

“Akhirnya saya putuskan untuk mencoba berjualan batu karang supaya ada kesibukan yang menghasilkan. Apalagi saya sempat menganggur karena perusahaan properti tempat saya bekerja ada pengurangan karyawan. Awalnya cuma 10 orang pengurangan, tapi akhirnya sampai 60 orang, termasuk saya.”

Alex pun menghubungi rekannya penjual batu karang yang tinggal di Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. 

“Saya mulai kulakan (beli) batu ke daerah Wonosari, Kabupaten Gunungkidul. Sampai saat ini sudah sekitar setengah tahun saya berjualan batu karang,” kata Alex melanjutkan.

Waktu pertama kali membeli batu karang di Wonosari, Alex membeli sebanyak satu mobil. Dia harus melipat kursi tengah dan belakang mobilnya agar bisa digunakan untuk mengangkut batu karang.

Tapi kalau ambil banyak untuk dijual lagi, kan nggak adil juga untuk warga di sana.

Cerita Batu Karang 3Alexander Heru, 30 tahun memperbaiki posisi tanaman bonsainya, Rabu, 24 Februari 2021. Dia menjual batu karang berawal dari hobinya pada tanaman bonsai. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

“Pertama kali kulakan saya ambil satu mobil. Sekarang pengambilannya tidak tentu, satu mobil Colt (pikap) kadang seminggu baru habis, kadang tiga hari sudah habis,” ujarnya lagi.

Alex mengaku tidak mengambil langsung bebatuan itu dari laut atau pantai. Setidaknya ada dua alasan dia tidak melakukan hal itu. Pertama, untuk mencari dan mengumpulkan batu karang di pantai membutuhkan waktu yang cukup lama.

“Kedua, semua kan ada aturannya. Kalau saya ke sana ambil batu sendiri, yang lahannya merupakan milik warga setempat, mereka pasti marah. Kalau misalnya ambil cuma sebongkah atau dua bongkah batu, mungkin masih bisa. Tapi kalau ambil banyak untuk dijual lagi, kan nggak adil juga untuk warga di sana.”

“Ibaratnya sampeyan punya tanah, terus tanahnya tak keruk untuk tak jual, kan pasti marah,” kata Alex menambahkan.

Saat ini setiap hari pasti ada pelanggan yang datang ke rumahnya untuk membeli batu karang. Pembeli terjauh berasal dari Kabupaten Purworejo dan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Pembeli dari Purworejo awalnya datang hanya untuk survei, ternyata mereka cocok dengan karakter batu dan harganya, akhirnya mereka membeli dalam jumlah cukup banyak, karena mau dijual kembali.

Ogah Mangkal di Pinggir Jalan

Alex menawarkan batu-batu karang miliknya melalui akun media sosial. Biasanya para pembeli yang datang ke rumahnya untuk memilih batu. Saat ditanya niatnya untuk menjual dengan cara mangkal di pinggir jalan, Alex mengaku dia tidak berminat untuk menjual dengan cara seperti itu.

Cerita Batu Karang 4Alexander Heru, 30 tahun, memperbaiki letak salah satu tanaman bonsai yang dipasangnya di atas batu karang, Rabu, 24 Februari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

“Sekarang kan sudah mulai banyak yang kenal bahwa di sini jual batu karang, apalagi saya jual juga harganya agak lebih miring dari yang ada, istilahnya ini cuma buat srawung (bergaul), buat tambah teman. Saya tidak menjual dengan sistem mangkal di pinggir jalan, karena saat ini kan masih dalam kondisi pandemi. Saya khawatirnya justru akan menimbulkan kerumunan,” ucap Alex menguraikan alasannya.

Terlebih saat penerapan PPKM beberapa waktu lalu, berlaku pembatasan waktu kegiatan. Dia pernah mencoba menjual dagangannya di salah satu tempat di Sleman, tapi sebelum pukul 19.00 sudah disuruh bubar.

“Akhirnya saya menjual di rumah, teman pada datang. Kayak begitu kan istilahnya getok tular (dari mulut ke mulut). Misalnya sampeyan ambil dari saya, terus ada yang lihat, nah dari mulut ke mulut itu mereka datang ke sini.”

Harga batu karang yang dijualnya beragam, tergantung dari ukuran dan karakter atau bentuk batu. Dia menjualnya mulai harga Rp 10 ribu per tiga bongkah ukuran kecil hingga Rp 50 ribu per bongkah ukuran besar.

. Sejumlah rekannya yang merupakan penggemar ikan hias tertarik pada batu-batu karang jualannya, dan memintanya untuk menyetting akuariumnya.Berawal dari bisnis menjual batu karang tersebut, Alex mendapatkan peluang lain, yakni pembuatan atau setting aquascape. Sejumlah rekannya yang merupakan penggemar ikan hias tertarik pada batu-batu karang jualannya, dan memintanya untuk menyetting akuariumnya.

“Jadi awalnya ada teman yang hobi ikan, pas ambil batu dari saya kok ndilalah (kebetulan) masuk. Dia cocok sama karakter batunya yang bagus. Akhirnya dari situ ada link juga untuk setting aquascape, dari Prambanan, dari Kulon Progo, mereka minta disettingkan atau sekadar beli batu.”

Cerita Batu Karang 5Alexander Heru, 30 tahun, di antara batu-batu karang dan bibit bahan bonsai koleksinya, di rumahnya, Rabu, 24 Februari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Untuk setting aquascape, biasanya Alex mulai menyetting dari rumahnya. Dia menanyakan ukuran tank pelanggan, kemudian mengira-ngira ukuran batu karang yang cocok. Setelah itu dia berangkat ke rumah pelanggan dengan mambawa batu yang sudah disiapkannya.

Mengenai tarif atau uang jasa setting aquascape, Alex mengatakan dirinya tidak pernah mematok harga. Dia menghitungnya dari harga batu karang yang digunakan.

“Saya kan hitungnya dari batu. Misalnya saya menggunakan batu yang harga Rp 10 ribu per bongkah, kalau pakai empat batu ya harganya Rp 40 ribu, kadang saya bulatkan jadi Rp 50 ribu untuk uang bensin. Biasanya mereka menambah,” tuturnya lagi.

Selain setting aquascape, tak jarang para pembeli batu karangnya juga melihat-lihat bibit dan bahan bonsai miliknya. Jika mereka tertarik, biasanya mereka sekalian membelinya.

“Ada kimeng, asam Jawa, kawista batu, serut, murbei. Kalau kawista batu saya menyemai sendiri dari biji. Saya semaikan di Kutoarjo, jadi saya bawa ke Jogja untuk dibisniskan. Saya menyemai ribuan batang, kurang lebih 7 ribu batang.”

Harga bibit tanaman yang dijualya juga beragam, tergantung pada ukuran dan jenis tanaman serta karakternya. Bibit kawista batu dijual seharga Rp 12 ribu per batang, tapi ada harga khusus untuk pembeli dalam jumlah banyak atau untuk dijual kembali.

“Kalau kimeng saya jual bibit mulai Rp 15 ribu sampai Rp 300-an ribu. Kalau serut saya jual bahan saja, harganya kisaran Rp 50 ribu.”

Dihubungi terpisah, seorang penggemar bonsai, Darto, 35 tahun, mengaku dirinya baru mengetahui adanya penjual batu karang itu. Biasanya dia membeli batu karang di penjual tanaman.

“Memang agak susah kalau mau cari batu karang untuk on the rock. Kadang saya cari sendiri sampai ke Gunungkidul, kadang beli juga di penjual tanaman. Itu pun belum tentu ada,” ucapnya.

Kata Darto, batu karang memang merupakan salah satu properti yang dibutuhkan oleh para penggemar bonsai. Sehingga dengan adanya penjual batu karang seperti itu, dia lebih mudah untuk membentuk dan mereka-reka bonsai koleksinya. []

Berita terkait
Tradisi Uang Panai pada Pernikahan di Sulawesi Selatan
Dalam tradisi masyarakat Bugis Makassar dikenal adanya uang panai. Sejarawan Unhas menjelaskan tentang filosofi uang panai.
Mental Jawara Ayam Petarung di Yogyakarta dan Perawatannya
Seorang peternak ayam petarung di Yogyakarta menceritakan hal-hal yang bisa dicontoh dari ayam-ayam aduan tersebut.
Jumat Kelabu di Kediaman Pendiri Tagar.id Viktor S Sirait
Langit kelabu memayungi perumahan keluarga pendiri Tagar.id Viktor S. Sirait di Cibinong, Jumat itu. Tanah basah menghampar, jejak hujan pagi.
0
Efek Lockdown Malaysia, Honda dan Toyota Tangguhkan Produksi
Honda dan Toyota menyetop produksi kendaraan mereka di Malaysia, setelah negara tersebut me-lockdown wilayahnya 2 Pekan akibat pandemi Covid-19.